Tontonan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian anak dan remaja. Mulai dari film, serial, anime, hingga video pendek di media sosial, berbagai konten tersebut dapat memperkenalkan anak pada karakter, emosi, cara berkomunikasi, hingga cara menyelesaikan masalah.
Hal ini kembali menjadi perhatian setelah kasus seorang pelajar SMK yang meninggal setelah tertemper KRL di Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan, pada Agustus 2026. Sebelum kejadian, terdapat unggahan media sosial korban yang kemudian ramai diperbincangkan, termasuk konten yang berkaitan dengan anime. Polisi juga mengingatkan masyarakat agar tidak berspekulasi mengenai kejadian tersebut.
Sebagai catatan penting, kasus pelajar 16 tahun yang tertemper kereta di Jurangmangu digunakan sebagai konteks untuk membahas pengaruh media secara umum. Berdasarkan pemberitaan yang tersedia, belum ada dasar untuk menyatakan bahwa kerap menonton anime menjadi penyebab kejadian tersebut.
Karena penyebab perilaku ekstrem atau tindakan bunuh diri bersifat kompleks dan multifaktor, sebaiknya tidak menarik kesimpulan sebab-akibat hanya dari jenis tontonan atau unggahan media sosial seseorang.
Ini membuat konten anime dalam unggahan yang viral sebenarnya tidak dapat dijadikan bukti bahwa anime menyebabkan kejadian yang dialami korban. Namun, kasus ini bisa menjadi momentum bagi orangtua untuk memahami bagaimana sebenarnya tontonan dapat memengaruhi cara anak melihat dunia dan berperilaku.
Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.
