Febiola Korban Keracunan MBG di Karo Kehilangan Ingatan 70 Persen

- Febiola Br Purba, remaja korban dugaan keracunan MBG di Karo, mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen dan tidak mengenali keluarga, teman, maupun guru.
- Sejak 13 Agustus 2026, Febiola dirawat di lima rumah sakit. Keluarga kesulitan membiayai perawatan, susu khusus, dan kebutuhan lain setelah penghasilan mereka terhenti.
- Ombudsman mencatat 823 siswa diduga menjadi korban keracunan MBG di Sumatera Utara. Dugaan kelalaian di Karo terkait penyimpanan ikan pada suhu ruang lebih dari 12 jam.
Seorang remaja asal Karo, Sumatera Utara, Febiola, kini harus terbaring lemah. Ia bahkan disebut tidak lagi mengenali wajah Papa dan adiknya sendiri.
Remaja bernama lengkap Febiola Br Purba, korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara, mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen.
Kondisi terkini Febiola disebut seperti anak usia 3 tahun yang masih polos dan bergantung penuh pada orangtua. Keluarga pun harus berjuang ekstra di tengah keterbatasan biaya.
Untuk mengetahui informasi selanjutnya, berikut Popmama.com rangkumkan informasinya dari berbagai sumber.
1. Hilang ingatan dan perilaku seperti balita

Instagram.com/bkmedan_ Melansir dari IDN Times, Febiola merupakan anak keempat dari empat bersaudara yang didagnosis kehilangan banyak memori penting dalam hidupnya.
Icuk Sugiarto Purba, Papa dari Febiola, menceritakan dengan hati hancur bagaimana putrinya tidak lagi mengenali orang-orang terdekat.
Teman sekelas, guru, bahkan adik kandung dan Papanya sendiri dilupakannya.
Dokter menyebutkan ada dua kemungkinan penyebab sakit yang diderita Febiola. Bisa karena bakteri beracun atau racun dari jamur yang masuk ke tubuhnya.
Hasil pasti dari pemeriksaan akan diketahui dalam waktu 10 hari hingga 2 minggu ke depan.
Keluarga kini hanya bisa pasrah dan berdoa sambil menunggu kepastian diagnosis.
2. Perjuangan keluarga di tengah keterbatasan biaya

Magnific/rawpixel Sejak 13 Agustus 2026, Febiola sudah dirawat di lima rumah sakit berbeda. Perjalanannya dimulai dari RS Kabanjahe, RS Efarina, RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, dan kini di RS Amanda, Karo.
Rencananya pada Senin (7/9/2026) kemarin, Febiola akan kembali dirujuk ke RSUP Adam Malik, Medan. Perjalanan panjang ini tentu menguras tenaga, waktu, dan tentu saja biaya.
Icuk mengaku kesulitan memenuhi biaya perawatan putrinya. Pengeluaran terus mengalir sementara pemasukan dari pekerjaannya sebagai buruh kebun dan istri yang berjualan kerupuk harus terhenti.
"Kami sejujurnya agak kesulitan dengan biaya, karena tidak mungkin hanya makan saja. Kadang-kadang harus membeli kebutuhan anak kami," ungkap Icuk dilansir dari keterangan kepada IDN Times.
3. Biaya pengobatan menguras tabungan

Magnific/wavebreakmedia_micro Selama perawatan, keluarga Febiola sudah mengeluarkan biaya sekitar Rp3,5 juta dari tabungan mereka. Jumlah yang cukup besar bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan.
Belum lagi pengeluaran rutin untuk susu khusus yang harus dibeli dua kali seminggu. Sekali beli, mereka harus merogoh kocek Rp180.000.
"Kalau tidak ada pemasukan, tapi pengeluaran terus sampai kapan kalau begini terus. Saya tidak sanggup kalau melihat kondisi anak saya itu," keluh Papa dari Febiola.
Dokter memperkirakan Febiola harus menjalani perawatan selama setahun penuh dengan kontrol setiap minggu. Bayangkan betapa beratnya beban ini bagi keluarga kecil tersebut.
Sejauh ini, keluarga Febiola hanya mengandalkan bantuan dari forum, sekolah, dan sumbangan dari orang-orang baik. Namun bantuan langsung dari pemerintah disebut belum mereka terima.
Icuk berharap pihak penyelenggara program MBG dan aparat hukum mau bertanggung jawab. Ia meminta perawatan terbaik untuk putrinya dan penanganan dari dokter-dokter andal.
4. SPPG terkait mendapatkan tindakan tegas

Bgn.go.id Kepala Perwakilan Ombudsman RI Sumatra Utara, Herdensi Adnin, mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan. Sudah 823 siswa menjadi korban keracunan MBG.
Data ini mencakup 807 kasus di Kabupaten Karo, 11 kasus di Deli Serdang, dan 16 kasus di Pakpak Bharat.
Angka yang sangat memprihatinkan untuk program yang seharusnya membantu gizi anak.
Ombudsman akan mendorong tindakan tegas terhadap SPPG yang melakukan pelanggaran berat. Bahkan, mereka akan merekomendasikan penutupan SPPG yang terbukti melakukan kesalahan serius.
Dalam kasus Karo ini, Badan Gizi Nasional mengungkap dugaan kelalaian terjadi akibat penyimpanan bahan baku ikan, yang disebut tidak disimpan di freezer dan dibiarkan pada suhu ruang selama 12 jam atau lebih.
Febiola sendiri menjadi salah satu korban keracunan MBG di Kabupaten Karo, pada Kamis (13/8/2026) lalu.
Remaja yang dikenal sebagai sosok juara kelas di sekolah ini, justru harus terbaring lemah akibat kehilangan ingatan yang dialaminya.
Kisah Febiola menjadi pengingat pahit bahwa program yang diharuskan untuk kesejahteraan anak-anak ini bisa berubah menjadi mimpi buruk jika tidak dikelola dengan baik.
Keluarga berharap ada evaluasi menyeluruh agar tidak ada lagi korban di masa depan. Semoga Febiola segera pulih dan ingatannya kembali seperti sedia kala.






















