Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Curhat Pilu Seorang Mama yang Anaknya Jadi Korban Pelecehan oleh Saudara Sendiri

Curhat Pilu Seorang Mama yang Anaknya Jadi Korban Pelecehan oleh Saudara Sendiri
Magnific/jcomp
Intinya Sih
  • Seorang Mama membagikan kisah pilu anaknya yang menjadi korban pelecehan oleh sepupunya sendiri, menggambarkan rasa bersalah dan kebingungan dalam menghadapi trauma keluarga.

  • dr. Deva menyoroti dampak serius pelecehan seksual pada anak usia dini, termasuk risiko PTSD, depresi, serta gangguan perkembangan sosial dan emosional jika tidak segera ditangani.

  • Kisah ini menegaskan pentingnya pengawasan dan edukasi seksualitas sejak dini di era digital agar anak memahami batas tubuhnya serta berani melapor bila merasa tidak nyaman.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Menjadi orangtua adalah perjalanan penuh kebahagiaan sekaligus tantangan. Namun, bagaimana jika kebahagiaan itu tiba-tiba terganggu oleh kejadian paling mengerikan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya?

Rasa bersalah dan ketakutan tentu menyelimuti, pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, dan hati setiap orangtua pun akan hancur karena merasa gagal melindungi buah hatinya.

Perasaan inilah yang kemudian dirasakan oleh seorang mama dari anak laki-laki berusia 4 tahun. Melalui pesan langsung kepada dr. Deva Putriane, seorang konselor ASI dan MPASI, ia menceritakan bahwa anaknya menjadi korban pelecehan oleh anak kakaknya sendiri yang masih berusia 5 tahun.

Kepanikan dan kebingungan menghantuinya, hingga meminta bantuan sang dokter apa yang harus dilakukan agar kejadian ini tidak berdampak pada masa depan si Kecil.

Kisah ini dibagikan oleh dr. Deva melalui aku Instagram miliknya untuk mengingatkan kita semua, betapa pentingnya pengawasan dan kewaspadaan orangtua di era yang semakin kompleks ini.

Berikut Popmama.com rangkumkan informasi selengkapnya.

1. Kronologi yang diceritakan Mama dari korban

Perundungan di sekolah
Magnific/Freepik

Dalam pesan yang ditulisnya, sang Mama mengungkapkan perasaan hancur dan gagal sebagai orangtua. Ia menceritakan bahwa anak laki-lakinya yang masih berusia dini menjadi korban pelecehan oleh anak kakaknya sendiri, yang usianya baru 5 tahun.

Bayangkan, pelaku dan korban sama-sama masih anak-anak, dan mereka adalah keluarga dekat. Sangat memilukan, bukan?

Perasaan bersalah dan bingung tampak jelas dalam curhatannya. Pertanyaan yang paling mengusik pikirannya adalah, "Apa yang harus saya lakuin supaya engga berdampak ke anak saya ke depannya?"

Ini adalah pertanyaan yang sangat wajar dan mungkin juga terlintas di benak setiap orangtua yang pernah mengalami situasi serupa. Lebih mencemaskan lagi, pelaku mengaku tidak hanya sekali melakukan perbuatan tersebut.

Hal ini membuat sang Mama khawatir bahwa anak kakaknya sudah "kecanduan" untuk melakukan pelecehan. Kekhawatiran ini menunjukkan betapa besar trauma yang dialami tidak hanya oleh korban, tetapi juga oleh orangtuanya yang merasa gagal melindungi.

2. Dampak pelecehan pada anak usia dini

anak malu dan mengurung diri di rumah
Magnific/Freepik

dr. Deva yang menerima pesan ini pun mengaku gemetar dan lemas membacanya. Ia pun meminta izin kepada sang Mama untuk membagikan cerita ini kepada para pengikutnya. Tujuannya adalah agar para orangtua di luar sana menjadi lebih bijak dan berhati-hati dalam mengawasi anak-anak mereka.

Kasus yang diceritakan dr. Deva ini bukanlah kejadian yang bisa dianggap remeh. Pelecehan seksual pada anak usia dini adalah masalah serius yang dapat menimbulkan dampak jangka panjang pada kehidupan anak.

Dampak yang paling sering terjadi adalah trauma psikologis berupa PTSD, kecemasan berlebihan, depresi, dan hilangnya kepercayaan pada orang lain. Anak juga bisa mengalami kesulitan dalam perkembangan sosial emosional, seperti merasa terasing dan memiliki harga diri yang rendah.

Jika tidak ditangani dengan tepat dan segera, dampak jangka panjangnya bisa berisiko mengubah pemahaman seksual anak yang tidak sesuai dengan tahap perkembangannya.

Inilah mengapa penanganan sejak dini sangatlah krusial untuk memulihkan kondisi si Kecil, Ma.

3. Pentingnya pengawasan orangtua di era digital

Mama menasihati anak
Magnific/freepik

Kisah ini menjadi pengingat keras bahwa pengawasan orangtua adalah kunci utama perlindungan anak. Di era digital, anak tidak hanya terancam oleh orang di sekitar, tetapi juga konten negatif yang mudah diakses.

Data menunjukkan 89 persen anak usia 5 tahun ke atas sudah menggunakan internet, membuat mereka sangat rentan terhadap paparan pornografi.

Paparan konten negatif pada usia dini dapat menjadi pemicu perilaku seksual menyimpang, seperti yang terjadi dalam kasus ini, Ma.

Nah, pengawasan sendiri bukan berarti membatasi anak secara berlebihan kok, melainkan pendampingan dan komunikasi yang baik agar anak merasa nyaman bercerita tentang apa pun yang mereka temui.

Dengan begitu, orangtua bisa melindungi anak sekaligus membangun kepercayaan yang kuat antara orangtua dan anak.

4. Edukasi pencegahan pelecehan seksual dini

Mama bersama anak laki-lakinya
Magnific/freepik

Selain mengawasi penggunaan gadget, edukasi tentang pencegahan pelecehan harus diberikan sejak dini, Ma.

Ajari anak tentang bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain dan kenalkan konsep "sentuhan baik" serta "sentuhan buruk" dengan cara sederhana.

Berikan pemahaman bahwa anak berhak berkata "tidak" jika ada yang membuat mereka tidak nyaman, termasuk pada orang terdekat sekalipun. Bangun kepercayaan agar anak tidak takut melapor jika mengalami hal yang mencurigakan.

Edukasi ini harus diberikan terus-menerus dan disesuaikan dengan usia anak. Jadi, bahasanya dan cara menjelaskannya bisa yang mudah anak pahami ya, Ma, misalnya sambil bernyanyi.

Jangan anggap hal seperti ini adalah hal tabu, karena dengan pendidikan yang tepat, anak akan memiliki perlindungan diri yang lebih baik dan memahami bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri.

Kisah yang dibagikan dr. Deva adalah cerminan bahwa ancaman bagi anak-anak kita bisa datang dari mana saja, bahkan dari orang terdekat.

Perlindungan terbaik adalah dengan memberikan pengawasan maksimal, edukasi tepat, serta komunikasi terbuka dengan anak.

Jangan ragu meminta bantuan profesional jika mengalami kejadian serupa, karena pemulihan butuh waktu dan dukungan.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More