Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

3 Masalah Kesehatan Anak Indonesia dan Solusi Inovatif Berbasis Sains

Venue acara Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
Intinya sih...
  • Tiga masalah kesehatan yang masih mengancam anak-anak Indonesia adalah stunting, anemia, dan masalah pencernaan
  • Literasi dan edukasi menjadi kunci utama dalam upaya meningkatkan kesehatan keluarga
  • Investasi terbaik untuk masa depan Indonesia adalah memastikan kesehatan Mama dan anak
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kesehatan Mama dan anak menentukan masa depan bangsa. Tanpa generasi penerus yang sehat, Indonesia tidak akan pernah mencapai potensi maksimalnya.

Namun, tiga masalah kesehatan krusial masih mengancam anak-anak Indonesia, yaitu stunting, anemia, dan masalah pencernaan.

Dalam acara "Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi" yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia pada 8 Januari 2026, telah hadir enam narasumber kompeten untuk membahas kondisi terkini dan solusi berbasis riset untuk mengatasi tiga isu kesehatan anak tersebut, di antaranya adalah:  

  • Joris Bernard, CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia

  • Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical and Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia

  • Dr. dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK (K), President of Indonesian Nutrition Association.

  • Dr. dr. Diana Sunardi, M.Gizi, Sp.GK (K), Dokter Spesialis Gizi Klinik, Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia

  • Dr. Ade Jubaedah, S.SiT, MM, MKM, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI)

  • Dr. Agustini E. Raintung, Direktur Eksekutif Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII)

Berikut Popmama.com jelaskan 3 masalah kesehatan anak Indonesia dan solusi inovatif berbasis sains.

Table of Content

1. Stunting masih menjadi PR di Indonesia

1. Stunting masih menjadi PR di Indonesia

Joris Bernard, CEO Danone Specialized Nutrition Indonesia
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan penurunan prevalensi stunting dari 34,7% di tahun 2019 menjadi 27,7% di tahun 2020, kemudian turun ke 24,4% pada 2021, dan mencapai 19,8% di tahun 2024.

Meski penurunan ini positif, Indonesia masih harus bekerja keras untuk mencapai target 14,2% pada tahun 2029.

"Stunting bukan cuma soal fisik yang pendek, tapi menghambat perkembangan otak anak," ungkap dr. Agustini. Dampak jangka panjangnya mencakup kemampuan kognitif yang rendah, daya tahan tubuh lemah, dan produktivitas terbatas di masa dewasa.

Penyebab utama stunting meliputi gizi yang tidak memadai selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), infeksi berulang, serta akses terbatas terhadap layanan kesehatan dan sanitasi.

Masalah stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Peran Mama perlu didukung oleh lingkungan dan sistem yang memadai.

2. Kolaborasi Penthahelix untuk cegah stunting

Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Pendekatan konvergensi di 1000 HPK membutuhkan kolaborasi dari lima elemen pentahelix, yaitu pemerintah, sektor swasta, organisasi profesi, akademisi, dan komunitas masyarakat.

Kolaborasi pentahelix juga diwujudkan melalui berbagai program seperti Generasi Maju Bebas Stunting dan Bersama Cegah Stunting yang fokus pada edukasi, deteksi dini, dan intervensi nutrisi.

Dari sisi komunitas, YPCII menjalankan program "Sehat Bersama Isi Piringku" yang menyasar anak-anak usia PAUD dan SD untuk edukasi gizi sejak dini.

Dr. Agustini dari YPCII menjelaskan bahwa organisasinya melakukan edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kader agar mereka mampu mengedukasi Mama lain tentang gizi seimbang.

"Kelas-kelas ibu hamil digelar di posyandu agar lebih banyak ibu yang mendapat akses edukasi," jelasnya.

3. Anemia bukan sekadar kekurangan darah

Sesi talk show "Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi"
Dok. BanyuComm

Anemia kerap dianggap sepele, padahal dampaknya sangat serius terhadap perkembangan kognitif anak dan kelangsungan hidup.

