5 Masalah Makan pada Bayi yang Perlu Mama Ketahui

Masalah makan ini biasanya terjadi saat si Kecil menjalani masa transisi menuju makanan padat

7 Januari 2022

5 Masalah Makan Bayi Perlu Mama Ketahui
Freepik/prostooleh

Memasuki masa transisi menuju makanan padatnya, banyak hal yang dapat terjadi pada si Kecil. Pada periode ini biasanya Mama dan si Kecil tidak akan lepas dari drama yang bisa menguras emosi dan tenaga. 

Tetapi tenang dulu, Ma. Ini semua adalah hal yang wajar terjadi dan tidak akan berlangsung lama. Untuk itu Mama perlu mengetahui beberapa masalah makan yang umum terjadi pada si Kecil.

Dengan mengetahuinya, Mama bisa menemukan strategi yang tepat untuk mengatasinya saat hal ini terjadi.

Berikut ini masalah makan yang umum terjadi pada si Kecil di masa transisinya yang sudah Popmama.com rangkum dari berbagai sumber.

1. Menolak makanan dengan berbagai cara, ada banyak alasan di balik tingkahnya

1. Menolak makanan berbagai cara, ada banyak alasan balik tingkahnya
Pexels/Mart Production

Ada banyak alasan di balik tingkahnya ini, Ma. Saat si Kecil menolak untuk makan bisa jadi mereka tengah merasa kelelahan, kenyang, terganggu, atau sakit.

Ini juga bisa terjadi jika ia makan tidak sesuai dengan jadwal makannya. 

Jadi, jangan terlalu khawatir jika si Kecil memukul sendok, berpaling, atau mengatupkan mulutnya. Ini adalah tanda mereka mengatakan kalau mereka sudah kenyang.

Si Kecil akan selalu makan ketika mereka merasa lapar. Pastikan saja ia mengonsumsi makanan yang sehat dan tidak untuk membuatnya kenyang lebih awal dengan camilan atau junk food.

Cobalah untuk percaya bahwa si Kecil tahu berapa banyak kebutuhan makannya.

Editors' Picks

2. Menghindari makanan baru dan pilih-pilih makanan berminggu-minggu atau berbulan-bulan

2. Menghindari makanan baru pilih-pilih makanan berminggu-minggu atau berbulan-bulan
Freepik/pch.vector

Percayakah Mama, setiap anak memiliki periode penolakan untuk makanan baru. Untungnya, sebagian besar anak melewati fase ini meskipun kadang hal ini terjadi selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Bantu si Kecil menerima makanan baru dengan lebih mudah dengan memastikan makanan baru terlihat mirip dengan makanan favorit yang sudah dikenalnya.

Misalnya, wortel yang dihaluskan dan ubi jalar yang dihaluskan. Kemudian, mulai dengan porsi yang sangat kecil, dengan lembut coba tawarkan makanan baru kepadanya tiga kali selama makan.

Jika mereka menolak, jangan bereaksi berlebihan. Berikan saja sesuatu yang mereka sukai. Cobalah menawarkan makanan baru yang sama pada waktu makan yang lain.

Makanan yang familiar memberikan kenyamanan pada bayi di saat-saat yang penuh tekanan dan sibuk.

Meskipun si Kecil saat ini memilih-milih makanan, biasanya ini tidak akan bertahan dalam waktu yang lama.

3. Tersedak saat makan karena porsi yang terlalu besar atau belum siap menerima makanan padat

3. Tersedak saat makan karena porsi terlalu besar atau belum siap menerima makanan padat
Pexels.com/AMSW Photography

Sebagian besar bayi siap untuk menikmati makanan padatnya pada usia 4-6 bulan. Tetapi beberapa dari mereka mungkin masih merasa makanan padat sulit untuk dicerna pada awalnya.

Alhasil, si Kecil pun mengalami muntah saat mencoba mengonsumsinya. 

Jika Mama merasa si Kecil kesulitan untuk menelan makanan padat, cobalah mengurangi makanan di sendoknya.

Jika ia masih tersedak, bisa jadi si Kecil belum siap untuk makanan padatnya. Jika ia tersedak terus-menerus, cobalah untuk memeriksa kondisinya pada dokter.

4. Alergi makanan dan intoleransi makanan yang menyebabkan masalah pada pencernaannya

4. Alergi makanan intoleransi makanan menyebabkan masalah pencernaannya
Freepik/artursafronovvvv

Alergi makanan, yang mengaktifkan sistem kekebalan, terjadi pada hingga 8 persen anak-anak dan dapat muncul tiba-tiba, dengan gejala mulai dari diare, muntah, ruam, atau sakit perut hingga masalah pernapasan dan pembengkakan wajah/tubuh.

Alergi makanan yang paling umum di antara anak-anak adalah susu, kedelai, telur, gandum, kacang-kacangan, dan kerang.

Intoleransi makanan lebih umum terjadi daripada alergi makanan.

Meskipun gejalanya mungkin terlihat serupa, intoleransi makanan melibatkan sistem pencernaan bayi, bukan sistem kekebalan.

Intoleransi makanan yang umum termasuk masalah dengan laktosa, jagung, atau gluten. Gejala intoleransi yang sering terjadi seperti timbulnya gas, kembung, diare, dan sakit perut.

5. Menyemburkan makanan, refluks, atau muntah ketika makan

5. Menyemburkan makanan, refluks, atau muntah ketika makan
Freepik/senivpetro

Saat makan, si Kecil tampaknya sering sekali meludah atau memuntahkan makanannya. Tenang, Ma. Hampir semua bayi melakukan hal ini saat menerima ASI atau makanan pertamanya.

Kabar baiknya adalah bahwa gumoh atau muntah cenderung menghilang saat bayi berusia satu tahun.

Mama bisa menguranginya dengan dengan menyendawakannya secara teratur, menghindari makan berlebihan, menjaga si Kecil tetap tegak saat memberi mereka makan, dan menghindari bermain dengan aktif sesaat setelah makan.

Refluks adalah ketika isi perut kembali naik ke kerongkongan bayi. Untuk membantu mengelola refluks, berikan si Kecil makan sedikit demi sedikit atau lebih lambat setiap kali makan.

Ganti popok atau pakaian yang lebih longgar dan batasi si Kecil untuk tidak bermain secara aktif setelah makan.

Itulah tadi 5 masalah makan pada bayi. Segera hubungi dokter jika si Kecil tampak kehilangan berat badan, lesu, terlihat mengalami dehidrasi, muntah, tersedak, atau diare terus-menerus.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.