5 Mitos Seputar Vaksin yang Sering Dikhawatirkan Orangtua

Mitos ini sering didengar orangtua sehingga menolak pemberian vaksin pada bayi

12 Desember 2019

5 Mitos Seputar Vaksin Sering Dikhawatirkan Orangtua
Freepik

Banyak orang tua khawatir tentang bahaya akibat efek samping dari vaksin, tetapi sering kekhawatiran ini hanyalah mitos.Vaksin melindungi dari penyakit berbahaya dan mematikan. Karena itu, sangat penting bagi bayi untuk mendapatkan vaksin sesuai jadwal.

Meskipun sekitar 80 dan 90 persen bayi mendapatkan vaksin, namun  masih ada orangtua yang memilih untuk tidak memberikan vaksin kepada bayinya. Ini dapat meningkatkan risiko wabah penyakit pada bayi di masa depan. Misalnya wabah campak memengaruhi banyak orang. Jika vaksin MMR (campak, gondong, rubela) tidak ada, dapat dibayangkan berapa banyak kasus yang bermunculan.

Orangtua ini biasanya khawatir tentang "bahaya vaksinasi," meskipun ada banyak bukti bahwa kekhawatiran itu hanya mitos.

Untuk menghilangkan kekhawatiran Mama, Popmama.com mengulas beberapa kekhawatiran yang umum tentang vaksin.

1. "Vaksin akan membebani sistem kekebalan bayi"

1. "Vaksin akan membebani sistem kekebalan bayi"
Freepik/lifeforstock

Orangtua yang lahir pada 1970-an dan 1980-an divaksinasi terhadap delapan penyakit. Sementara bayi sekarang mendapatkan suntikan lebih banyak sehingga terlindungi dari hampir 2 kali lipat lebih banyak jenis penyakit.

Namun bukan jumlah suntikan yang penting tetapi apa yang ada di dalamnya. Antigen adalah komponen virus atau bakteri dari vaksin yang mendorong sistem kekebalan untuk membangun antibodi dan melawan infeksi di masa depan.

Bayi terpapar bakteri yang tak terhitung jumlahnya setiap hari dan sistem kekebalan mereka sudah siap untuk menangani antigen dalam vaksin, kata Matthew Daley, M.D. seorang dokter anak di Kaiser Permanente di Colorado.

Misalnya, bayi terkena bakteri setiap kali mereka mengisap tangan, menyentuh lantai, dan bersentuhan dengan orang lain. "Bayi mengatasi ratusan bahkan ribuan kuman yang berbeda setiap hari. Vaksin tidak ada bandingannya dengan ini," kata Dr. Daley.

Sebagai seorang dokter spesialis penyakit menular, ia tidak menemukan infeksi pada bayi dan anak setelah mereka mendapatkan vaksin rutin yang terjadi jika sistem kekebalan tubuh mereka terbebani.

Editors' Picks

2. "Sistem kekebalan bayi belum sempurna, sebaiknya menunda vaksin"

2. "Sistem kekebalan bayi belum sempurna, sebaik menunda vaksin"
Freepik/Zilvergolf

Ini adalah kesalahpahaman utama terkait vaksin, kata Dr. Halsey. Akibat kesalahpahaman ini, terjadi periode kerentanan yang berkepanjangan terhadap penyakit seperti campak. Dalam kasus MMR, menunda vaksin hingga tiga bulan meningkatkan risiko kejang.

Tidak ada bukti bahwa menunda vaksin akan lebih aman untuk bayi. Jadwal vaksin dirancang untuk memberikan perlindungan semaksimal mungkin untuk bayi.

3. "Vaksin hanyalah cara bagi perusahaan farmasi dan dokter untuk menghasilkan uang"

3. "Vaksin hanyalah cara bagi perusahaan farmasi dokter menghasilkan uang"
Freepik/Jcomp

Perusahaan farmasi tentu mendapat untung dari vaksin, tetapi vaksin bukan obat-obatan terlaris. Selain itu juga masuk akal bagi perusahaan farmasi untuk menghasilkan uang dari produk mereka, sama seperti produsen mobil mendapatkan keuntungan dari produk mereka.

