Saat bayi mulai mengoceh, Mama dapat mulai membangun percakapan dua arah dengannya.
Bayi mungkin belum mampu mengucapkan kata-kata, tetapi ia dapat mendengar, bergerak, mengeluarkan suara, atau menunjukkan ekspresi tertentu. Semua respons tersebut bisa Mama jadikan bagian dari interaksi.
Misalnya, saat bayi menggerakkan tangan atau mengeluarkan suara tertentu, Mama dapat menanggapinya dengan mengatakan, “Apa yang kamu bilang? Oh, iya, tadi kamu menggerakkan tanganmu!” Mama juga bisa membicarakan ekspresi lucu, gerakan, atau benda yang sedang diperhatikan si Kecil.
“Lakukan percakapan secara bergantian. Kamu bisa berkata, ‘Apa yang kamu katakan? Oh, iya, kamu baru saja menggerakkan tanganmu!’ Hal itu bisa terjadi secara alami, seperti saat kamu bernyanyi bersama bayi,” ujar Hirsh-Pasek.
Hal terpenting dalam komunikasi dengan bayi adalah memberikan kesempatan untuk saling bergantian merespons.
Jangan sampai Mama terlalu mendominasi percakapan. Usahakan untuk berbicara, kemudian berhenti sejenak agar bayi memiliki waktu untuk memberikan respons melalui suara, gerakan, atau ekspresi.
“Ketika bayi mulai lebih banyak mengoceh, kamu bisa mulai menghubungkan suara tersebut dengan kata-kata yang sebenarnya. Misalnya, saat bayi berkata ‘bababa’, kamu bisa menjawab, ‘Oh, kamu mau botol susu,’ tentu saja sesuai dengan situasi yang sedang terjadi,” jelas Wood.
Saat bayi mulai menggunakan satu kata untuk berkomunikasi, Mama juga dapat menyesuaikan cara berbicara. Jika anak menggunakan satu kata, Mama dapat merespons dengan dua hingga tiga kata.
Ketika bayi sudah mulai menggunakan dua kata, Mama bisa memberikan respons dengan tiga hingga empat kata. Cara ini dapat membantu bayi mendengar bentuk kalimat yang lebih panjang secara bertahap.
Itu dia cara tepat melakukan ‘baby talk’ untuk mendukung kemampuan bicara bayi. Interaksi yang dilakukan secara responsif, bergantian, dan penuh perhatian dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung perkembangan komunikasi serta kemampuan bicara anak sejak dini.