8 Hal yang Perlu Diketahui tentang Ubun-ubun Bayi

Ubun-ubun yang berdenyut, benarkah bisa bolong jika ditekan?

1 Maret 2019

8 Hal Perlu Diketahui tentang Ubun-ubun Bayi
Freepik

Ubun-ubun bayi atau juga dikenal dengan istilah soft spot mungkin merupakan bagian bayi yang paling ‘mengerikan’ untuk orang dewasa. Bagaimana tidak, ubun-ubun bayi terus berdenyut kembang kempis dan terlihat lunak, sangat jauh berbeda dengan kepala orang dewasa yang keras sempurna.


Melihat ubun-ubun bayi yang masih lunak dan berdenyut ini, orangtua pasti takut karena khawatir satu kesalahan saja bisa melukai kepalanya. Padahal, faktanya ubun-ubun ini tidak semenakutkan itu lho, Ma.
Untuk meningkatkan kewaspadaan Mama akan ubun-ubun bayi, khususnya bayi baru lahir, simak beberapa fakta penting berikut ini yuk, Ma.

1. Ubun-ubun bayi sangat lembut dan akan selalu berdenyut

1. Ubun-ubun bayi sangat lembut akan selalu berdenyut
Freepik

Ubun-ubun, soft spot, atau fontanelle pada bayi baru lahir ini tidak hanya lembut, tetapi juga lunak dan selalu berdenyut. Ini akan terus lunak sampai tengkoraknya sudah terbentuk sempurna.

Ubun-ubun, memang tercipta lunak untuk memudahkan bayi melewati jalan lahir. Jika tengkorak kepala bayi sudah terbentuk keras, tentu Mama tidak akan mudah mengejan dan mendorong bayi keluar dari rahim. Ubun-ubun memungkinkan tengkorak beradaptasi dengan jalan lahir yang sempit dan tetap melindungi otak yang lunak dari cedera parah saat lahir. 

Apakah ubun-ubun ini benar-benar berdenyut? Sebenarnya ini tidak aktif, namun otak di baliknya tentu saja sangat aktif. Yang membuat Mama melihatnya berdenyut adalah peredaran darah bayi yang dipompa dari jantung ke seluruh tubuhnya.

2. Ubun-ubun akan berhenti berdenyut di usia 6-18 bulan

2. Ubun-ubun akan berhenti berdenyut usia 6-18 bulan
Freepik

Biasanya, kepala bayi baru lahirlah yang terlihat sangat berdenyut. Namun seiring bertambahnya usia si Kecil, ubun-ubun ini akan mulai mengeras dan tidak terlihat berdenyut lagi.

Sang Pencipta memang sangat jenius! Ubun-ubun ini akan terus lunak (terbuka) selama anak membutuhkannya, dan mulai menutup ketika anak mulai bisa berdiri sendiri.

Ini biasanya terjadi ketika anak berusia 9 sampai 18 bulan, namun bisa mulai sedikit menutup di usia 6 bulan. Semuanya tergantung pada tumbuh kembang anak Mama, dan kesiapan tulangnya.

3. Sebenarnya tengkorak kepala bayi memiliki 6 ubun-ubun!

3. Sebenar tengkorak kepala bayi memiliki 6 ubun-ubun
Freepik

Mama hanya melihat ada 1 ubun-ubun? Salah! Sebenarnya ada 6 ubun-ubun di kepala bayi. Satu ubun-ubun di bagian teratas kepala bayi memang yang paling mudah terlihat, itu disebut dengan anterior fontanelle. Namun selain itu, ternyata ada 5 lainnya lho, Ma.

Di mana sih letak ubun-ubun lainnya? Lima ubun-ubun lainnya terletak di sekujur tengkorak bayi, seperti benua dan samudera yang menutupi peta. Empat ubun-ubun dengan cepat menyatu, disusul dengan ubun-ubun kelima, dan terakhir yang menutup adalah anterior fontanelle.

