“Nemu foto sus-ku yang dulu kasar. Gara-gara dia, aku sampai sekarang udah beranak 2 kalau semisal mandi pakai gayung ‘kelagepan’. Jadi harus tahan napas dan jinjit-jinjit gitu,” tulis Bella.
Membekas, Akun Threads Ini Cerita Trauma Masa Kecil oleh Pengasuhnya

Bella Sutrisno membagikan pengalaman perlakuan kasar dari pengasuh saat kecil yang masih memunculkan rasa tidak nyaman hingga dewasa.
Pengalaman tersebut memengaruhi keputusan Bella untuk menjadi full-time mom dan memantau langsung pengasuhan kedua anaknya.
Dukungan lingkungan yang aman serta bantuan profesional dapat membantu anak menghadapi dampak pengalaman traumatis.
Pengalaman tidak menyenangkan yang dialami seorang anak di masa kecil dapat meninggalkan dampak hingga ia beranjak dewasa. Hal inilah yang diceritakan salah satu pengguna Threads, Bella Sutrisno melalui akun @bellasp02.
Ia membagikan foto bersama pengasuhnya saat kecil sekaligus menceritakan pengalaman mendapat perlakuan kasar yang menurutnya masih membekas hingga kini. Bahkan setelah memiliki dua anak, ada situasi tertentu yang masih memunculkan kembali rasa tidak nyaman dari pengalaman masa kecil tersebut.
Curhatan Bella ternyata mendapat banyak tanggapan dari pengguna Threads lainnya. Ribuan komentar menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil yang membekas hingga dewasa juga dirasakan oleh sejumlah warganet.
Berikut Popmama.com telah merangkum cerita selengkapnya sekaligus informasi mengenai dampak trauma masa kecil pada anak.
Table of Content
1. Curhat soal trauma masa kecil akibat perlakuan pengasuhnya

Threads.com/@bellasp02 Bella melalui akun Threads miliknya menceritakan pengalaman masa kecil yang hingga kini masih ia ingat. Saat kecil, ia pernah diasuh oleh seorang pengasuh yang menurut pengakuannya kerap memperlakukannya dengan kasar.
Pengalaman tersebut ternyata meninggalkan rasa tidak nyaman yang masih muncul dalam aktivitas tertentu meski Bella kini telah beranjak dewasa dan mempunyai dua anak.
2. Pengalaman tersebut memengaruhi caranya mengasuh anak

Pexels/Elina Fairytale Meski telah terjadi bertahun-tahun lalu, Bella mengaku pengalaman bersama pengasuh tersebut masih membekas. Pengalaman masa kecil itu bahkan menjadi salah satu pertimbangannya dalam menentukan bagaimana ia ingin terlibat dalam pengasuhan kedua anaknya.
Bella memilih menjadi full-time mom agar dapat memantau keseharian anak secara langsung. Meski tetap mendapatkan bantuan dari pengasuh, ia ingin tetap mengetahui bagaimana anak-anaknya dirawat sehari-hari.
“Gimana nggak trauma, ya. Dulu dalam setahun dikasarin. Salah satu alasan aku mau full-time mom, meskipun dibantu mbak, tapi bisa pantau langsung,” imbuhnya.
Pengalaman Bella tentu tidak dapat digunakan untuk menggambarkan semua hubungan antara anak dan pengasuh. Namun, ceritanya dapat menjadi pengingat bagi orangtua mengenai pentingnya memperhatikan kenyamanan dan keamanan anak bersama siapa pun yang terlibat dalam pengasuhan.
3. Mengapa pengalaman traumatis masa kecil bisa membekas hingga dewasa?

Pexels/Ron Lach Pengalaman seperti kekerasan, pelecehan, atau pengabaian pada masa kanak-kanak termasuk dalam pengalaman yang berpotensi traumatis. CDC menjelaskan bahwa Adverse Childhood Experiences atau ACEs dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang hingga dewasa.
Ketika anak mengalami stres berat atau berkepanjangan, sistem respons stres tubuh dapat terus teraktivasi. Kondisi yang disebut toxic stress ini dapat memengaruhi perkembangan otak dan respons tubuh terhadap stres. Karena itu, pengalaman tertentu pada masa kecil dapat berkaitan dengan respons emosional maupun fisik ketika seseorang menghadapi situasi yang mengingatkannya pada pengalaman tersebut di kemudian hari.
Meski demikian, tidak semua anak yang mengalami peristiwa tidak menyenangkan akan mengalami trauma berkepanjangan atau gangguan kesehatan mental. Dampaknya dapat berbeda pada setiap individu dan dipengaruhi banyak faktor, termasuk dukungan dari orang-orang terdekat serta lingkungan yang aman dan stabil.
4. Trauma masa kecil dapat dipulihkan meski ingatannya tidak selalu hilang

Pexels/Annushka Ahuja Pemulihan dari trauma tidak selalu berarti seseorang benar-benar melupakan peristiwa yang pernah dialaminya. Tujuan penanganan lebih kepada membantu seseorang memahami pengalaman tersebut, mengurangi gejala yang mengganggu, dan memiliki respons yang lebih sehat ketika menghadapi pemicu.
National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa sebagian orang dapat pulih secara alami setelah mengalami peristiwa traumatis, sementara sebagian lainnya membutuhkan bantuan profesional. Psikoterapi menjadi salah satu bentuk penanganan yang dapat digunakan untuk membantu seseorang menghadapi gejala terkait trauma.
Bagi anak, keberadaan orangtua atau pengasuh yang memberikan rasa aman, stabil, dan suportif juga berperan penting. CDC menyebut hubungan dan lingkungan yang aman, stabil, serta penuh perhatian dapat membantu melindungi anak dari dampak buruk pengalaman masa kecil.
5. Kapan anak membutuhkan pertolongan profesional karena trauma?

Pexels/MART PRODUCTION Respons anak setelah mengalami kejadian traumatis bisa berbeda-beda. NIMH menjelaskan bahwa anak kecil dapat menunjukkan perubahan seperti kembali mengompol setelah sebelumnya sudah mampu menggunakan toilet, menjadi jauh lebih melekat pada orangtua, sulit berbicara, atau memainkan kembali kejadian menakutkan melalui permainan.
Anak yang lebih besar dapat menunjukkan perubahan perilaku, menjadi lebih mudah marah, atau mengalami masalah emosional.
National Child Traumatic Stress Network menyarankan orangtua mempertimbangkan bantuan profesional apabila trauma yang dialami anak tergolong berat atau berlangsung berulang, atau ketika gejala dan rasa tertekan tetap bertahan sekitar satu bulan setelah kejadian.
Gangguan tidur, perubahan pola makan, sulit berkonsentrasi, kesulitan mengendalikan emosi, hingga terganggunya hubungan sosial juga bisa menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
Orangtua dapat memulai dengan berkonsultasi kepada dokter anak, psikolog anak, atau tenaga kesehatan mental yang memiliki pengalaman menangani trauma pada anak. Yang terpenting, anak perlu mengetahui bahwa rumah dan orang-orang terdekatnya merupakan tempat yang aman untuk bercerita tanpa takut disalahkan.
Sumber:
- CDC dalam “About Adverse Childhood Experiences (ACEs)”
- CDC dalam “Preventing Adverse Childhood Experiences”
- National Institute of Mental Health (NIMH) dalam “Coping With Traumatic Events”
- National Child Traumatic Stress Network (NCTSN) dalam "Early Childhood Trauma”





















