“Penyakit jantung rematik sering datang tanpa keluhan, biasanya menyerang anak remaja,” kata Annisa Pohan Yudhoyono, Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, saat acara ‘Konferensi Pers Hari Jantung Sedunia 2026’ di Yayasan Jantung Indonesia, Rabu (23/9/2026).
Penyebab Penyakit Jantung Rematik, Banyak Dialami Anak Indonesia

Penyakit jantung rematik banyak menyerang anak dan remaja usia 5–15 tahun, sering tanpa gejala, serta berisiko menyebabkan kerusakan katup jantung permanen, disabilitas, hingga kematian.
PJR dipicu respons autoimun terhadap infeksi Group A Streptococcus, termasuk radang tenggorokan atau infeksi kulit yang tidak diobati tuntas; lingkungan padat dan kebersihan buruk memudahkan infeksi.
Infeksi berulang dapat membuat imun merusak katup jantung hingga fibrosis, kebocoran, atau penyempitan. YJI menggelar skrining dini di Malang, Tulang Bawang, Bekasi, dan Minahasa Utara.
Penyakit Jantung Rematik (PJR) menjadi salah satu masalah eksehatan serius yang banyak menyerang anak-anak dan remaja di Indonesia, khususnya anak usia 5-15 tahun.
Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan katup jantung permanen, memicu disabilitas seumur hidup, bahkan hingga berujung pada kematian.
Masih jarang diketahui banyak orang, berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut terkait penyebab penyakit jantung rematik.
Table of Content
1. Penyakit jantung rematik dapat berawal dari infeksi tenggorokan

Popmama.com/Sania Chandra Penyakit jantung rematik sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas dan dapat bermula dari infeksi akibat bakteri. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah radang tenggorokan yang tidak mendapatkan pengobatan secara tuntas.
“Penyakit ini sering tanpa gejala dan berawal dari bakteri. Awalnya radang tenggorokan dan tidak tuntas obatnya. Itu akan menyerang autoimun dan ujungnya bisa ke jantung,” jelas Annisa Pohan.
Infeksi yang awalnya terlihat sederhana ternyata dapat memicu respons sistem kekebalan tubuh. Jika tidak ditangani dengan tepat, respons tersebut dapat berkembang dan pada akhirnya memengaruhi organ jantung.
2. Penyebab utamanya berasal dari infeksi bakteri

Popmama.com/Sania Chandra Penyakit jantung rematik terjadi akibat respons autoimun tubuh terhadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri Group A Streptococcus. Ketika tubuh berusaha melawan infeksi, sistem kekebalan tubuh justru dapat keliru menyerang jaringan tubuh sendiri, termasuk jaringan pada sendi, kulit, maupun organ lainnya seperti jantung.
Kondisi ini dapat bermula dari infeksi yang terlihat ringan, misalnya rasa sakit ketika menelan atau batuk yang tidak mendapatkan pengobatan. Infeksi kulit yang disertai nanah dan tidak ditangani juga dapat menjadi pemicunya.
“Jantung rematik itu diakibatkan karena diinfeksi. Jadi ini sederhana, misalnya sakit nelan, kadang sering batuk, terus nggak diobatin. Terus kemudian kadang-kadang ada namanya infeksi kulit, bernanah, tapi nggak diobati,” kata dr. Ade Meidian Ambari, SpJP(K), PhD, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah sekaligus Ketua Pengurus Pusat PERKI.
Masyarakat terkadang masih menganggap remeh keluhan seperti sakit ketika menelan atau infeksi, sehingga tidak segera mendapatkan pengobatan. Padahal, tubuh memiliki sistem kekebalan yang akan merespons ketika terjadi infeksi.
“Tubuh kita memiliki respons imun. Makanya penyakit ini paling sering terjadi di daerah yang kumuh, kebersihannya jelek, rumahnya padat. Kenapa? Karena kesehatan lingkungannya nggak bagus, sehingga mudah kena infeksi,” lanjutnya.
3. Respons imun yang keliru dapat merusak katup jantung

