Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

3 Anak Jago Coding Raih Podium di Kompetisi Teknologi

3 min read
3 Anak Jago Coding Raih Podium di Kompetisi Teknologi
Dok. Future Creator Fest 2026
  • Cherryl Valisha Leola, 11 tahun, meraih juara pertama coding usia 10–12 tahun di Road To Future Creator Fest 2026 lewat proyek Roblox Studio, Cyber Tower Escape the AI Core.

  • Hendy Wijaya, 15 tahun, menempati juara kedua coding usia 13–16 tahun dengan game PingPong di Construct 3, sekaligus mengikuti kategori robotik.

  • Felix Adriel Halomoan Sihotang, 13 tahun, meraih juara ketiga coding usia 13–16 tahun melalui PingPong Game; ketiganya didampingi pelatih Technokids selama persiapan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Siapa bilang kalau coding hanya bisa dipelajari dan pahami oleh orang dewasa? Anak-anak juga bisa mempelajari ini kok, Ma.

Seperti ketiga anak remaja ini yang berhasil meraih podium dalam kompetisi coding pada ajang Road To Future Creator Fest 2026. Ketiganya adalah Cherryl Valisha Leola, Hendy Wijaya, dan Felix Adriel Halomoan Sihotang.

Kompetisi ini berlangsung di Carstensz Mall, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 25 Juli 2026, beberapa waktu.

Mereka berlaga di tingkat usia dan software yang berbeda. Prestasi ini tentu jadi bukti bahwa anak-anak Indonesia mampu bersaing di bidang teknologi sejak dini.

Bisa jadi motivasi untuk anak-anak muda lainnya, berikut Popmama.com rangkumkan cerita lengkapnya terkait prestasi membanggakan dari ketiga anak ini.

  1. 1. Cherryl Valisha Leola, juara 1 kategori coding usia 10–12 tahun

    Cherryl Valisha Leola
    Dok. Future Creator Fest 2026

    Cherryl Valisha Leola merupakan gadis berusia 11 tahun yang berhasil meraih juara pertama untuk kelompok usia 10–12 tahun.

    Ia mengikuti perlombaan dengan menggunakan Roblox Studio. Cherryl merupakan murid program DIGIKIDZ tingkat Teenager 1 di Technokids, dengan proyeknya berjudul Cyber Tower Escape the AI Core.

    Setelah menjalani pembelajaran selama lebih dari satu tahun, proyek ini berhasil membawanya meraih podium di peringat pertama.

    Meski begitu, proses persiapan lombanya tentu tidak selalu mudah, Ma. Cherryl mengaku perlu mencari berbagai inspirasi menjelang perlombaan.

    "Pas prosesnya itu sebenarnya agak susah, jadi harus banyak cari-cari inspirasi dari malam sebelumnya lomba itu," ujar Cherryl.

    Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil yang tidak ia duga. Saat namanya diumumkan sebagai juara pertama, Cherryl merasakan berbagai emosi sekaligus.

  2. 2. Hendy Wijaya, juara 2 kategori coding usia 13–16 tahun

    Hendy Wijaya
    Dok. Future Creator Fest 2026

    Berbeda dari Cherryl, Hendy Wijaya yang berusia 15 tahun mengikuti dua kategori sekaligus, yakni coding dan robotik.

    Pada kategori coding, ia membuat permainan PingPong menggunakan Construct 3. Remaja satu ini merupakan murid program ROBOTKIDZ tingkat Inventor di Technokids.

    Berkat karyanya tersebut, Hendy berhasil meraih juara kedua pada kelompok usia 13–16 tahun. Kemampuannya membuktikan bahwa anak usia remaja bisa menguasai logika pemrograman dengan baik.

    Keikutsertaannya di dua kategori sekaligus juga menjadi bukti nyata semangat belajar yang tinggi. Ini jadi contoh nyata bahwa anak bisa mengembangkan lebih dari satu keterampilan teknologi sekaligus.

  3. 3. Felix Adriel Halomoan Sihotang, juara 3 kategori coding usia 13–16 tahun

    Felix Adriel Halomoan Sihotang
    Dok. Future Creator Fest 2026

    Felix Adriel Halomoan Sihotang yang berusia 13 tahun meraih juara ketiga pada kelompok usia yang sama seperti Hendy.

    Murid program DIGIKIDZ tingkat Teenager 2 di Technokids ini juga menggunakan Construct 3, Ma, dengan proyek PingPong Game yang dipelajarinya selama satu tahun sebelum mengikuti kompetisi.

    Selama persiapan, ketiga anak tersebut mendapat pendampingan dari Coach Pengajar Technokids, Bimo Danang Febryanto.

    Penilaian lomba pun disesuaikan dengan usia peserta. Untuk kelompok usia 7–9 tahun, penilaian berfokus pada kreativitas dalam membuat cerita dan animasi.

    Sementara itu, kelompok usia 13–16 tahun dinilai berdasarkan kemampuan logika pemrograman, fungsi interaktif, penyelesaian tantangan, kesesuaian tema, dan ketepatan waktu.

    Pendiri dan Direktur Utama Course-Net, ITBOX, dan Technokids, Fransiskus Alvin, mengatakan hal yang paling membanggakan bukan hanya hasil akhir, tapi bagaimana perjuangan mereka.

    "Yang membanggakan adalah bagaimana ketekunan dan juga daya juang yang mereka miliki," ujar Alvin.

    Menurutnya, ketiga anak tersebut menunjukkan konsistensi dan kemauan untuk terus belajar. Meski harus berhadapan dengan peserta lain yang mungkin memiliki waktu belajar lebih panjang.

    Prestasi ketiga anak ini tentu bahwa coding bisa jadi keterampilan berharga bagi anak sejak dini. Terlebih di era teknologi saat ini, sudah banyak aplikasi serta kelas coding yang bisa dengan mudah anak ikuti.

    Dengan dukungan dan pendampingan yang tepat, anak kita pun bisa mengembangkan bakat teknologinya, Ma. Yuk, dukung minatnya dalam dunia teknologi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More