Popmama.com/Sofya Wardhani/AI
Melansir laman resmi Universitas Airlangga, Pakar paru UNAIR, Dr. dr. Alfian Nur Rosyid, SpP(K), FAPSR, FCCP, FISR, mengingatkan orangtua untuk melakukan langkah perlindungan di rumah guna mengurangi paparan asap. Berikut langkah yang dapat Mama lakukan:
Batasi asap masuk ke rumah. Tutup pintu dan jendela saat asap di luar pekat, serta gunakan penyaring udara jika tersedia. Hindari merokok dan membakar sampah di sekitar rumah karena dapat menambah polusi udara.
Hindari penggunaan masker pada bayi di bawah dua tahun. Perlindungan sebaiknya difokuskan pada lingkungan, bukan wajah bayi, karena masker berisiko menghambat jalan napasnya.
Pantau kualitas udara sebelum keluar rumah. Periksa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan batasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara tidak sehat. Sebaiknya bayi tidak dibawa keluar ketika paparan asap tinggi.
Pastikan kebutuhan cairan anak terpenuhi. Lanjutkan pemberian ASI pada bayi yang masih menyusu dan berikan air putih kepada anak sesuai usianya.
Bantu membersihkan hidung yang tersumbat. Larutan garam fisiologis atau NaCl 0,9% dapat digunakan untuk membantu membersihkan lendir di hidung. Selain itu, mandi air hangat juga dapat membantu membuat anak merasa lebih nyaman.
Berikan perhatian khusus pada anak dengan kondisi medis tertentu. Anak yang lahir prematur, memiliki asma, atau mengalami kelainan jantung berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat paparan asap. Konsultasikan dengan dokter jika muncul keluhan.
Segera cari pertolongan saat muncul tanda bahaya. Jangan menunda pemeriksaan jika anak mengalami sesak, bibir kebiruan, sangat lemas, sulit dibangunkan, atau menolak menyusu dan minum.
Nah, itu dia informasi selengkapnya mengenai tanda-tanda bahaya akibat paparan asap karhutla pada bayi dan anak yang perlu diwaspadai orangtua.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya, Ma.