Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Temperamen Anak Bisa Pengaruhi Kebiasaan Nonton TV Menurut Studi
Pixabay
  • Penelitian University of East Anglia dan Birkbeck menemukan bahwa temperamen bayi memengaruhi seberapa lama mereka tertarik menonton TV, bukan semata karena paparan layar sejak dini.
  • Hasil EEG menunjukkan bayi dengan dorongan tinggi terhadap stimulasi visual baru cenderung lebih cepat bosan pada tayangan berulang dan mencari hal baru di layar.
  • American Academy of Pediatrics merekomendasikan batas waktu layar berdasarkan usia, menekankan pentingnya kualitas konten, pendampingan orangtua, serta keseimbangan dengan aktivitas fisik dan sosial anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sebagai orangtua, Mama mungkin sering bertanya-tanya apakah dan kapan aman membiarkan bayi dan balita menonton TV. Wajar jika Mama khawatir tentang waktu menonton layar bayi dan bagaimana hal itu dapat memengaruhi perkembangan, rentang perhatian, dan kemampuan menjalin ikatan dengan si Kecil.

Sebuah studi mengungkapkan bahwa berapa banyak waktu yang dihabiskan anak-anak di depan layar, khususnya televisi, mungkin bergantung pada temperamen mereka. Kok bisa, ya?

Nah, Popmama sudah merangkum penjelasan tentang temperamen anak bisa pengaruhi kebiasaan nonton TV.

Penelitian tentang Waktu Layar dan Temperamen si Kecil

Thecybersafetylady.com.au

Studi yang dilakukan oleh University of East Anglia (UEA) dan Birkbeck, University of London, meneliti respons otak dari 48 bayi berusia 10 bulan menggunakan elektroensefalografi (EEG) saat mereka menonton klip 40 detik dari Fantasia Disney secara berulang.

Tim peneliti menemukan bahwa mereka dapat memprediksi apakah bayi tersebut akan menikmati menonton TV dengan tempo cepat 6 bulan kemudian. Menurut para peneliti, ini dapat membantu perdebatan yang sedang berlangsung seputar paparan TV dini untuk bayi.

Lingkungan sensorik di sekitar bayi dan anak kecil sangat kompleks dan berantakan, tetapi kemampuan untuk memerhatikan sesuatu adalah salah satu tonggak perkembangan pertama pada bayi. Bahkan sebelum mereka dapat mengajukan pertanyaan, anak-anak sangat bervariasi dalam seberapa besar dorongan mereka untuk menjelajahi lingkungan sekitar dan terlibat dengan pemandangan atau suara baru.

Dalam studi ini, para peneliti ingin mengetahui mengapa bayi tampak sangat berbeda dalam cara mereka mencari stimulasi sensorik visual baru (yaitu, tertarik pada benda-benda berkilau, warna-warna cerah, atau gambar bergerak di TV).

Ada beberapa teori untuk menjelaskan perbedaan tersebut, termasuk bayi yang kurang sensitif akan mencari lebih sedikit stimulasi dan beberapa bayi mungkin hanya memproses informasi dan mencari stimulasi baru lebih sering.

Namun, para peneliti ingin menguji teori ketiga dengan menunjukkan bahwa bayi yang lebih menyukai hal-hal baru mungkin mencari stimulasi yang lebih beragam.

Untuk melakukan ini, para peneliti melihat bagaimana gelombang otak bayi merespons gangguan acak pada klip tersebut. Ini berupa papan catur hitam putih yang tiba-tiba muncul di layar. Secara spesifik, mereka mengamati seberapa cepat bayi-bayi tersebut mengalihkan perhatian mereka dari video yang berulang ke papan catur.

Para peneliti kemudian meminta orangtua dan pengasuh untuk mengisi kuesioner tentang kebiasaan sensorik anak mereka. Termasuk apakah mereka menikmati menonton acara TV yang cepat dan berwarna cerah. Mereka menindaklanjuti dengan kuesioner kedua yang serupa enam bulan kemudian.

Saat bayi-bayi tersebut menonton klip video yang berulang, respons EEG memberi tahu peneliti bahwa mereka mempelajari isinya. Peneliti memperkirakan bahwa, seiring video menjadi kurang baru dan karenanya kurang menarik perhatian mereka, mereka akan mulai memperhatikan papan catur.

Tetapi beberapa bayi mulai merespons papan catur lebih awal saat masih mempelajari video tersebut, menunjukkan bahwa anak-anak ini sudah cukup dengan informasi lama. Sebaliknya, yang lain tetap terlibat dengan video tersebut bahkan ketika tidak banyak yang bisa dipelajari darinya.

Temperamen Anak Bisa Pengaruhi Kebiasaan Nonton TvV

DN Times/Dhana Kencana

Para peneliti percaya bahwa penelitian mereka yang mampu memprediksi kebiasaan menonton televisi bayi menunjukkan bahwa paparan televisi anak-anak didorong oleh sifat alami mereka sendiri, bukan oleh paparan TV sejak dini.

Kemungkinan besar temuan kami tidak dapat dijelaskan oleh paparan TV sejak dini karena orangtua melaporkan bahwa hanya sebagian kecil bayi berusia 10 bulan yang menonton acara TV.

Selanjutnya, tim peneliti bertujuan untuk secara spesifik meneliti apa yang mendorong perbedaan individu ini dalam hal memperhatikan hal-hal baru. Termasuk peran lingkungan awal bagi bayi dalam hal ini.

