Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Cara Stimulasi Bicara pada Bayi yang Bisa Dilakukan Sehari-hari
Pexels/RDNE Stock project (melatih bayi bicara)
  • Kemampuan bicara bayi berkembang secara bertahap, mulai dari cooing, babbling, hingga mampu menggabungkan dua kata pada usia sekitar 2 tahun.

  • Stimulasi terbaik dapat dilakukan melalui interaksi sehari-hari, seperti mengajak berbicara, membacakan buku, bernyanyi, dan bermain bersama.

  • Segera konsultasikan ke dokter jika bayi menunjukkan tanda keterlambatan bicara, seperti belum babbling di usia 12 bulan atau belum mengucapkan kata bermakna di usia 16 bulan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap orangtua tentu menantikan momen ketika si Kecil mulai mengucapkan kata pertamanya. Namun, kemampuan berbicara tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak lahir, bayi telah belajar berkomunikasi melalui tangisan, suara, ekspresi wajah, hingga gerakan tubuh sebelum akhirnya mampu mengucapkan kata-kata sederhana.

Kabar baiknya, stimulasi bicara tidak harus dilakukan dengan metode yang rumit atau menggunakan alat khusus. Hal sederhana yang dilakukan setiap hari di rumah justru menjadi cara paling efektif untuk membantu perkembangan bahasa anak.

Melalui stimulasi yang konsisten, orangtua dapat memperkaya kosakata, melatih kemampuan memahami bahasa, sekaligus membangun ikatan emosional dengan si Kecil. 

Berikut Popmama.com telah merangkum cara stimulasi bicara pada bayi yang bisa dilakukan sehari-hari.

1. Kenali tahapan perkembangan bicara sesuai usia

Pexels/Krishna Kids Photography

Sebelum memberikan stimulasi, orangtua perlu memahami bahwa kemampuan bahasa berkembang secara bertahap. Setiap anak memang memiliki kecepatan yang berbeda, tetapi ada tahapan umum yang dapat dijadikan acuan.

Berikut adalah tahapan bicara pada bayi yang bisa jadi gambaran orangtua:

  • Usia 0-6 bulan: Bayi berkomunikasi melalui tangisan, kemudian mulai mengeluarkan suara vokal seperti "aaa" atau "uuu" (cooing) pada usia sekitar 2–3 bulan. Menjelang usia 6 bulan, bayi mulai mengoceh dengan suku kata berulang seperti "ba-ba-ba" atau "da-da-da" (babbling).

  • Usia 6-12 bulan: Bayi mulai memahami nama orang, benda, serta kata-kata sederhana seperti "tidak" atau "dadah". Kemampuan memahami bahasa (reseptif) berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan berbicara. Menjelang usia 1 tahun, sebagian bayi mulai mengucapkan kata bermakna seperti "Mama" atau "Papa".

  • Usia 12-18 bulan: Kosakata mulai bertambah secara bertahap, dari beberapa kata hingga puluhan kata, tergantung perkembangan masing-masing anak.

  • Usia 18-24 bulan: Anak mulai mengalami perkembangan bahasa yang pesat (vocabulary explosion) dan mulai menggabungkan dua kata menjadi kalimat sederhana, misalnya "mau susu" atau "Mama duduk".

2. Ajak bayi berkomunikasi dalam setiap aktivitas sehari-hari

Pexels/Anh Lee

Bayi belajar bahasa melalui interaksi langsung dengan orang di sekitarnya. Karena itu, jadikan setiap aktivitas sebagai kesempatan untuk mengajaknya berbicara.

Misalnya saat mengganti popok, memandikan, menyusui, atau mengajak berjalan-jalan di rumah. Ceritakan apa yang sedang dilakukan, sebutkan nama benda, warna, maupun bagian tubuh yang sedang disentuh.

Saat bayi mengoceh, berikan respons seolah sedang mengobrol dengannya. Pola komunikasi dua arah seperti ini membantu bayi memahami bahwa percakapan adalah proses saling merespons, bukan hanya mendengarkan.

3. Gunakan bahasa yang jelas, bacakan buku, dan bernyanyi bersama

Pexels/Helena Lopes

Saat berbicara dengan bayi, gunakan pelafalan kata yang benar agar ia memiliki contoh bahasa yang baik untuk ditiru. Orangtua tetap boleh menggunakan intonasi yang hangat, ekspresif, dan penuh semangat (parentese), tetapi sebaiknya tidak sengaja mencadelkan kata, misalnya mengucapkan "cucu" untuk "susu".

Selain mengajak berbicara, biasakan membacakan buku bergambar sejak dini. Tunjukkan gambar sambil menyebutkan nama benda, hewan, atau warna agar kosakata bayi semakin bertambah.

Bernyanyi juga menjadi stimulasi yang baik karena membantu bayi mengenali ritme bahasa, melatih perhatian, sekaligus memperkenalkan kata-kata baru. Agar lebih menarik, tambahkan gerakan sederhana seperti melambaikan tangan saat menyanyikan lagu "dadah" atau menunjuk anggota tubuh saat menyanyikan lagu anak.

4. Pilih mainan yang mendorong interaksi aktif

Pexels/Polesie Toys

Mainan tidak harus mahal atau berbunyi canggih untuk membantu perkembangan bicara. Justru mainan yang mengajak anak berinteraksi dan berimajinasi lebih efektif dalam menstimulasi komunikasi.

Mama dapat memilih balok susun, puzzle sederhana, boneka tangan, buku bergambar, atau mainan berbentuk hewan. Saat bermain, sebutkan nama benda, warna, bentuk, atau suara hewan agar anak terbiasa mendengar kosakata baru.

Ketika anak mulai lebih besar, berikan pilihan sederhana seperti, "Mau bola merah atau bola biru?" atau instruksi satu langkah seperti, "Tolong ambil bonekanya." Aktivitas ini membantu melatih kemampuan memahami bahasa sekaligus mendorong anak untuk memberikan respons.

5. Batasi screen time dan kenali tanda keterlambatan bicara

Pexels/Helena Lopes

Interaksi langsung dengan orangtua tetap menjadi stimulasi terbaik untuk perkembangan bahasa. Sebaliknya, penggunaan gawai atau televisi secara berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak untuk berlatih berkomunikasi dua arah. Pada anak di bawah usia 18 bulan, organisasi kesehatan anak juga menganjurkan untuk menghindari screen time pasif, kecuali untuk video call dengan anggota keluarga.

Selain itu, pemberian MPASI dengan tekstur yang sesuai usia juga membantu melatih kemampuan motorik oral, seperti mengunyah dan menggerakkan lidah, yang menjadi salah satu fondasi penting dalam proses berbicara.

Orangtua juga perlu mengenali beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Segera konsultasikan ke dokter spesialis anak apabila bayi belum mengoceh (babbling) atau belum menunjuk dengan jari pada usia 12 bulan, belum mengucapkan satu kata bermakna pada usia 16 bulan, belum mampu menggabungkan dua kata pada usia 24 bulan, atau mengalami kemunduran kemampuan bicara maupun interaksi sosial pada usia berapa pun.

Itulah beberapa cara stimulasi bicara pada bayi yang bisa dilakukan sehari-hari. Ingat, setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda.

Yang terpenting adalah memberikan stimulasi secara rutin, penuh kasih sayang, dan dalam suasana yang menyenangkan agar si Kecil merasa nyaman belajar berkomunikasi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article