8 Ciri-Ciri Kerumut pada Bayi yang Wajib Mama Ketahui

Kerumut atau campak sangat menular melalui napas, batuk, dan bersin; penyakit ini sering menyerang anak-anak serta berbahaya bagi bayi di bawah 12 bulan yang umumnya belum divaksin.
Gejala awal, biasanya 7–14 hari setelah paparan, meliputi demam tinggi, batuk menetap, pilek, mata merah berair, sensitif cahaya, lelah, dan nafsu makan menurun.
Ruam merah biasanya muncul 3–5 hari setelah gejala awal, bermula di wajah lalu menyebar; bintik Koplik dapat terlihat di mulut sebelum ruam.
Take a Deeper Reads

Awalnya hanya demam, batuk, dan hidung meler, sehingga Mama mungkin mengira si Kecil cuma terkena flu biasa. Padahal, gejala-gejala itu bisa saja pertanda kerumut, penyakit yang lebih dikenal dengan nama campak.
Melansir WHO, campak adalah penyakit yang sangat menular dan menyebar dengan mudah lewat napas, batuk, atau bersin-bersin orang yang terinfeksi. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, tetapi paling sering terjadi pada anak-anak.
Mengutip UNICEF, campak juga sangat berbahaya bagi si Kecil yang berusia di bawah 12 bulan karena umumnya mereka belum mendapat vaksin campak sebelum usia 1 tahun.
Untuk memudahkan Mama dalam mendeteksi kerumut pada si Kecil, berikut Popmama.com mengulas 8 ciri-ciri kerumut pada bayi. Yuk, simak sampai habis!
Table of Content
1. Demam tinggi

Pexels/Tima Miroshnichenko Ciri pertama biasanya datang tanpa banyak aba-aba. Menurut Blue Net Hospitals, gejala kerumut muncul 7–14 hari setelah terpapar virus dan awalnya mirip pilek atau flu berat.
Salah satunya adalah demam tinggi, yang sering kali berada di atas 102 derajat Fahrenheit (39 derajat Celsius). Mengutip CDC, suhu ini bahkan bisa melonjak melebihi 104 derajat Fahrenheit atau sekitar 40 derajat Celsius.
Selain itu juga, suhu saat demam bisa kembali melonjak ketika ruam mulai muncul. Namun, demam jarang datang tanpa ciri lainnya.
2. Batuk terus-menerus

Pexels/Evgeniya Davydova Setelah demam, giliran batuk yang mulai mengganggu hari-hari si Kecil. Melansir Blue Net Hospitals, batuk yang terjadi terus-menerus merupakan salah satu gejala awal yang umum.
Menurut UNICEF, gejala awal kerumut cenderung samar dan mudah dikira penyakit biasa seperti flu musiman. Di sinilah Mama perlu jeli memperhatikan gejala lain yang menyertainya. Selain itu, batuk yang menetap masuk ke daftar kondisi yang perlu segera diperiksakan ke dokter.
3. Pilek

Pexels/Rahul Genie Hidung si Kecil yang meler sering muncul berbarengan dengan batuk. Mengutip CDC, hal ini merupakan bagian dari gejala awal kerumut, bersama demam tinggi, batuk, serta mata merah dan berair.
Dalam istilah medis, pilek ini disebut coryza. Sementara itu, menurut WHO, gejala awal ini biasanya berlangsung selama 4–7 hari.
4. Mata merah dan berair (Konjungtivitis)

Pexels/Polina Smelova Coba perhatikan mata si Kecil, apakah tampak merah dan berair? Menurut CDC, mata merah dan berair yang dikenal sebagai konjungtivitis atau pink eye termasuk gejala awal kerumut.
Mengutip Nanavati Max Hospital, mata si Kecil bisa tampak merah, teriritasi, dan berair. Kondisi ini biasanya muncul berbarengan dengan demam, batuk, dan pilek.
5. Sensitivitas terhadap cahaya

Wikimedia Commons/Beth Melansir BlueNet Hospitals, sensitivitas terhadap cahaya merupakan salah satu gejala awal kerumut yang umum. Artinya, cahaya terang bisa membuat mata si Kecil tidak nyaman.
Menurut My Health Alberta, Mama disarankan untuk menutup gorden dan membatasi waktu layar jika mata anak sensitif terhadap cahaya. Mata anak pun sebaiknya sering diistirahatkan.
Selain itu, gejala pada anak yang sensitif terhadap cahaya atau sangat mengantuk perlu segera dikonsultasikan ke dokter.
6. Kelelahan

Pexels/Nothing Ahead Si Kecil yang biasanya aktif mendadak tampak lemas dan mudah lelah? Menurut BlueNet Hospitals, kelelahan merupakan salah satu gejala awal kerumut.
Menurut Nanavati Max Hospital, demam tinggi juga membuat anak menjadi rewel, lelah, dan tidak nyaman. Jadi, tubuh mungil si Kecil memang sedang bekerja keras.
Meski begitu, rasa lemas yang sangat berat atau kantuk yang tidak biasa perlu segera diperiksakan ke dokter agar bisa segera ditangani.
7. Kehilangan nafsu makan

Pexels/Jonathan Borba Si Kecil mendadak kurang berselera menyusu atau makan? Menurut BlueNet Hospitals, kehilangan nafsu makan adalah gejala kerumut yang umum.
Melansir Nanavati Max Hospital, nafsu makan dan asupan cairan yang menurun meningkatkan risiko dehidrasi. Tandanya antara lain mulut kering, buang air kecil berkurang, mata cekung, hingga tampak sangat lemas.
Menurut UNICEF, Mama disarankan untuk tetap menyusui dan menganjurkan si Kecil minum lebih banyak cairan. Untuk anak yang diare atau muntah, oralit (ORS) bisa membantu mengganti cairan yang hilang sesuai arahan dokter.
8. Muncul ruam atau bintik merah

Wikimedia Commons/CDC Global, Jim Goodson, M.P.H. Inilah tanda yang paling ditunggu, sekaligus paling mudah dikenali. Mengutip CDC, ruam muncul 3–5 hari setelah gejala pertama, berawal dari bercak merah datar di garis rambut wajah.
Ruam itu lalu menjalar ke leher, badan, tangan, hingga kaki, dan bintik-bintiknya bisa menyatu. Tonjolan kecil juga bisa muncul di atas bercak merah tersebut.
Sebelum ruam terlihat, bintik putih kecil (Koplik spots) bisa muncul di dalam mulut 2–3 hari setelah gejala dimulai. Untuk kulit gelap, menurut My Health Alberta, ruam bisa tampak lebih gelap atau keunguan, bahkan sulit terlihat.
Nah, itulah pembahasan mengenai 8 ciri-ciri kerumut pada bayi yang harus Mama dan Papa ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat!























