Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Jangan Sepelekan! Ini 7 Dampak Buruk Kehujanan saat Hamil Tua

Jangan Sepelekan! Ini 7 Dampak Buruk Kehujanan saat Hamil Tua
Pexels/Pixabay
Intinya Sih
  • Kehujanan saat hamil tua dapat meningkatkan risiko infeksi, flu, dan demam.

  • Udara dingin bisa memperparah kelelahan, nyeri sendi, dan kontraksi palsu.

  • Risiko terpeleset saat hujan lebih tinggi karena keseimbangan tubuh berkurang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Memasuki trimester ketiga, kondisi tubuh ibu hamil tentu berbeda dibanding awal kehamilan. Perut yang semakin membesar, daya tahan tubuh yang cenderung menurun, serta perubahan hormon membuat Mama lebih rentan terhadap gangguan kesehatan.

Salah satu hal yang sering dianggap sepele, yakni kehujanan saat hamil tua. Padahal, paparan air hujan yang disertai udara dingin bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan ibu hamil maupun janin jika tidak segera ditangani dengan tepat

Nah, dalam artikel Popmama.com telah merangkum deretan dampak buruk kehujanan saat hamil tua.

Yuk Ma, disimak!

Deretan Dampak Buruk Kehujanan saat Hamil Tua

1. Risiko flu dan infeksi saluran pernapasan meningkat

ilustrasi ibu hamil terkena flu
Freepik/lookstudio

Ketika Mama kehujanan, suhu tubuh dapat turun secara drastis, terutama jika pakaian basah tidak segera diganti.

Kondisi dingin ini membuat sistem imun bekerja lebih keras untuk menjaga kestabilan tubuh. Pada trimester ketiga, daya tahan tubuh ibu hamil memang cenderung melemah secara fisiologis karena perubahan hormon dan peningkatan kebutuhan energi.

Akibatnya, Mama lebih mudah terserang flu, batuk, pilek, atau radang tenggorokan. Meskipun terlihat ringan, infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan ibu hamil merasa kelelahan, kurang nafsu makan, sulit tidur, hingga mengalami demam.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu kontraksi dini atau membuat tubuh tidak optimal dalam menghadapi persalinan.

2. Memicu demam yang bisa berdampak pada janin

ilustrasi ibu hamil demam
Freepik/bearfotos

Air hujan sering kali bercampur dengan polusi udara, debu, serta mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan infeksi. Jika infeksi terjadi, tubuh akan merespons dengan meningkatkan suhu sebagai bentuk pertahanan alami.

Pada ibu hamil tua, demam tinggi di atas 38°C tidak boleh dianggap sepele. Peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan stres pada janin karena perubahan lingkungan dalam rahim. Selain itu, demam yang tidak segera ditangani juga dapat menyebabkan dehidrasi pada Mama, yang berdampak pada berkurangnya cairan ketuban.

Oleh karena itu, jika Mama mengalami demam setelah kehujanan, penting untuk segera beristirahat, memperbanyak cairan, dan berkonsultasi dengan tenaga medis bila suhu tidak kunjung turun.

3. Meningkatkan risiko infeksi kulit dan jamur

ilustrasi tanda infeksi kulit
Freepik

Air hujan yang jatuh di wilayah perkotaan biasanya sudah terkontaminasi oleh polutan dan kotoran. Saat mengenai kulit, terutama jika dibiarkan dalam kondisi lembap terlalu lama, risiko iritasi dan infeksi meningkat. Pada trimester akhir, kulit ibu hamil cenderung lebih sensitif akibat perubahan hormon dan peregangan kulit yang signifikan.

Area lipatan tubuh seperti ketiak, bawah payudara, selangkangan, dan lipatan perut menjadi lebih lembap dan rentan ditumbuhi jamur. Jika tidak segera dibersihkan dan dikeringkan, kondisi ini dapat menimbulkan gatal, kemerahan, bahkan infeksi jamur yang mengganggu kenyamanan Mama menjelang persalinan.

4. Tubuh lebih cepat lelah dan lemas

ilustrasi ibu hamil
Pexels/Pavel Danilyuk

Kehamilan tua membuat tubuh ibu hamil bekerja ekstra untuk menopang berat janin, plasenta, dan cairan ketuban yang semakin meningkat.