Di Indonesia, 27,7% ibu hamil mengalami anemia. Masalah ini membentuk siklus berbahaya. Di mulai dari remaja yang anemia menjadi ibu hamil yang anemia, lalu melahirkan bayi dengan risiko anemia pula.

Kematian ibu di Indonesia banyak disebabkan oleh anemia yang sudah terjadi sejak masa remaja, berlanjut hingga kehamilan.

Dr. Ade menambahkan, "Dampak anemia pada ibu hamil sangat besar. Bayi bisa lahir dengan berat badan rendah (BBLR) atau prematur. Sementara bagi ibu, anemia meningkatkan risiko pendarahan hingga kematian saat melahirkan."

"Anemia bukan cuma soal kurang darah, tapi juga mengganggu working memory atau kemampuan kognitif anak," tegas dr. Ray Basrowi. Anak yang anemia kesulitan berkonsentrasi, prestasi akademiknya menurun, dan produktivitasnya di masa depan terganggu.

4. 550.000 bidan dan kalkulator zat besi untuk lawan anemia

Dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Indonesia memiliki 550.000 bidan yang tersebar di seluruh provinsi. Mereka adalah garda terdepan dalam pencegahan anemia melalui pendampingan sejak masa sebelum kehamilan hingga melahirkan.

Dr. Ade menjelaskan bahwa bidan tidak hanya berperan sebagai penyedia layanan kesehatan. "Bidan juga edukator, fasilitator, dan community leader," ujarnya.

Peran ini diwujudkan melalui pembentukan tim pendamping keluarga yang mendampingi calon pengantin selama tiga bulan sebelum menikah, memastikan mereka bebas dari masalah kesehatan termasuk anemia.

Pendampingan berlanjut hingga masa kehamilan untuk memastikan asupan nutrisi dan zat besi terpenuhi dengan baik.

Upaya pencegahan anemia juga diperkuat melalui program screening yang telah dilakukan oleh 300.000 bidan menggunakan kalkulator zat besi untuk deteksi dini pada ibu hamil dan balita.

Program ini bahkan memecahkan Rekor MURI sebagai screening anemia terbesar di Indonesia.

Dari sisi nutrisi, Dr. Luciana menekankan pentingnya intervensi berbasis riset. "Zat besi harus didampingi dengan vitamin C agar penyerapannya optimal," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa edukasi tentang pola makan sehat harus dimulai sejak sebelum kehamilan, bukan hanya saat hamil.

Untuk memastikan program ini berjalan optimal, peningkatan kapasitas bidan melalui pelatihan, workshop, dan webinar menjadi krusial.

Dr. Ade menambahkan bahwa kolaborasi tidak hanya melibatkan bidan, tetapi juga semua stakeholder untuk mengatasi kekurangan sarana dan prasarana di lapangan.

5. Kekurangan serat ancam tumbuh kembang anak

Dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH
Dok. BanyuComm

Satu dari dua anak Indonesia kekurangan asupan serat. Masalah ini mungkin terdengar remeh, namun dampaknya sangat besar terhadap tumbuh kembang anak.

"50% anak Indonesia mengalami diare kronis," ungkap dr. Ray Basrowi. "Sistem pencernaan adalah pilar utama tumbuh kembang anak," jelasnya.

Dr. Ray menjelaskan ada tiga alasan mengapa sistem pencernaan sangat penting:

  • Penyerapan nutrisi hanya terjadi di sistem pencernaan. Tanpa pencernaan yang sehat, nutrisi tidak bisa diserap dengan baik.

  • Bakteri baik ada di sistem pencernaan. Bakteri baik inilah yang "menyetir" kesehatan tubuh, dan mereka membutuhkan serat sebagai makanan.

  • Nutrisi terserap optimal hanya jika sistem pencernaan berfungsi dengan baik.

Kekurangan serat menyebabkan bakteri baik tidak mendapat makanan, sehingga anak rentan konstipasi dan diare.

Kondisi gangguan pencernaan ini ternyata berdampak lebih jauh, anak yang sering mengalami masalah pencernaan cenderung sulit berkonsentrasi di sekolah karena merasa tidak nyaman.

