Kronologi Bayi di Bekasi Alami Radang Selaput Otak, Diduga Salah Suntik

- Bayi NR di Bekasi diduga salah vaksin saat jadwal imunisasi campak, justru menerima vaksin DPT ganda hingga mengalami kejang dan dirawat intensif di rumah sakit.
- Ibu bayi menilai petugas puskesmas lalai karena tidak menjelaskan jenis vaksin sebelum penyuntikan, padahal riwayat imunisasi lengkap sudah tercatat dalam buku KIA.
- Dinas Kesehatan Bekasi mengakui kesalahan pencatatan vaksin namun menegaskan hasil kajian KIPI menunjukkan radang otak bayi NR tidak terkait langsung dengan pemberian vaksin.
Setiap orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk bayinya. Salah satu caranya adalah dengan melakukan vaksinasi tepat waktu agar merangsang sistem kekebalan tubuh si Kecil untuk mengenali dan melawan virus atau bakteri berbahaya secara efektif.
Mama pun akan selalu memastikan bayi mendapatkan vaksin dan imunisasi yang tepat sesuai dengan jadwalnya. Termasuk ibu dari bayi NR di Bekasi.
Ibu dari bayi NR membawa bayinya untuk mendapatkan vaksin campak. Namun berdasarkan pengakuan, si Bayi malah mendapatkan vaksin lain dan ia dilarikan ke IGD karena kejang sehari setelah divaksin.
Kronologi bayi di Bekasi mengalami radang selaput telah Popmama.com rangkum di bawah ini.
1. Curhat ibu bayi perihal kesalahan vaksinasi

Bayi berusia 9 bulan didiadgnosa mengalami radang otak. Diagnosa diperoleh setelah si Bayi mengalami kejang, diduga setelah menerima vaksin DPT dosis ketika untuk kedua kalinya di salah satu puskemas di Bekasi Barat.
Menurut sang Mama, bayi NR harus menjalani perawatan di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) akibat kejang berkepanjangan.
Menurut mama bayi, si Kecil awalnya akan diberikan vaksin campak sesuai jadwal pada 13 Juni 2026. Petugas menangani pendaftaran hingga penimbangan. Saat itu, petugas pun mengonfirmasi jika si Kecil akan menerima vaksin campak. Sama seperti yang telah disampaikan oleh mama bayi NR ketika mendaftar.
Saat masuk ke ruang imunisasi, bayi NR diukur tingginya, kemudian dipangku, dan diberikan suntikan di kedua pahanya.
Merasa janggal, si Mama pun bertanya apakah suntikan memang dilakukan di area paha. Bidan yang melakukan suntikan pun menjawab jika vaksin DPT memang disuntik dua kali.
Mendengar jawaban dari bidan, sang Mama pun terkejut, pasalnya, bayi NR sudah menerima vaksin DPT 3 non panas sebelumnya. Dan bayi NR datang ke puskesmas untuk mendapatkan vaksin campak.
Menurutnya, bidan beralasan jika bayi NR belum menerima vaksin DPT dosis ketiga non panss. Padahal, seluruh riwayat imunisasi telah tercatat lengkap dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang dibawanya.
2. Bayi NR mngalami kejang sehari setelah imunisasi

Demam biasanya merupakan salah satu efek samping dari vaksin dan imunisasi. Demam pun dialami oleh bayi NR. Namun, kurang dari 24 jam setelah imunisasi, bayi NR mengalami kejang berkepanjangan selama lebih dari 30 menit. Sebelumnya, bayi NR lebih rewel, demam, muntah, sulit makan, hingga akhirnya kejang pada pukul 4 dini hari
Orangtua si Bayi pun segera membawa bayinya ke rumah sakit. Ia mendapatkan serangkaian pemeriksaan, termasuk CT Scan.
Bayi NR harus dirawat di PICU dan mendapat diagnosa mengalami radang selaput otak atau pembengkakan otak.
Mama bayi NR menyayangkan petugas suntik di puskesmas yang tidak menjalankan prosedur pelayanan, yakni menjelaskan jenis vaksin, merek, hingga tanggal kedaluwarsa sebelum penyuntikan dilakukan.
3. Penjelasan Dinkes Bekasi perihal bayi NR mengalami radang otak karena salah vaksin

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Satia Sriwijayanti Anggraini, membantah bayi NR mengalami radang otak karena menerima vaksin DPT dosis ketiga sebanyak dua kali di salah satu puskesmas Bekasi Barat.
Satia Sriwijayanti mengakui memang terjadi pemberian vaksin DPT ganda akibat pencatatan riwayat imunisasi yang tidak tertulis sebagaimana mestinya. Namun hasil kajian Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) menyatakan tidak ada hubungan antara pemberian vaksin dengan diagnosis radang otak yang dialami bayi tersebut.
Menurut Satia, hingga saat ini belum ditemukan literatur yang menyebutkan penyuntikan vaksin menyebabkan radang otak. Ia menambahkan jika dalam dunia medis, ensefalitis maupun meningitis tidak dapat langsung dikaitkan dengan vaksinasi.
Satia pun menjelaskan jika berdasarkan hasil kajian tim KIPI, kemungkinan bayi NR telah terpapar infeksi sebelum imunisasi dilakukan, meski saat itu belum terdeteksi.
Setelah 10 hari mendapatkan perawatan di rumah sakit, bayi NR pun dipulangkan ke rumah. Namun menurut sang Mama, bayinya masih sering demam dan menunjukkan gejala kejang. Tentu saja, ia sangat cemas dengan kondisi bayinya saat ini dan efek jangka panjang dari kelalaian ini.
Itu tadi kronologi bayi di Bekasi alami radang selaput otak. Dari kejadian ini, kita belajar agar lebih waspada saat melakukan vaksinasi dan imunisasi. Memastikan jenis vaksin dan tanggal kedaluwarsa sangat penting. Dan jangan ragu untuk melakukannya beberapa kali hingga Mama yakin, ya!




















