Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Anak Sering Dilarang akan Tumbuh Jadi Penakut? Ini Faktanya
Magnific/jcomp
  • Sering dilarang tidak otomatis membuat anak menjadi penakut, tetapi larangan berlebihan tanpa penjelasan dapat membuat anak lebih ragu mencoba hal baru.

  • Berikan ruang untuk bereksplorasi dengan aman dan dampingi si Kecil secara bertahap, terutama ketika ia membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

  • Sikap orangtua turut membangun keberanian anak, seperti memberikan apresiasi serta menunjukkan respons yang tenang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memasuki fase ketika si Kecil mulai aktif bergerak dan penasaran dengan berbagai hal di sekitarnya, Mama mungkin jadi lebih sering mengatakan “jangan” atau “tidak boleh”. Mulai dari melarangnya meraih benda tertentu, memanjat, bermain di tempat yang kotor, hingga mendekati area yang dianggap berbahaya.

Wajar jika Mama ingin menjaga si Kecil tetap aman. Namun, terlalu banyak larangan juga dapat membuat ruang eksplorasi anak menjadi terbatas. Padahal, mencoba berbagai hal dengan pendampingan orangtua merupakan bagian dari proses anak mengenal lingkungan dan mengembangkan rasa percaya dirinya.

Lantas, benarkah anak yang sering dilarang akan tumbuh jadi penakut? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.

1. Benarkah anak sering dilarang akan tumbuh jadi penakut?

Magnific

Anak yang sering dilarang belum tentu otomatis tumbuh menjadi penakut, ya, Ma. Namun, larangan yang terlalu sering, terutama tanpa penjelasan, dapat menjadi salah satu faktor risiko kuat yang membuat anak lebih takut atau ragu. Hal ini sejalan dengan teori pola asuh Baumrind dalam Journal of Early Adolescence

Baumrind membedakan pola asuh authoritarian yang banyak memberikan larangan dengan sedikit penjelasan dan authoritative yang tetap memiliki batasan, tetapi disertai penjelasan. Hasilnya, anak yang dibesarkan dengan pola authoritarian ditemukan memiliki social competence yang lebih rendah dan cenderung lebih ragu dalam bertindak.  

Meski begitu, bukan berarti Mama dan Papa harus membiarkan anak tanpa batasan. Yang perlu diperhatikan adalah membedakan larangan yang memang bertujuan menjaga keselamatan dengan larangan yang hanya muncul karena orangtua merasa tidak nyaman atau takut kerepotan.

2. Ganti kata “jangan” dengan arahan yang lebih aman

Magnific

Ketika si Kecil ingin melakukan sesuatu yang sebenarnya berisiko, Mama dapat memberikan alternatif daripada hanya mengatakan “jangan”. Dengan begitu, anak tetap mendapatkan batasan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dalam kondisi yang lebih aman.

Misalnya, ketika anak mencoba memanjat meja, Mama dapat mengatakan, “Tidak di meja, ya. Yuk, kita main di sini,” sambil mengarahkannya ke tempat yang lebih aman. Saat anak ingin bermain air, Mama juga bisa mengatakan, “Boleh main air, tapi di luar supaya tidak licin.”

Mama juga dapat memberikan pilihan yang aman. Jika si Kecil ingin memanjat, misalnya, tawarkan tempat yang memang diperuntukkan untuk aktivitas tersebut. Cara ini membantu anak mulai belajar mengambil keputusan sekaligus memahami bahwa ada batasan yang perlu diikuti.

3. Berikan si Kecil kesempatan untuk beradaptasi dan mencoba

Magnific/krakenimages.com

Tidak semua anak langsung berani ketika menemukan lingkungan atau pengalaman baru. Ada anak yang mudah beradaptasi, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu untuk mengamati keadaan sebelum merasa nyaman. Dalam situasi seperti ini, Mama tidak perlu memaksa si Kecil untuk segera berinteraksi atau mencoba sesuatu.

Berikan warm-up time, yaitu waktu bagi anak untuk mengamati lingkungan baru, memahami situasi di sekitarnya, lalu menentukan sendiri kapan ia siap bergabung. Anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi dapat merasa lebih aman ketika diberikan kesempatan tersebut.

Kondisi fisik dan suasana hati anak juga perlu diperhatikan. Ketika sedang lapar, mengantuk, lelah, atau merasa tidak nyaman, si Kecil cenderung lebih mudah rewel. Jadi, jangan langsung menganggap anak penakut hanya karena ia belum mau mencoba sesuatu.

4. Sikap orangtua dapat membantu menumbuhkan keberanian anak

Magnific

Mengutip laman Child Mind Institute, berikut beberapa sikap yang dapat dilakukan Mama dan Papa untuk membantu menumbuhkan keberanian anak antara lain: 

  1. Menerapkan social scaffolding, yaitu membantu membuka jalan ketika si Kecil hendak berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, Mama bisa memperkenalkan anak kepada teman baru, kemudian memberikan kesempatan kepadanya untuk melanjutkan bermain bersama.

  2. Berikan pujian ketika si Kecil berani mencoba, meskipun langkahnya masih sederhana.

  3. Setiap anak memiliki karakter dan ritme adaptasi yang berbeda. Tidak perlu membandingkannya dengan saudara atau teman sebaya.

  4. Tetap berada di dekat anak ketika ia mencoba sesuatu yang baru agar ia tahu Mama dan Papa siap membantu jika dibutuhkan.

Dengan memberikan batasan yang jelas sekaligus ruang untuk mencoba, Mama dapat membantu si Kecil belajar menghadapi lingkungan tanpa merasa selalu takut melakukan kesalahan. 

Jadi, anak yang sering dilarang belum tentu otomatis tumbuh menjadi penakut, ya, Ma. Namun, larangan yang terlalu sering, terutama tanpa penjelasan, dapat menjadi salah satu faktor risiko kuat yang membuat anak lebih takut atau ragu.

Curated For You

Editorial Team

Related Article