6. Keragaman pangan dan edukasi gizi seimbang

Dr. Luciana Sutanto, MS. SpGK ketika diwawancara
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Dr. Diana menekankan pentingnya keragaman pangan dalam mendukung kesehatan pencernaan. "Keragaman pangan memberikan asupan serat yang berperan penting untuk bakteri baik di saluran cerna," jelasnya.

Jika saluran cerna sehat, maka zat gizi dapat tercerna dan diserap dengan baik.

Pedoman Gizi Seimbang 2014 dari Kemenkes sudah menjelaskan bagaimana pola makan sehat, termasuk jadwal, jenis, dan jumlahnya, baik untuk ibu hamil maupun anak.

Namun, tantangannya adalah penerapan di lapangan.

Dr. Diana menjelaskan bahwa tantangan utamanya meliputi awareness dari Mama sendiri, aksesibilitas, ekonomi, dan kesibukan orangtua dalam mencari keberagaman pangan.

Solusinya harus berbasis penelitian yang terstruktur dan melibatkan kolaborasi antara akademisi kesehatan dan stakeholder lainnya.

Dr. Luciana menambahkan bahwa saat ini banyak makanan komersial yang ditingkatkan kandungan zat besinya sebagai opsi lain selain makanan alami. "Intinya, makan sehat dan makan bergizi dengan keragaman yang cukup," ujarnya.

8. Kesehatan anak bisa menjadi investasi untuk masa depan

Sesi talk show "Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi"
Dok. BanyuComm

Anak yang sehat memiliki peluang jauh lebih baik di masa depan:

  • 10 kali lebih besar terhindar dari penyakit dan infeksi berulang
  • 4,6 kali lebih banyak menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi
  • 21% lebih tinggi penghasilannya saat dewasa

Dr. Ray menjelaskan bahwa untuk mendapatkan generasi yang hebat, Indonesia memerlukan Mama dan anak yang sehat dengan indikator kemampuan kognitif, perkembangan otak, dan daya tahan tubuh yang baik.

"Kalau tidak dibarengi, percuma. Anak gampang sakit, prestasi akademik dan produktivitasnya akan turun," tegasnya.

Investasi terbaik untuk masa depan Indonesia adalah memastikan setiap anak tumbuh dengan optimal, karena kesehatan Mama dan anak adalah masa depan bangsa.

8. Literasi kesehatan dan riset kolaboratif sebagai fondasi kesehatan

Narasumber talk show "Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi"
Dok. BanyuComm

Literasi dan edukasi menjadi kunci utama dalam upaya meningkatkan kesehatan keluarga, karena 70% keputusan kesehatan berada di tangan Mama.

Namun, derasnya arus informasi di media sosial kerap menghadirkan tantangan baru, karena tidak semua konten kesehatan berbasis riset dan tervalidasi secara ilmiah.
Untuk menjawab tantangan tersebut, solusi kesehatan perlu dibangun di atas riset yang terstruktur dan kolaborasi lintas sektor.

Berbagai publikasi ilmiah yang membahas isu malnutrisi, stunting, anemia, hingga kesehatan Mama dan anak menjadi landasan penting dalam merancang intervensi yang tepat sasaran.

Kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, dan pemerintah pun menjadi krusial untuk memastikan hasil riset dapat diterjemahkan menjadi program nyata di lapangan.

Inisiatif seperti GESID, Generasi Maju Bebas Stunting, Kalkulator Zat Besi, dan Bidan Generasi Maju menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis literasi, riset, dan kolaborasi pentahelix dapat mendorong solusi kesehatan jangka panjang yang berkelanjutan.

Apakah Mama sudah memastikan asupan gizi anak terpenuhi untuk mencegah stunting dan anemia? Yuk, mulai dari memilih makanan bergizi seimbang hari ini!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

68 Anak Indonesia Terpapar Ideologi Neo-Nazi dan White Supremacy, Apa Itu?

19 Jan 2026, 14:51 WIBBig Kid