Dok. Chalinee Thirasupa/Reuters
Selain orangtua yang harus lebih aware dan menjalin komunikasi terbuka pada anak, pihak sekolah dan tenaga pendidik juga punya peran yang sama pentingnya dalam mengatasi kasus perundungan.
Perundungan kecil sekali pun, baik verbal, fisik, maupun cyberbullying, wajib ditindak tegas oleh sekolah.
Sering kali guru atau pihak sekolah menganggap ejekan antar-siswa hanyalah "bercandaan anak muda". Padahal, pengabaian terhadap laporan bullying adalah pintu awal dari kehancuran mental anak.
Dalam kasus ini, pelaku disebut sudah sering dibully dan diejek, tapi tidak ada tindakan dari pihak sekolah yang membantu atau membelanya. Hal ini menimbulkan dendam yang akhirnya meledak dengan cara yang tragis.
Sekolah harus memiliki sistem pelaporan yang jelas, respons cepat terhadap setiap laporan, serta pendampingan psikologis bagi korban dan pelaku bullying.
Tragedi mengerikan ini tentu menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk lebih memerhatikan kesehatan mental anak-anak, terutama di masa remaja yang penuh tekanan.
Perundungan di sekolah yang dibiarkan dapat memicu dendam dan amarah yang terpendam hingga meledak dengan cara yang tak terduga. Selain itu, akses anak terhadap senjata api di rumah dan konten kekerasan di internet perlu diawasi ketat.
Sebagai orangtua, yuk, kita lebih peka terhadap perubahan perilaku anak dan jangan abaikan tanda-tanda peringatan seperti isolasi sosial, perubahan suasana hati, atau ketertarikan berlebihan pada kekerasan.
Apapun akan jauh lebih baik jika kita mencegahnya sebelum segalanya terlambat, Ma. Semoga kejadian serupa tak kembali terjadi pada anak-anak lain, ya.