- Nucleus accumbens kanan dan kiri, berperan dalam sistem penghargaan (reward) dan motivasi.
- Pallidum kanan dan kiri, membantu mengatur gerakan dan motivasi.
- Talamus kanan dan kiri, berfungsi sebagai pusat penghubung informasi sensorik menuju korteks otak.
- Amigdala kiri, berperan dalam pengaturan emosi dan respons terhadap rasa takut.
- Putamen kiri, berkaitan dengan pembelajaran motorik dan pembentukan kebiasaan.
Anak yang Sering Makan UPF Berisiko Punya Volume Otak Lebih Kecil

- Penelitian dari Children's Hospital Los Angeles dan USC menemukan bahwa konsumsi tinggi ultra-processed food (UPF) sejak bayi berkaitan dengan volume otak lebih kecil pada anak usia enam tahun.
- Terdapat delapan area subkortikal otak, termasuk nucleus accumbens, pallidum, talamus, amigdala, dan putamen yang volumenya lebih kecil pada anak dengan konsumsi UPF tinggi.
- Peneliti menyarankan pemberian makanan utuh atau minim proses untuk bayi karena nutrisi alami mendukung perkembangan otak, sementara studi ini bersifat observasional dan belum membuktikan sebab-akibat langsung.
Hindari memberikan ultra-processed food (UPF) pada bayi. Memberikan UPF sejak dini berisiko membuat volume otak si Kecil menjadi lebih kecil.
Hal ini diungkap dalam penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Clinical Nutrition (2026). Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa semakin tinggi konsumsi ultra-processed food (UPF) sejak bayi, semakin kecil volume beberapa area otak anak saat berusia 6 tahun. Area yang terdampak meliputi bagian otak yang berperan dalam regulasi emosi, motivasi, sistem penghargaan (reward), hingga fungsi sensorimotor.
Berikut Popmama.com telah merangkum informasi mengenai studi yang menemukan fakta bahwa anak yang sering makan UPF berisiko punya volume otak lebih kecil.
1. Peneliti mengikuti pola makan bayi hingga usia 6 tahun

Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Children's Hospital Los Angeles dan USC. Para peneliti memantau pola konsumsi makanan anak sejak usia 6 bulan hingga 72 bulan atau sekitar 6 tahun.
Selama periode tersebut, peneliti menghitung konsumsi kumulatif UPF yang dikonsumsi anak. Setelah itu, mereka melakukan pemindaian otak menggunakan MRI untuk mengukur volume berbagai area subkortikal otak.
Hasilnya menunjukkan bahwa anak dengan konsumsi UPF yang lebih tinggi cenderung memiliki volume yang lebih kecil pada sejumlah area otak dibandingkan anak yang lebih banyak mengonsumsi makanan minim proses atau real food.
2. Ada 8 area otak ditemukan memiliki volume lebih kecil

Menurut hasil penelitian, terdapat delapan area subkortikal otak yang volumenya lebih kecil pada anak dengan konsumsi UPF lebih tinggi selama masa bayi dan anak usia dini.
Beberapa area tersebut memiliki fungsi penting dalam perkembangan anak, antara lain:
Temuan ini menunjukkan bahwa pola makan pada masa awal kehidupan dapat berkaitan dengan perkembangan struktur otak yang mendukung kemampuan belajar, bergerak, hingga mengelola emosi.
3. Bayi lebih baik diberi makanan utuh daripada makanan kemasan

UPF adalah makanan yang telah melalui banyak proses industri dan biasanya mengandung tambahan gula, garam, pemanis, pewarna, pengawet, maupun bahan tambahan lainnya.
Pada bayi dan anak usia dini, kebutuhan nutrisi sangat tinggi untuk mendukung pertumbuhan otak yang berlangsung pesat. Karena itu, para peneliti menyarankan agar anak lebih banyak mengonsumsi makanan utuh atau minim proses dibandingkan makanan kemasan yang sangat diproses.
Meski studi ini menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan ukuran beberapa area otak, penelitian ini bersifat observasional. Artinya, temuan tersebut belum membuktikan bahwa UPF secara langsung menyebabkan perubahan volume otak. Namun, hasilnya menjadi pengingat penting untuk lebih memerhatikan kualitas makanan yang diberikan sejak awal kehidupan.
4. Alternatif MPASI minim proses untuk bayi usia 6–12 bulan

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil, Mama dapat mengutamakan bahan makanan segar yang diolah sendiri di rumah.
Beberapa pilihan MPASI minim proses antara lain:
- Puree atau bubur dari ubi, kentang, labu, dan wortel.
- Buah segar yang dihaluskan seperti alpukat, pisang, pir, atau pepaya.
- Protein hewani seperti ayam, ikan, telur, dan hati yang dimasak hingga matang.
- Kacang-kacangan dan tahu yang diolah sesuai usia bayi.
- Nasi tim atau bubur dengan kombinasi karbohidrat, protein, dan sayuran.
Dengan menu yang bervariasi, bayi dapat memperoleh nutrisi penting seperti protein, zat besi, kolin, omega-3, vitamin, dan mineral yang berperan dalam perkembangan otak.
5. Tips mengurangi konsumsi UPF pada anak

Membatasi UPF tidak berarti orangtua harus menghindarinya secara ekstrem. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut beberapa tips yang bisa Mama coba:
- Prioritaskan makanan rumahan dibanding makanan kemasan.
- Biasakan membaca label komposisi sebelum membeli produk untuk anak.
- Pilih camilan sederhana seperti buah potong, yogurt tanpa tambahan gula berlebih, atau keju.
- Hindari menjadikan makanan ultra-proses sebagai menu utama harian.
- Perkenalkan berbagai jenis real food sejak usia MPASI agar anak terbiasa dengan rasa alami makanan.
Dengan pola makan yang lebih seimbang, kebutuhan nutrisi si Kecil dapat terpenuhi sekaligus mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.
Nah, itu tadi penjelasan soal studi yang menemukan fakta bahwa anak yang sering makan UPF berisiko punya volume otak lebih kecil.
Semoga informasi ini bermanfaat!

















