Instagram.com/luthfie.daily
Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan korban bersama keluarganya ke Satreskrim Polrestabes Surabaya Ma.
Berdasarkan proses interogasi yang dipimpin langsung oleh Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Luthfie, terungkap bahwa aksi tidak terpuji ini sudah berlangsung secara bertahap dengan memanfaatkan relasi kuasa antara pelatih dan atlet.
JL melancarkan aksi awalnya di area latihan dengan dalih melatih konsentrasi dan melakukan "evaluasi" saat kemampuan menembak korban dinilai kurang stabil. Di momen inilah kontak fisik yang tak pantas mulai terjadi.
"Kalau nembaknya nggak stabil, saya evaluasi kenapa-kenapa... ya saya gelitik aja gini," aku JL di hadapan penyidik saat ditanya mengenai alasannya menyentuh fisik korban.
Tak berhenti di situ Ma, JL juga kerap menawarkan diri untuk mengantar korban pulang menggunakan mobil pribadinya.
Di dalam kendaraan tersebut, pelaku melancarkan tindakan asusila seperti merangkul, memeluk, hingga meraba bagian sensitif korban.
Puncak dari aksi pelecehan ini terjadi ketika pelaku mengajak korban ke sebuah kamar hotel.
Dengan dalih ingin memberikan ruang privat agar korban bisa bebas "curhat" dan berkonsultasi mengenai kendala latihannya, pelaku justru memanfaatkan situasi tertutup tersebut.
Di dalam kamar hotel, pelaku meminta korban melucuti seluruh pakaiannya dan melakukan tindakan asusila.
Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa pelaku sempat beralasan kepada keluarganya bahwa ia hanya khilaf dan merasa "terlalu dekat" dengan korban.