Eksplorasi dan penemuan sangat penting untuk pembelajaran dan perkembangan kognitif anak. Namun, anak-anak yang berbeda mungkin mendapat manfaat dari lingkungan yang berbeda untuk pembelajaran mereka.

Dengan demikian, penelitian ini akan membantu kita memahami bagaimana lingkungan yang individual dapat memelihara pembelajaran anak, mendorong perkembangan kognitif mereka, dan pada akhirnya, mendukung pencapaian potensi penuh mereka.

Apa Rekomendasi Waktu Layar Berdasarkan Usia?

Unsplash/Alexander Dummer

Topik ini terus diteliti dan, seiring bertambahnya pengetahuan, pedoman pun berkembang. Bagaimanapun, hal itu sangat bergantung pada usia anak.

Meskipun rekomendasi waktu layar bervariasi tergantung siapa yang Mama tanya, rekomendasi tersebut juga bervariasi berdasarkan usia. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pedoman waktu layar berikut:

  • Untuk bayi: Paparan minimal atau penghindaran total untuk anak di bawah 18 bulan, kecuali untuk panggilan video singkat dengan orang terkasih.

  • Untuk balita: Penggunaan sesekali mulai usia 18 bulan, hingga maksimal satu jam program pendidikan harian untuk anak usia 2 hingga 5 tahun yang ditonton bersama orangtua.

  • Waktu layar untuk anak usia sekolah: Batasan harian yang berkelanjutan dan konsisten untuk waktu layar, memastikan hal itu tidak mengganggu sekolah, bermain fisik, interaksi sosial, kehidupan keluarga, dan tidur.

Seiring bertambahnya usia anak, AAP beralih ke pendekatan yang lebih fleksibel dan, alih-alih batasan waktu yang ketat, menyarankan keluarga untuk membuat rencana yang dipersonalisasi yang menyeimbangkan penggunaan layar dengan tidur, aktivitas fisik, dan bermain tanpa layar.

Tujuannya adalah untuk membantu anak-anak yang lebih besar dan remaja menciptakan hubungan yang sehat dengan layar. Pedoman AAP ini didasarkan pada anak, konten, cara menenangkan diri, apa yang "dikesampingkan" oleh media, dan komunikasi.

Singkatnya, pedoman ini menyarankan orangtua untuk menetapkan batasan mereka sendiri berdasarkan anak mereka sebagai individu, jenis konten yang mereka konsumsi, cara mereka bersantai, dan bagaimana waktu layar memengaruhi aspek penting lainnya dalam kehidupan keluarga mereka.

AAP juga merekomendasikan komunikasi yang sering dan berkelanjutan seputar media untuk membantu mengajarkan literasi digital kepada anak-anak, menekankan kualitas media digital daripada kuantitas.

Apa yang Termasuk dalam Waktu Layar atau Screen Time?

Pexels/Christian V

Waktu layar didefinisikan sebagai waktu yang dihabiskan anak duduk di depan layar atau perangkat, seperti komputer, TV, tablet, sistem permainan seluler, konsol game, atau ponsel pintar. Membaca artikel di website pun termasuk waktu layar.

Mengerjakan tugas sekolah di komputer termasuk waktu layar. Bahkan tugas kreatif seperti membuat seni digital pun termasuk waktu layar.

Dengan begitu banyak aspek kehidupan sehari-hari yang kini berlangsung melalui layar, semakin penting untuk fokus pada kualitas waktu penggunaan layar daripada hanya jumlahnya. Setiap aktivitas digital memiliki tujuan yang berbeda dan tidak serta merta “negatif” hanya karena terjadi di layar.

Mengapa Waktu Penggunaan Layar Harus Dibatasi untuk Anak-Anak?

Pexels/Tima Miroshnichenko

Penelitian menemukan bahwa waktu penggunaan layar untuk anak-anak di bawah usia 4 tahun mungkin terkait dengan keterlambatan dalam keterampilan komunikasi dan pemecahan masalah, serta menyebabkan masalah dalam perkembangan sosial-emosional, kecemasan, dan depresi.

Selain itu, para ahli mencatat bahwa semakin banyak waktu anak-anak duduk di depan layar, semakin sedikit mereka berada di luar, beraktivitas, bermain di alam, dan mengamati dunia di sekitar mereka. Hal ini dapat berdampak pada perkembangan secara keseluruhan dan menyebabkan peningkatan angka obesitas pada anak-anak, sesuatu yang menurut CDC sudah terjadi.

Lebih lanjut, waktu penggunaan layar dapat mengganggu tidur karena paparan cahaya biru, yang dapat menekan produksi melatonin, hormon yang membantu kita tidur.

Penggunaan layar dapat membuat mata, leher, dan bahu lelah, dan dapat menggantikan pengalaman penting di masa kanak-kanak: kebosanan. Meskipun hal-hal yang kita lakukan di layar tentu menyenangkan, kebosanan adalah sumber kreativitas dan penemuan diri yang ampuh, dan kita ingin memastikan untuk memberi ruang bagi hal itu.

Meskipun beberapa negara telah mengambil langkah-langkah sendiri terkait waktu penggunaan layar, kenyataannya adalah layar merupakan bagian dari masa kanak-kanak modern. Bahkan, menonton film bersama keluarga dan menonton acara TV bersama saudara kandung dapat menjadi kenangan indah masa kecil.

Itu penjelasan tentang temperamen anak bisa pengaruhi kebiasaan nonton TV. Apakah Mama juga memberikan waktu menonton untuk si Kecil?

Editorial Team