Saat kehujanan, tubuh harus menyesuaikan diri dengan suhu dingin, sehingga energi yang dibutuhkan pun bertambah. Proses adaptasi ini dapat menyebabkan Mama merasa cepat lelah, menggigil, atau bahkan pusing.

Jika Mama sudah memiliki riwayat tekanan darah rendah atau anemia, kondisi kehujanan dapat memperparah rasa lemas dan meningkatkan risiko hampir pingsan. Kelelahan berlebihan juga dapat memicu kontraksi palsu yang terasa semakin intens dan membuat Mama merasa tidak nyaman.

5. Memperparah nyeri sendi dan punggung

ilustrasi ibu hamil
Pexels/Leah Newhouse

Pada trimester ketiga, hormon relaksin meningkat untuk membantu melonggarkan sendi dan ligamen sebagai persiapan persalinan. Namun, kondisi ini juga membuat sendi lebih rentan terasa nyeri. Paparan udara dingin setelah kehujanan dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit dan otot menjadi lebih tegang.

Akibatnya, Mama mungkin merasakan nyeri yang lebih intens pada punggung bawah, panggul, lutut, dan pergelangan kaki. Jika rasa nyeri bertambah parah, aktivitas harian seperti berjalan, duduk, atau tidur bisa menjadi lebih sulit.

Hal ini tentu dapat mengurangi kualitas istirahat di masa-masa akhir kehamilan.

6. Risiko terpeleset dan cedera lebih tinggi

ilustrasi ibu hamil sakit kepala
Freepik

Saat hujan turun, permukaan jalan menjadi licin dan berbahaya. Pada kehamilan tua, pusat gravitasi tubuh Mama bergeser ke depan karena perut yang membesar, sehingga keseimbangan tubuh pun menurun. Jika Mama berjalan di area yang basah tanpa alas kaki yang tepat atau terburu-buru mencari tempat berteduh, risiko terpeleset meningkat.

Cedera akibat jatuh saat hamil tua dapat berdampak serius, mulai dari memar ringan hingga risiko trauma pada perut yang membahayakan janin. Oleh karena itu, kehati-hatian ekstra sangat diperlukan saat Mama harus beraktivitas di luar rumah ketika hujan.

7. Mengganggu kualitas istirahat menjelang persalinan

ilustrasi ibu hamil
Pexels/cottonbro studio

Setelah kehujanan, tubuh bisa merasa menggigil dan tidak nyaman dalam waktu yang cukup lama, terutama jika tidak segera mandi air hangat dan mengganti pakaian kering. Rasa dingin yang tersisa pada tubuh dapat mengganggu waktu istirahat di malam hari.

Padahal, menjelang persalinan, Mama sangat membutuhkan tidur yang cukup untuk menjaga stamina dan kesiapan fisik. Kurang tidur dapat membuat Mama lebih mudah stres, emosional, dan cepat lelah. Jika kondisi ini berlangsung berulang, kesiapan mental dan fisik menjelang persalinan bisa ikut terpengaruh.

Itulah deretan dampak buruk kehujanan saat hamil tua. Kehujanan saat hamil tua memang tidak selalu berujung pada masalah serius, tetapi tetap memiliki sejumlah risiko yang tidak boleh diabaikan.

Dengan menjaga suhu tubuh tetap hangat, segera membersihkan diri setelah kehujanan, dan memperhatikan tanda-tanda gangguan kesehatan, Mama dapat meminimalkan dampak buruk yang mungkin terjadi serta tetap sehat hingga waktu persalinan tiba.

FAQ Seputar Kehujanan saat Hamil Tua

Apakah kehujanan saat hamil tua pasti berbahaya?

Tidak selalu, tetapi tetap berisiko jika menyebabkan demam, infeksi, atau cedera akibat terpeleset.

Apa yang sebaiknya dilakukan setelah kehujanan?

Segera ganti pakaian basah, mandi air hangat, minum minuman hangat, dan istirahat cukup.

Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?

Jika muncul demam tinggi, kontraksi teratur, nyeri hebat, atau gerakan janin terasa berkurang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dimas Prasetyo
EditorDimas Prasetyo
Follow Us

Latest in Pregnancy

See More