Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Bagaimana Tontonan Memengaruhi Pola Pikir dan Perilaku Anak?

Bagaimana Tontonan Memengaruhi Pola Pikir dan Perilaku Anak?
Pexels/kaboompics.com
  • Tontonan dapat membentuk cara anak memahami emosi, komunikasi, dan penyelesaian masalah karena mereka mengamati serta berpotensi meniru perilaku karakter.
  • Kasus pelajar di Jurangmangu tidak dapat dijadikan bukti anime menyebabkan kejadian tersebut; perilaku ekstrem dipengaruhi faktor kompleks dan multifaktor.
  • Orangtua dianjurkan memilih konten sesuai usia, mengatur durasi layar, memantau perubahan perilaku, serta mendampingi diskusi agar anak kritis memahami tontonan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Tontonan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian anak dan remaja. Mulai dari film, serial, anime, hingga video pendek di media sosial, berbagai konten tersebut dapat memperkenalkan anak pada karakter, emosi, cara berkomunikasi, hingga cara menyelesaikan masalah.

Hal ini kembali menjadi perhatian setelah kasus seorang pelajar SMK yang meninggal setelah tertemper KRL di Stasiun Jurangmangu, Tangerang Selatan, pada Agustus 2026. Sebelum kejadian, terdapat unggahan media sosial korban yang kemudian ramai diperbincangkan, termasuk konten yang berkaitan dengan anime. Polisi juga mengingatkan masyarakat agar tidak berspekulasi mengenai kejadian tersebut.

Sebagai catatan penting, kasus pelajar 16 tahun yang tertemper kereta di Jurangmangu digunakan sebagai konteks untuk membahas pengaruh media secara umum. Berdasarkan pemberitaan yang tersedia, belum ada dasar untuk menyatakan bahwa kerap menonton anime menjadi penyebab kejadian tersebut. 

Karena penyebab perilaku ekstrem atau tindakan bunuh diri bersifat kompleks dan multifaktor, sebaiknya tidak menarik kesimpulan sebab-akibat hanya dari jenis tontonan atau unggahan media sosial seseorang. 

Ini membuat konten anime dalam unggahan yang viral sebenarnya tidak dapat dijadikan bukti bahwa anime menyebabkan kejadian yang dialami korban. Namun, kasus ini bisa menjadi momentum bagi orangtua untuk memahami bagaimana sebenarnya tontonan dapat memengaruhi cara anak melihat dunia dan berperilaku.

Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.

  1. 1. Anak dapat belajar dari perilaku karakter yang ditontonnya

    Anak dapat belajar dari perilaku karakter yang ditontonnya
    Pexels/karolinagrabowska

    Anak tidak hanya menikmati jalan cerita ketika menonton. Mereka juga mengamati bagaimana karakter berbicara, bereaksi ketika marah, menghadapi masalah, memperlakukan orang lain, hingga mendapatkan konsekuensi dari tindakan tertentu.

    Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), media dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran bagi anak. Sebaliknya, paparan terhadap perilaku tertentu dalam media juga dapat memengaruhi cara anak memahami dan meniru perilaku tersebut. Karena itu, AAP menganjurkan orangtua tidak hanya memperhatikan berapa lama anak menonton, tetapi juga apa yang ditonton.

    Misalnya, ketika karakter menyelesaikan masalah dengan kekerasan dan tindakan tersebut selalu digambarkan sebagai sesuatu yang keren atau berhasil, anak mungkin membutuhkan bantuan orangtua untuk memahami bahwa cara tersebut tidak otomatis tepat dilakukan dalam kehidupan nyata.

  2. 2. Karakter favorit bisa menjadi contoh bagi anak

    Karakter favorit bisa menjadi contoh bagi anak
    Freepik/pressfoto

    Tidak sedikit anak yang memiliki karakter favorit dan merasa sangat dekat dengan tokoh yang mereka tonton. Mereka bisa mengidolakan karakter tertentu, meniru gaya bicara, menggunakan ungkapan yang sama, atau bahkan memasukkan karakter tersebut ke dalam permainan sehari-hari.

    Hal ini sebenarnya tidak selalu buruk. Karakter yang menunjukkan empati, keberanian, kerja sama, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat justru bisa menjadi contoh positif. AAP menyebut media dapat digunakan untuk membantu anak membangun empati dan memahami persoalan yang kompleks. Namun, orangtua tetap perlu membantu anak memproses apa yang mereka lihat, terutama ketika cerita memuat tema kekerasan, kematian, perundungan, seksualitas, atau penggunaan zat.

    Jadi, ketika anak menyukai karakter anime atau film tertentu, Mama tidak harus langsung melarangnya. Cobalah bertanya, “Menurut Mama, kenapa karakter itu melakukan hal tersebut?” atau “Kalau kejadian seperti itu terjadi di dunia nyata, menurut kamu bagaimana?”

  3. 3. Anak belum tentu memahami batas antara cerita dan kehidupan nyata

    Anak belum tentu memahami batas antara cerita dan kehidupan nyata
    Pexels/vikaglitter

    Kemampuan memahami bahwa sesuatu hanyalah bagian dari cerita berkembang seiring usia. Terlebih pada anak yang masih kecil, mereka bisa membutuhkan bantuan orang dewasa untuk memahami perbedaan antara fantasi, adegan fiksi, dan perilaku yang aman dilakukan di dunia nyata.