Dokter anak juga tidak mendapat untung dari vaksin. "Kebanyakan praktik bahkan tidak menghasilkan uang dari vaksin," kata Nathan Boonstra, M.D., seorang dokter anak di rumah sakit anak di Des Moines. Faktanya, beberapa orang merasa terlalu mahal untuk membayar vaksin bagi bayi.

4. "Efek samping dari beberapa vaksin tampak lebih buruk daripada penyakit yang sebenarnya"

4. "Efek samping dari beberapa vaksin tampak lebih buruk daripada penyakit sebenarnya"
Pixabay/Tammydz

Agar disetujui, vaksin harus melewati keempat fase pengujian keselamatan dan efektifitas, ini membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun dan banyak penelitian. Setiap vaksin baru yang ditujukan untuk bayi pertama kali diuji pada orang dewasa, kemudian pada bayi. Semua merek dan formulasi baru harus melalui proses yang sama.

Tidak ada agensi atau perusahaan yang akan menginvestasikan uang itu dalam vaksin yang menyebabkan masalah kesehatan yang lebih buruk daripada yang mencegahnya. Semua penyakit berhubungan dengan komplikasi serius yang dapat menyebabkan rawat inap atau bahkan kematian. Bahkan cacar air, yang biasa terjadi beberapa dekade yang lalu, membunuh sekitar 100 anak per tahun sebelum vaksin varicella diperkenalkan. Dan itu adalah penyebab utama necrotizing fasciitis, atau infeksi bakteri pemakan daging.

Sebagian orangtua mengatakan bahwa nutrisi yang baik akan membantu bayi melawan infeksi ini, tetapi seringkali tidak demikian. Bayi dan anak yang sehat berisiko mengalami komplikasi serius dan kematian akibat penyakit ini.

Memang benar bahwa ada efek samping vaksin pada vaksin, namun efek samping yang serius jarang ditemukan. Alih-alih mengkhawatirkan efek samping yang kecil, pertimbangkan pentingnya vaksinasi untuk mencegah efek samping yang lebih serius, seringkali fatal, dari penyakit.

5. "Vaksin mengandung racun seperti merkuri, aluminium, formaldehid, dan antibeku"

5. "Vaksin mengandung racun seperti merkuri, aluminium, formaldehid, antibeku"
Freepik

Vaksin kebanyakan mengandung air dengan antigen, tetapi juga membutuhkan bahan tambahan untuk menstabilkan larutan atau meningkatkan efektivitas vaksin.

Orangtua khawatir tentang merkuri karena beberapa vaksin sebelumnya mengandung thimerosal pengawet, yang terurai menjadi etilmerkuri. Para peneliti sekarang tahu bahwa ethylmercury tidak menumpuk di dalam tubuh. Thimerosal juga telah dikeluarkan dari semua vaksin bayi sejak tahun 2001 "sebagai tindakan pencegahan," kata Dr. Halsey.

Vaksin memang mengandung garam aluminium untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh, merangsang produksi antibodi yang lebih besar dan membuat vaksin lebih efektif. Meskipun aluminium dapat menyebabkan kemerahan atau pembengkakan yang pada bekas suntikan, jumlah kecil aluminium dalam vaksin tidak memiliki efek jangka panjang.

Jumlah jejak formaldehyde juga mungkin ada dalam beberapa vaksin untuk menonaktifkan potensi kontaminasi. Tetapi manusia terkena formaldehida ratusan kali lebih banyak dari sumber lain, seperti buah dan bahan isolasi. Tubuh kita bahkan secara alami menghasilkan lebih banyak formaldehida daripada yang ada dalam vaksin, kata Dr. Halsey.

Mitos apa yang sering didengar oleh Mama tentang vaksin? 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.