4. Ubun-ubun luas bisa menjadi pertanda hipertiroid!

4. Ubun-ubun luas bisa menjadi pertanda hipertiroid
Freepik

Ubun-ubun memang menarik untuk diamati, karena itu juga bisa menjadi indikator beberapa masalah kesehatan pada bayi. Salah satunya adalah congenital hypothyroidism, di mana hormon tiroid sudah ada sejak bayi baru lahir.

Masalah kesehatan ini sulit dikenali, dan hanya bisa terdeteksi dengan melakukan pemeriksaan darah. Jika bayi tidak dites darah, maka anterior fontanelle bisa menjadi cara mudah mengetahuinya.

Ciri bayi baru lahir mengalami hipertiroid adalah ubun-ubunnya luas atau besar. Jika dibiarkan saja, kondisi ini bisa menyebabkan bayi gagal tumbuh lho, Moms.

Editors' Picks

5. Ubun-ubun bayi prematur lebih luas

5. Ubun-ubun bayi prematur lebih luas
Freepik/Freepic.diller

Mengurus bayi prematur memang penuh tantangan, salah satunya adalah ubun-ubun yang lebih luas dibanding bayi lahir cukup bulan. Penyebabnya? Sepertinya cukup jelas, yaitu karena bayi prematur lahir terlalu cepat, sehingga ia belum sempurna tumbuh di dalam perut Mama.

Tulang dan tengkorak bayi tidak tumbuh dengan cepat, namun cukup cepat jika bayi Mama lahir cukup bulan, ini juga berlaku pada pertumbuhan area ubun-ubunnya.

Apakah ukuran lebih luas ini berbahaya? Tidak perlu khawatir berlebih, hanya saja perawatannya memang harus lebih ekstra ya, Ma.

6. Tanpa ubun-ubun, otak bayi tidak bisa tumbuh

6. Tanpa ubun-ubun, otak bayi tidak bisa tumbuh
Pixabay/smpratt90

Mama harus tahu, kalau pertumbuhan otak bayi baru lahir sampai umur 2 tahun adalah yang tercepat! Nah, ubun-ubun yang masih lunak ini memungkinkan tengkoraknya untuk ‘lentur’ dan ikut bertumbuh seiring bertambah besarnya otak bayi.

Bayangkan jika tempurung kepala bayi baru lahir sudah keras seperti orang dewasa, berarti tidak ada ‘ruang’ lagi untuk otak bayi tumbuh dong, Ma? Itulah sebabnya tengkorak bayi masih lunak, agar selalu ada ‘ruang’ fleksibel yang mengikuti pertumbuhan otak si Kecil.

7. Ubun-ubun cekung pertanda bayi dehidrasi

7. Ubun-ubun cekung pertanda bayi dehidrasi
Freepik

Cara mudah mengenali bayi kekurangan cairan adalah mengecek ubun-ubunnya. Jika ubun-ubun bayi cekung dan tidak terlalu berdenyut, maka itu menandakan si Kecil kekurangan cairan, khususnya ASI.

Dehidrasi pada bayi bisa terjadi sangat cepat, terutama ketika air yang keluar dari tubuh bayi jauh lebih banyak dibanding yang masuk. Contohnya adalah ketika bayi sedang diare, maka besar kemungkinan ubun-ubun bayi akan cekung ke dalam.

8. Ubun-ubun cembung bisa menjadi tanda masalah

8. Ubun-ubun cembung bisa menjadi tanda masalah
Freepik/chainfoto24

Jika cekung bisa menandakan bayi dehidrasi, ubun-ubun cembung atau menonjol keluar pun bisa jadi tanda bayi mengalami masalah kesehatan, Ma.

Ketika ubun-ubun bayi cembung dan terasa lebih lembut dibanding biasanya, maka ini bisa jadi tanda terjadi pembengkakan pada otak bayi, atau terjadi penumpukan cairan di otaknya.

Kalau sudah begini, otak bayi bisa tertekan hingga terjadi kerusakan pada otak. Walau jarang terjadi, namun ubun-ubun cekung ini bisa jadi tanda hidrosefalus, encefalitis, meningitis, atau shaken baby syndrome.

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!