Popmama.com/Sania Chandra Ketika infeksi terjadi berulang kali, sistem kekebalan tubuh dapat memberikan respons yang berdampak pada katup jantung. Kondisi ini dapat terjadi karena sel yang terdapat pada katup jantung memiliki kemiripan dengan sel pada bakteri penyebab infeksi.
“Setiap sakit jantung pasti bergejala, paling nggak ada demam. Nah, kalau infeksinya terus-terusan terjadi, maka imunitas kita bisa menyerang katup kita, karena katup kita itu selnya sama dengan selnya si kuman gitu. Niatnya bagus dia bunuh kuman, tapi ternyata bunuh katup ini merusak katupnya,” jelas dr. Ade.
Respons sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melawan bakteri justru dapat menyerang jaringan katup jantung. Jika kondisi ini terus berlangsung, katup jantung dapat mengalami kerusakan dan mengganggu fungsinya.
Kerusakan pada katup jantung kemudian dapat menyebabkan terbentuknya fibrosis atau jaringan parut. Akibatnya, fungsi katup jantung dapat terganggu dan menimbulkan berbagai masalah pada jantung.
“Jadi namanya fibrosis, jaringan parut terus katupnya rusak. Apa yang terjadi? Bisa dia bocor, bisa dia bukanya nggak lebar namanya mitral stenosis. Itu yang nggak dikepalkan oleh penyakit jantung rematik,” sambungnya.
4. Jangan menyepelekan sakit tenggorokan dan infeksi kulit pada anak

Ilustrasi memberikan obat saat anak sakit (freepik.com/syda_productions) Pencegahan penyakit jantung rematik dapat dimulai dengan tidak menganggap sepele berbagai gejala infeksi.
Ketika anak mengalami keluhan seperti sakit saat menelan, batuk, atau infeksi kulit, orangtua dianjurkan untuk segera membawa anak mendapatkan pengobatan agar infeksi tidak berkembang menjadi lebih serius.
“Kalau ada keluhan menelan, batuk, infeksi kulit, cepat segera diobati. Selain diobati, perlu juga jaga kebersihan supaya nggak infeksi berulang. Karena infeksinya timbul berkali-kali sampai bertahun-tahun berujung membuat katupnya rusak,” jelas dr. Ade.
5. Yayasan Jantung Indonesia menghadirkan program skrining penyakit jantung rematik

Popmama.com/Sania Chandra Yayasan Jantung Indonesia (YJI) menghadirkan program skrining Penyakit Jantung Rematik (PJR) sebagai salah satu kegiatan utama dalam seluruh rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia 2026.
Skrining PJR menjadi salah satu bentuk nyata YJI untuk mendeteksi penyakit jantung rematik sejak dini, khususnya pada anak dan remaja, karena masih menjadi kelompok rentan terkena penyakit tersebut.
Program skrining PJR telah dan akan dilaksanakan di empat lokasi strategis, yaitu Malang, Tulang Bawang di Lampung, Bekasi, dan Minahasa Utara.
"Skrining PJR adalah bentuk deteksi dini dan intervensi tepat sasaran. Kami ingin memastikan tidak ada anak Indonesia yang kehilangan masa depannya karena penyakit jantung yang seharusnya bisa dicegah," ujar Annisa.
"Kami mengajak pemerintah, swasta, akademisi, dan seluruh masyarakat untuk bersinergi menciptakan ekosistem sehat. Kampanye ini tidak boleh hanya seremonial, tetapi harus menjadi gerakan berkelanjutan yang mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia," tutupnya.
Demikian informasi mengenai penyebab penyakit jantung rematik yang kerap menyerang anak dan remaja. Semoga informasi ini bisa membuat kita semua lebih aware untuk menjaga kesehatan jantung, ya.























