7 Kebiasaan yang Membuat Anak Kekurangan Gizi, Sering Disepelekan

- Artikel menyoroti pentingnya pemenuhan gizi bayi sejak dini dan menjelaskan bahwa kekurangan gizi bisa terjadi meski berat badan anak tampak normal.
- Dijelaskan tujuh kebiasaan yang dapat memicu kekurangan gizi, seperti pemberian ASI dan MPASI tidak sesuai usia, menu makan tidak seimbang, serta konsumsi camilan manis berlebihan.
- Penulis menekankan pentingnya jadwal makan teratur, peka terhadap tanda lapar-kenyang anak, menghindari distraksi layar saat makan, serta menjaga kebersihan alat makan untuk mencegah gangguan penyerapan nutrisi.
Memenuhi kebutuhan gizi bayi menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan orangtua agar tumbuh kembangnya berjalan optimal. Tanpa disadari, ada sejumlah kebiasaan sehari-hari yang justru dapat membuat bayi berisiko mengalami kekurangan gizi.
Kekurangan gizi tidak selalu ditandai dengan tubuh yang sangat kurus. Bayi yang terlihat aktif dan memiliki berat badan normal pun bisa saja mengalami kekurangan zat gizi tertentu apabila pola makan dan kebiasaan hariannya kurang tepat.
Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, pertumbuhan, daya tahan tubuh, hingga kemampuan belajar si Kecil dapat ikut terpengaruh.
Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali berbagai kebiasaan yang dapat memicu kekurangan gizi sejak dini. Lantas, apa saja kebiasaan yang dapat membuat anak mengalami kekurangan gizi?
Berikut Popmama.com telah merangkum informasinya.
Table of Content
1. Mama tidak memberikan ASI eksklusif dan MPASI sesuai usia

Pada enam bulan pertama kehidupan, ASI merupakan sumber nutrisi utama yang mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan gizi bayi. Setelah memasuki usia enam bulan, bayi mulai membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI).
Jika bayi mendapatkan ASI eksklusif secara terlambat maupun terlalu dini menerima MPASI, risiko kekurangan gizi bisa meningkat. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memberikan ASI dan MPASI sesuai rekomendasi usia agar pertumbuhan bayi tetap optimal.
Apabila bayi telalu cepat mendapatkan MPASI, pencernaan bayi belum siap, sehingga penyerapan nutrisi tidak sempurna dan berisiko membuat bayi diare. Untuk di atas enam bulan, ASI saja sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan zat besi dan kalori si Kecil.
Menunda MPASI bisa langsung memicu berat badan seret (weight faltering).
2. Memberikan MPASI atau makanan dengan menu yang tidak seimbang

Sebagian orangtua masih beranggapan bahwa bubur atau nasi saja sudah cukup untuk bayi. Padahal, MPASI sebaiknya mengandung karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, buah, serta lemak sehat agar kebutuhan gizinya terpenuhi.
Jika bayi terlalu sering mengonsumsi menu yang didominasi satu jenis makanan, ia berisiko kekurangan protein, zat besi, zinc, maupun vitamin penting lainnya. Variasikan menu MPASI setiap hari agar bayi memperoleh nutrisi yang lengkap.
3. Terlalu sering memberikan camilan atau minuman manis

Saat bayi mulai mengenal makanan keluarga, sebagian orangtua memberikan biskuit, jus kemasan, atau makanan manis sebagai camilan. Padahal, makanan tersebut cenderung tinggi gula, tetapi rendah zat gizi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.
Kebiasaan ini juga membuat anak cepat kenyang, sehingga nafsu makannya saat waktu makan utama berkurang. Akibatnya, asupan nutrisi penting yang seharusnya diperoleh dari makanan bergizi menjadi tidak tercukupi.
4. Memaksa atau justru membiarkan anak melewatkan waktu makan

Waktu makan yang tidak teratur dapat memengaruhi jumlah nutrisi yang diterima anak setiap harinya. Ada anak yang dipaksa makan hingga menangis, tetapi ada pula yang dibiarkan begitu saja ketika menolak makan tanpa dicari penyebabnya.
Sebaiknya, orangtua menerapkan jadwal makan yang konsisten dan menciptakan suasana makan menyenangkan bagi si Kecil. Jika anak sedang mengalami GTM (gerakan tutup mulut), cobalah menawarkan variasi menu atau tekstur makanan tanpa memaksanya.
5. Tidak memerhatikan tanda lapar dan kenyang pada anak

Setiap anak memiliki kemampuan untuk memberi sinyal ketika lapar maupun kenyang. Namun, jika orangtua kurang peka terhadap tanda-tanda tersebut, anak bisa memperoleh asupan makanan yang kurang atau justru berlebihan.
Memahami responsive feeding dapat membantu anak makan sesuai kebutuhannya. Dengan cara ini, kebutuhan energi dan nutrisi lebih mudah terpenuhi sekaligus membangun kebiasaan makan yang sehat sejak dini.
6. Makan sambil main gadget atau menonton TV (Screen Time)

Menyuapi anak sambil menonton YouTube atau video memang sering menjadi 'jalan ninja' bagi sebagian orangtua agar bayi lebih anteng saat makan.
Meski terlihat efektif, kebiasaan ini sebaiknya tidak dijadikan rutinitas karena dapat mengganggu proses belajar makan bayi.
Saat perhatian bayi teralihkan ke layar, ia cenderung makan secara tidak sadar (mindless eating). Bayi menjadi kurang peka terhadap rasa lapar dan kenyang, tidak fokus mengunyah, serta kurang menikmati tekstur dan rasa makanan yang dikonsumsi.
Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat memengaruhi pola makan sehat, proses pencernaan, hingga penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.
7. Kurang menjaga kebersihan alat makan dan tangan anak

Memastikan makanan anak bergizi saja tidak cukup, Ma. Kebersihan tangan orangtua saat menyiapkan makanan maupun kebersihan alat makan si Kecil juga berperan penting dalam menjaga status gizinya.
Jika kebersihan kurang diperhatikan, bakteri dan kuman penyebab penyakit bisa dengan mudah berpindah ke makanan yang dikonsumsi anak. Kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum menyiapkan atau menyuapi makanan, serta menggunakan alat makan yang kurang bersih, dapat meningkatkan risiko diare dan infeksi saluran pencernaan.
Saat anak sering mengalami diare, tubuhnya akan kehilangan banyak cairan dan nutrisi, sehingga penyerapan gizi menjadi tidak optimal. Akibatnya, berat badan anak bisa sulit naik dan risiko kekurangan gizi pun semakin besar.
Itu dia beberapa kebiasaan yang membuat anak kekurangan gizi. Kira-kira poin mana yang paling sering jadi tantangan buat Mama di rumah saat menyuapi si Kecil?


















