Bayi Sering Tersedak saat Menelan, Waspada Disfagia

Disfagia menyebabkan bayi tersedak hingga tidak mendapatkan nutrisi cukup untuk tumbuh kembangnya

25 Mei 2021

Bayi Sering Tersedak saat Menelan, Waspada Disfagia
Unsplash/life is fantastic

Ketidakmampuan bayi dalam menelan bisa menjadi masalah yang tak bisa disepelekan begitu saja. Gangguan menelan pada bayi disebut dengan disfagia. Disfagia dapat menyebabkan bayi tersedak hingga tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembangnya. 

Berikut ini Popmama.com merangkum informasi seputar disfagia pada bayi, penyebab, dan cara menanganinya, dilansir dari Pediatric Ent of Oklahoma:

Penyebab Disfagia pada Bayi

Penyebab Disfagia Bayi
Freepik

Masalah jangka pendek dapat dikaitkan dengan sesuatu seperti obat-obatan yang membuat bayi tidur dalam waktu lama untuk mengatasi rasa laparnya. Kasus lain bisa disebabkan karena asam lambung atau masalah pencernaan lain yang memerlukan intervensi medis.

Masalah pernapasan juga dapat menjadi faktor penyebab disfagia pada bayi, seperti asma. Adapun masalah struktural seperti celah bibir atau langit-langit, masalah kepala dan lemah otot pada leher. 

Dalam kasus yang jarang terjadi, masalah disfagia dipicu oleh gangguan sistem saraf, penyakit jantung, dan autisme yang memengaruhi proses menelan. 

Editors' Pick

Jenis Disfagia pada Bayi

Jenis Disfagia Bayi
Unsplash/lwolski

Gangguan menelan pada bayi muncul dalam satu atau lebih tiga tahap proses makan ini:

1. Tahap lisan

Pada tahapan ini bayi mengalami kesulitan mengisap atau memindahkan cairan ke tenggorokan. Bayi yang lebih besar kesulitan mengunyah atau tidak bisa memindahkan makanan padat di dalam mulutnya. 

2. Tahap faring

Untuk memindahkan makanan, bayi harus 'memeras' cairan ke dalam tenggorokannya. Tahapan ini membutuhkan penutupan jalan napas. Apabila bayi tidak mampu melakukannya, terjadilah batuk dan tersedak. 

3. Tahap esofagus

Saat makanan berhasil sampai ke tenggorokan, maka makanan harus berpindah ke perut. Apabila tidak, maka bayi bisa muntah.

Gejala Disfagia

Gejala Disfagia
Freepik/jcomp

Bayi mama tidak bisa memberitahu apa yang salah, tetapi perilakunya bisa menunjukkan gejala-gejala disfagia. Gejala-gejala tersebut antara lain: 

  • Bayi kesulitan bernapas ketika sedang menyusu atau minum dari botolnya,
  • berulangkali batuk dan tersedak saat makan,
  • meludah saat makan atau muntah setelah makan. Air liur bisa menjadi indikasi kurangnya refleks menelan pada bayi,
  • cairan yang ke luar dari mulut atau hidung saat menyusui,
  • melengkungkan punggung saat menyusu.

Gejala-gejala lainnya tidak begitu jelas, tetapi selama menyusu mungkin bayi menjadi lebih rewel atau terus-menerus menangis. Ia mungkin juga tertidur atau makan lebih lambat daripada bayi lainnya pada usia yang sama. 

Saat bayi bertumbuh semakin besar, bayi yang mengalami disfagia mungkin mengalami kesulitan mengunyah.

Bahaya Gangguan Menelan pada Bayi

Bahaya Gangguan Menelan Bayi
Pexels/yankrukov

Ketika makanan atau cairan memasuki saluran napas bayi, tersedak adalah bahaya yang fatal. Tersedak dapat menyebabkan masalah lain seperti pneumonia dan infeksi paru-paru. 

Gangguan menelan ini juga dapat menyebabkan bayi mengalami dehidrasi ketika bayi tidak mau minum atau tidak dapat menahan cairan yang ditelannya. Bahaya lain yang mengintai adalah malnutrisi yang merupakan masalah besar bagi anak-anak penderita disfagia.

Apabila gangguan menelan ini diderita oleh bayi yang lahir prematur, maka akan menambah masalah tumbuh-kembangnya. Gangguan menelan pada bayi menyebabkan ketidakmampuan belajar jika tidak diketahui sejak dini dan ditangani dengan tepat, karena mereka yang tidak dapat menyerap nutrisi dengan baik tidak akan mencapai tonggak perkembangannya.

Penanganan untuk Disfagia

Penanganan Disfagia
Freepik

Diperlukan pemeriksaan diagnostik menyeluruh terhadap masalah yang diderita bayi mama. Ada berbagai pendekatan, tergantung pada kebutuhan mendesak dan kebutuhan jangka panjang. 

Terapi pemberian makan berfokus pada bagaimana mengajari anak mengisap atau bernapas sambil mengisap. Sementara itu, terapi okupasi direkomendasikan untuk memberi makan atau menelan dengan mengoptimalkan gerakan lidah atau mengunyah. 

Orangtua akan diajari bagaimana strategi perilaku, posisi makan yang nyaman untuk bayi, serta pengaturan diet dan nutrisi untuk bayi yang menderita disfagia agar kebutuhan gizinya tetap bisa terpenuhi dengan keterbatasan yang dimiliknya. 

Jika bayi mama tampak mengalami tanda dan gejala disfagia, jangan ditunda. Segera konsultasikan masalah ini dengan dokter anak untuk mempercepat penanganan agar kualitas hidup bayi pun tidak terhambat.

Semoga informasi mengenai disfagia pada bayi, penyebab bayi sulit menelan ini bermanfaat ya, Ma.

Baca juga:

The Latest