    Karena itu, adegan yang terlihat biasa bagi orang dewasa belum tentu dimaknai dengan cara yang sama oleh anak. AAP merekomendasikan active mediation, yakni orangtua berbicara dengan anak mengenai apa yang mereka lihat sehingga anak dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis terhadap media.

    Ini juga menjadi alasan mengapa rating usia dan kesesuaian konten penting diperhatikan. Anak yang menonton konten sesuai tahap perkembangannya akan lebih mudah mendapatkan manfaat tanpa harus terpapar materi yang belum siap mereka pahami.

  4. 4. Bukan hanya isi tontonan, durasinya juga perlu diperhatikan

    Bukan hanya isi tontonan, durasinya juga perlu diperhatikan
    Pexels/Ketut Subiyanto

    Pengaruh media tidak selalu terjadi karena isi cerita. Waktu yang dihabiskan di depan layar juga dapat menggeser aktivitas lain yang penting bagi perkembangan anak, seperti tidur, bermain, bergerak, belajar, dan berinteraksi langsung dengan keluarga maupun teman.

    WHO merekomendasikan anak dan remaja usia 5–17 tahun membatasi perilaku sedentari, khususnya recreational screen time. WHO juga mencatat bahwa durasi sedentari yang lebih tinggi pada kelompok usia tersebut berkaitan dengan sejumlah luaran kesehatan yang kurang baik, termasuk tidur yang lebih pendek dan aspek perilaku atau prososial.

    Jadi, persoalannya bukan sekadar “anak menonton anime atau tidak”, tetapi apakah kegiatan tersebut sampai mengurangi waktu tidur, aktivitas fisik, sekolah, bermain, atau hubungan sosialnya.

  5. 5. Orangtua bisa membantu anak memahami tontonan, bukan sekadar melarang

    Orangtua bisa membantu anak memahami tontonan, bukan sekadar melarang
    Pexels/Tiger Lily

    Pendampingan orangtua menjadi salah satu bagian penting dalam membentuk pengalaman anak ketika menggunakan media. AAP menjelaskan bahwa active mediation dapat dilakukan dengan mengajak anak berdiskusi mengenai isi media, sementara aturan mengenai konten dan durasi juga dapat membantu mengurangi dampak negatif media.

    Orangtua bisa mengubah waktu menonton menjadi kesempatan berdiskusi. Setelah film atau anime selesai, misalnya, tanyakan “Bagian mana yang paling kamu suka?”, “Menurutmu, tindakan karakter tadi benar atau tidak?”, atau “Kalau kamu mengalami masalah yang sama, apa yang akan kamu lakukan?”

    Dengan begitu, anak tidak hanya menerima cerita secara pasif, tetapi juga belajar menganalisis, membedakan perilaku baik dan buruk, memahami konsekuensi, serta menyampaikan perasaannya sendiri.

  6. 6. Perhatikan perubahan perilaku anak setelah menonton

    Perhatikan perubahan perilaku anak setelah menonton
    Pexels/August de Richelieu

    Orangtua juga dapat memperhatikan apakah tontonan tertentu mulai memberikan dampak pada keseharian anak. Misalnya, anak menjadi sulit tidur karena terlalu terbawa cerita, kehilangan minat terhadap aktivitas lain, terus-menerus membicarakan satu konten hingga mengganggu kegiatan, atau menunjukkan perilaku yang tidak biasa setelah terpapar konten tertentu.

    Namun, satu perubahan perilaku tidak cukup untuk membuktikan bahwa tontonan menjadi penyebabnya. Kondisi anak juga dipengaruhi keluarga, pertemanan, sekolah, perkembangan psikologis, pengalaman pribadi, dan berbagai faktor lainnya.

    Karena itu, dalam kasus Jurangmangu sekalipun, tidak tepat menyimpulkan bahwa anime atau tontonan tertentu menyebabkan tindakan korban hanya berdasarkan unggahan media sosialnya. Hubungan antara media dan perilaku manusia jauh lebih kompleks daripada itu.

  7. 7. Jadikan tontonan sebagai kesempatan untuk membangun komunikasi

    Jadikan tontonan sebagai kesempatan untuk membangun komunikasi
    Pexels/Katerina Holmes

    Pada akhirnya, orangtua tidak harus menjadikan semua tontonan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Media juga dapat menjadi sarana anak untuk belajar dan membicarakan berbagai hal yang mungkin sulit mereka ungkapkan secara langsung.

    AAP bahkan merekomendasikan keluarga melakukan co-viewing dan memilih konten berkualitas, kemudian membicarakan apa yang dilihat bersama anak. Pendekatan tersebut membantu orangtua memahami dunia digital anak sekaligus mengajarkan mereka untuk menjadi penonton yang kritis. 

    Jadi, bukan hanya “apa yang ditonton anak”, tetapi juga bagaimana anak memahami tontonan tersebut yang perlu diperhatikan. Daripada buru-buru menyalahkan sebuah film, anime, atau karakter, Mama dapat menjadikan tontonan sebagai pintu masuk untuk mengajarkan empati, membicarakan emosi, memahami konsekuensi, dan membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan anak.

    Itulah tadi informasi mengenai bagaimana tontonan dapat memengaruhi perilaku dan pola pikir anak. Tontonan bukan sekadar hiburan, tetapi juga dapat menjadi salah satu sumber pembelajaran yang perlahan membentuk cara anak memahami emosi, nilai, hingga perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penting bagi orangtua untuk mendampingi dan mengajak anak memahami apa yang mereka tonton.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More