Cerita Dokter: Anak 6 Tahun Alami Perdarahan usai Dilecehkan Temannya

Seorang anak perempuan sekitar enam tahun dibawa ke puskesmas setelah mengalami perdarahan di area genital.
Dokter Dinar Agustin menyebut pengawasan di sekolah dan penggunaan media anak perlu diperhatikan, tanpa memastikan penyebab perilaku tersebut.
Orangtua diingatkan mengenalkan batas tubuh, area privat, keberanian meminta pertolongan, dan komunikasi terbuka.
Kasus kekerasan seksual pada anak usia dini kembali menjadi perhatian. Seorang anak perempuan berusia sekitar 5 sampai 6 tahun dibawa ke puskesmas setelah mengalami perdarahan di area genital.
Kejadian ini dibagikan dr. Dinar Agustin melalui sebuah video di Instagram @dokter.dinar. Setelah anak ditenangkan dan diajak berbicara perlahan selama sekitar 30 menit, terungkap bahwa seorang teman laki-laki di sekolah diduga memasukkan jarinya ke area genital korban.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan anak perlu dilakukan di berbagai lingkungan, termasuk sekolah. Selain pengawasan dari orang dewasa, anak juga perlu dibekali pemahaman tentang batas tubuh, bagian tubuh privat, serta keberanian untuk meminta pertolongan ketika merasa tidak aman.
Berikut Popmama.com rangkum kronologi kasus sekaligus langkah pencegahan yang perlu diperhatikan orangtua menurut penjelasan dr. Dinar Agustin.
Table of Content
1. Anak mengalami perdarahan setelah diduga dilecehkan teman sekelas

Pexels/Karolina Grabowska Menurut penuturan dr. Dinar Agustin, seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun datang ke puskesmas karena mengalami perdarahan di area genital. Kondisi tersebut membuat sang Mama panik dan langsung mencari pertolongan medis.
“Jujur, dr. Dinar aja sampai sempat nge-freeze pas nerima pasien anak perempuan umurnya baru sekitar enam tahun yang dibawa ke puskesmas karena area kemaluannya berdarah,” jelasnya di video itu.
Setelah sekitar 30 menit diajak berbicara perlahan hingga merasa lebih tenang, anak kemudian menceritakan bahwa seorang teman laki-laki di sekolah memasukkan jarinya ke area genitalnya.
“Setelah dokternya pelan-pelan ngajak ngobrol buat tenangin anak yang lagi trauma ini selama 30 menitan, terungkaplah sebuah fakta yang bikin miris. Ternyata, seorang teman laki-laki di sekolahnya masukin jarinya ke alat kelamin korban,” pungkasnya.
2. Sekolah tetap membutuhkan pengawasan terhadap anak

Pexels/ROMAN ODINTSOV Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa sekolah bukan berarti sepenuhnya bebas dari risiko. Anak usia dini masih membutuhkan pengawasan karena mereka sedang belajar memahami batas tubuh, perilaku yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta cara menghormati tubuh orang lain.
dr. Dinar menyoroti hal tersebut melalui pengalamannya menangani kasus ini.
“Kasus ini ngebuktiin langsung ke kita kalau sekolah itu ternyata nggak 100 persen bebas risiko lho,” tegasnya.
Namun, kasus ini tidak cukup untuk langsung menyimpulkan bahwa pihak sekolah pasti lalai. Yang lebih penting adalah mengevaluasi bagaimana pengawasan dilakukan, bagaimana anak bisa mendapat pertolongan, dan bagaimana sekolah merespons ketika ada laporan kekerasan.
3. Paparan konten perlu dibatasi, tetapi penyebab perilaku anak belum bisa dipastikan

Pexels/Yan Krukau Dalam videonya, dr. Dinar juga menyoroti kemungkinan paparan informasi tanpa filter pada anak.
“Ini bukti nyata kalau anak di bawah umur sekarang udah gampang banget terpapar informasi tanpa sensor. Makanya pengawasan kita benar-benar nggak boleh lengah,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut bisa menjadi pengingat bagi orangtua untuk lebih memperhatikan penggunaan gawai dan media sosial anak. Namun, dari kasus ini saja belum bisa dipastikan bahwa perilaku anak laki-laki tersebut berasal dari media sosial, pornografi, atau faktor tertentu di rumah. Karena itu, penyebabnya sebaiknya tidak diasumsikan tanpa informasi tambahan.
4. Anak perlu dikenalkan area tubuh privat sejak dini

Pexels/cottonbrostudio Salah satu langkah preventif yang ditekankan dr. Dinar adalah mengenalkan batas tubuh kepada anak sejak dini. Anak perlu tahu bahwa ada bagian tubuh privat yang tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain.
“Mulai kenalin juga area privasi tubuh yang nggak boleh disentuh siapa pun, bahkan oleh papanya sendiri,” tuturnya.
Untuk konteks edukasi, orangtua bisa menjelaskan bahwa sentuhan pada area privat hanya boleh terjadi dalam kondisi tertentu, misalnya untuk kebutuhan kesehatan atau kebersihan, dilakukan secara aman, dan dengan pendampingan orang dewasa yang dipercaya.
5. Ajarkan anak berteriak minta tolong dan berani bercerita

Pexels/Annushka Ahuja Selain mengenalkan bagian tubuh privat, dr. Dinar juga mengingatkan orangtua untuk membekali anak dengan respons sederhana ketika merasa terancam.
“Ajarin anak buat berani teriak tolong kalau mereka merasa terancam, dan pastinya, bangun komunikasi yang super terbuka setiap harinya biar mereka merasa aman buat cerita,” pungkasnya.
Komunikasi terbuka menjadi penting karena anak tidak selalu langsung mampu menjelaskan pengalaman yang membuatnya takut atau tidak nyaman. Orangtua perlu menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dimarahi atau disalahkan.
“Melindungi anak-anak kita benar-benar menuntut pengawasan dan komunikasi nyata yang tidak boleh terputus sejak dari rumah,” jelas dr. Dinar.
Itulah tadi cerita mengenai anak 6 tahun mengalami perdarahan usai dilecehkan temannya. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan, edukasi batas tubuh, dan komunikasi terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita ketika mengalami hal yang tidak nyaman.
























