Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Fakta Percobaan Vaksin Flu Tanpa Suntikan di Australia

7 Fakta Percobaan Vaksin Flu Tanpa Suntikan di Australia
Pexels/paveldanilyuk
Intinya Sih
  • Peneliti di Murdoch Children’s Research Institute Australia sedang menguji vaksin flu berbentuk semprotan hidung untuk membandingkan efektivitas dan respons imun anak terhadap metode ini dibanding vaksin suntik.
  • Vaksin semprot hidung bekerja melalui sistem imun mukosa di saluran pernapasan atas dan telah digunakan di negara lain seperti Inggris serta Amerika Serikat sebelum diuji resmi di Australia.
  • Uji coba melibatkan anak usia 2–9 tahun dengan harapan menghasilkan data yang membantu WHO menentukan strain influenza, sekaligus menawarkan pengalaman vaksinasi yang lebih nyaman bagi anak takut jarum.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Mama, pernah membayangkan vaksin flu tanpa jarum suntik? Kabar menarik datang dari Australia. Dilansir dari kidsnews.com, saat ini para peneliti tengah menguji vaksin flu berbentuk semprotan hidung (nasal spray) sebagai alternatif vaksin suntik yang selama ini umum digunakan.

Penelitian ini dilakukan untuk melihat seberapa efektif vaksin semprot hidung dalam melindungi anak dari flu, sekaligus memahami bagaimana respons sistem imun anak terhadap metode vaksinasi yang berbeda. Kalau hasilnya menjanjikan, bukan tidak mungkin metode ini akan menjadi pilihan baru yang lebih nyaman, terutama untuk anak-anak yang takut jarum suntik.

Lalu, seperti apa fakta menarik di balik uji coba vaksin flu tanpa suntikan ini?

1. Australia sedang menguji vaksin flu berbentuk semprotan hidung

mama dan anaknya saat berkonsultasi dengan dokter
Pexels/LosMuertosCrew

Tim peneliti dari Murdoch Children’s Research Institute (MCRI) di Australia sedang menjalankan studi bernama Sniffles Study. Penelitian ini membandingkan vaksin flu semprot hidung dengan vaksin suntik untuk melihat bagaimana sistem imun anak merespons keduanya.

Melalui penelitian ini, para ahli ingin mengetahui apakah vaksin semprot bisa menjadi opsi perlindungan flu yang efektif sekaligus lebih nyaman untuk anak-anak.

2. Vaksin semprot hidung sebenarnya sudah digunakan di negara lain

seorang anak sedang dipakaikan plester di lengannya
Pexels/CDC

Meski masih tergolong baru di Australia, vaksin flu berbentuk nasal spray ternyata sudah lebih dulu digunakan di beberapa negara seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Kini, Australia untuk pertama kalinya mencoba menerapkan metode tersebut melalui uji coba resmi agar bisa melihat efektivitas dan keamanannya bagi anak-anak di sana.

3. Cara kerja vaksin ini berbeda dengan suntikan biasa

seorang anak perempuan sedang diperiksa dokter
Pexels/paveldanilyuk

Menurut dokter anak sekaligus peneliti klinis di MCRI, vaksin semprot bekerja melalui bagian sistem imun yang berbeda, yaitu sistem imun mukosa di saluran hidung.

Artinya, vaksin ini dirancang untuk bekerja langsung di area pertama tempat virus flu biasanya masuk ke tubuh, yaitu hidung dan saluran pernapasan atas.

Ke depannya, teknologi semprotan hidung ini bahkan berpotensi digunakan untuk jenis vaksin lain, tidak hanya vaksin flu.

4. Penelitian ini terbuka untuk anak usia 2–9 tahun

Mama menggendong anaknya
Pexels/LosMuertosCrew

Uji coba vaksin flu semprot ini dibuka untuk anak usia 2 hingga 9 tahun yang belum menerima vaksin flu tahun 2026.

Salah satu alasan studi ini dilakukan adalah karena World Health Organization (WHO) membutuhkan lebih banyak sampel respons imun anak untuk membantu menentukan jenis strain influenza yang akan dimasukkan ke vaksin flu di belahan bumi selatan setiap tahunnya.

Peneliti berharap data dari anak-anak bisa membantu menghasilkan vaksin yang lebih tepat sasaran.

5. Anak yang takut jarum suntik merasa lebih nyaman

seorang anak perempuan ditemani mamanya ke dokter
Pexels/LosMuertosCrew

Salah satu peserta awal penelitian adalah Cameron Fernando, anak laki-laki berusia 8 tahun yang biasanya takut jarum suntik.

Ibunya, Abigail Fernando, mengatakan pengalaman vaksin kali ini terasa jauh berbeda.

“Dia baik-baik saja setelahnya, tertawa dan tetap menjadi dirinya yang ceria,” ujar Abigail.

Karena Cameron sudah terbiasa menggunakan semprotan hidung, proses vaksinasi terasa seperti penggunaan nasal spray biasa, bukan vaksin yang menegangkan.

6. Untuk pertama kalinya, seorang anak tersenyum saat vaksin

seorang anak perempuan memeluk bonekanya
Pexels/LosMuertosCrew

Hal yang paling mengejutkan bagi keluarga Cameron adalah respons emosionalnya saat vaksin.

“I would say this was the first time Cameron has ever smiled during a vaccination,” kata Abigail.

Menurut sang ibu, biasanya proses sebelum dan saat penyuntikan menjadi bagian paling sulit bagi Cameron karena ia memiliki ketakutan cukup besar terhadap jarum (needle-phobic). Namun dengan metode semprot hidung, Cameron justru terlihat tenang dan tidak merasa takut.

7. Peneliti berharap vaksin ini bisa membuat proses imunisasi lebih nyaman

mama menemani sang anak saat diperiksa dokter
Pexels/paveldanilyuk

Meski masih dalam tahap penelitian, para peneliti optimistis metode ini bisa menjadi solusi yang lebih nyaman bagi anak-anak, khususnya yang memiliki kecemasan terhadap suntikan.

Abigail pun berharap vaksin semprot ini nantinya memiliki perlindungan yang setara atau bahkan lebih baik dibanding vaksin suntik.

“Kalau perlindungannya sama atau lebih baik, saya sangat mendukung metode ini, apalagi jika proses vaksinasi bisa jadi lebih mudah, tidak menegangkan, dan lebih nyaman,” ungkapnya.

Nah, Ma, itu dia fakta menarik tentang percobaan vaksin flu tanpa suntikan di Australia. Meski masih diuji, inovasi ini bisa menjadi kabar baik, terutama bagi anak yang takut jarum suntik. Kalau nanti terbukti efektif dan aman, bukan tidak mungkin vaksin semprot hidung jadi pilihan baru yang lebih nyaman untuk si Kecil, ya, Ma!

Share Article
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More