Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Jangan Cap "Nakal", Ini 7 Fakta di Balik Sikap Remaja Suka Membantah

Jangan Cap "Nakal", Ini 7 Fakta di Balik Sikap Remaja Suka Membantah
Pexels/https://kaboompics.com/
  • Sikap membantah pada remaja kerap menjadi bagian perkembangan kognitif, pencarian kemandirian, kebutuhan privasi, serta pergeseran kedekatan ke teman sebaya.
  • Perubahan suasana hati, emosi, dan penampilan dipengaruhi adaptasi pubertas; sesekali membantah masih wajar, tetapi kekerasan, merokok, atau penyalahgunaan zat perlu diwaspadai.
  • Label negatif dapat memperburuk perilaku; orangtua dianjurkan mengamati pola, memahami perasaan, memberi dukungan sekaligus batasan, dan mencari bantuan profesional bila perilaku membahayakan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Menghadapi anak yang mulai beranjak remaja sering kali menguji kesabaran orangtua, ya, Ma.

Perubahan sikap dari yang dulunya penurut menjadi lebih memilih menghabiskan waktu di kamar, hingga suasana hati yang mudah berubah kerap membuat Mama bingung.

Saat emosi sedang memuncak, tidak jarang label “anak nakal” atau “susah diatur” refleks terucap.

Padahal, sebelum buru-buru menghakiminya, ada banyak hal yang sedang terjadi dalam proses tumbuh kembang remaja.

Mulai dari keinginan untuk lebih mandiri hingga kebutuhan memiliki ruang pribadi, sikap yang terlihat seperti membantah bisa memiliki alasan tersendiri, Ma.

Berikut Popmama.com sudah rangkum 7 fakta di balik sikap remaja yang suka membantah. Disimak ya Ma!

  1. 1. Suka membantah cara remaja mencari kemandirian

    Remaja suka membantah cara untuk  mengekspresikan pendapat dan memegang kendali atas kehidupannya sendiri
    Pexels/RDNE Stock project

    Apa Mama pernah saat memerintahkan anak untuk mematikan gawai saat makan malam, malah berujung pada perdebatan panjang?

    Setelahnya timbul pertanyaan "kok kamu susah diatur sih, ngebantah terus?"

    Mama, mungkin dulu anak mama akan langsung menurut tanpa sisipkan kata "tapi". Namun kini anak sudah punya seribu alasan untuk mempertanyakan aturan tersebut, Ma.

    Momen-momen kecil di rumah seperti ini kadang kala memancing emosi dan membuat Mama merasa tidak lagi dihargai.

    Namun sebelum Mama menganggap anak berniat melawan, pahami bahwa sikap suka membantah ini sebenarnya adalah tanda kedewasaan kognitifnya.

    Karena seiring bertambahnya usia, otak remaja berkembang untuk berpikir lebih kritis, Ma.

    Remaja tidak lagi menyerap perintah secara mentah-mentah, melainkan mulai belajar mengekspresikan pendapat dan memegang kendali atas kehidupannya sendiri.

    Perubahan cara berkomunikasi ini bukanlah sinyal renggangnya hubungan Mama dengan remaja, ya. Hal ini adalah proses penyesuaian yang alami saat anak belajar membangun otonomi dan kemandirian menuju kedewasaan.

  2. 2. Mulai ingin punya ruang sendiri adalah bagian dari proses tumbuh remaja

    remaja suka membantah ternyata ingin punya ruang sendiri bagian dari proses tumbuh kembang remaja
    Pexels/anggit priyandani

    Dalam situasi diminta pendapat, terkadang anak remaja cenderung mengganggap ucapan temannya terasa lebih "valid" dan selalu dijadikan acuan dibandingkan nasihat dari Mama. Pernah begitu nggak, Ma?

    Perubahan jarak emosional dan fisik ini tidak jarang membuat Mama merasa kehilangan dan tersampingkan.

    Namun, menarik diri dan menuntut privasi adalah bagian alami dari proses transisi perkembangan sosial remaja, Ma.

    Seiring bertambahnya usia, ikatan emosional anak sedang bergeser untuk mengeksplorasi hubungan sosial dengan kelompok sebayanya atau peer group.

    Riset psikologi modern juga menegaskan bahwa pencarian ruang privasi dan kedekatan dengan teman sebaya merupakan sarana krusial bagi remaja.

    Hal ini bertujuan untuk melatih empati, menguji nilai-nilai sosial, dan menemukan siapa dirinya di luar lingkup keluarga, Ma.

  3. 3. Perubahan mood dan penampilan terjadi saat remaja beradaptasi dengan fase baru

    Remaja suka membantah cara ia menyesuaikan fase perkembangan remaja
    Pexels/cottonbro studio

    Mama mungkin sering dibuat elus dada melihat tingkah anak remaja di depan cermin. Suatu hari ia mendadak ingin mengubah gaya pakaian secara drastis, hingga sibuk bereksperimen dengan model tatanan rambutnya.

    Menghadapi perubahan sikap yang drastis ini memang membutuhkan kesabaran ekstra,ya, Ma. Namun, penting bagi Mama untuk memahami bahwa ini adalah respon alami tubuh anak yang sedang beradaptasi dengan gelombang hormon pubertas.

    Karena di saat yang sama, otak bagian depan yang berfungsi mengontrol emosi dan pengambilan keputusan pada remaja belum berkembang secara sempurna, Ma.

    Penelitian dari Dr. Jay Giedd mengenai perkembangan otak remaja, membuktikan bahwa adanya ketidakseimbangan yang timbul, Ma.

    Hal ini terjadi karena perkembangan sistem pusat emosi yang lebih cepat matang dibanding bagian kontrol diri membuat remaja sering kali kesulitan mengendalikan luapan emosinya

  4. 4. Tidak semua perilaku membantah berarti remaja bermasalah

    Remaja suka membantah jangan asal cap anak bermasalah
    Pexels/https://kaboompics.com/

    Mama, ketahuilah bahwa ada batas yang sangat jelas antara proses penyesuaian diri dengan sinyal bahaya perilaku remaja yang membutuhkan intervensi serius.

    Sikap sesekali membantah aturan jam malam dan moody, sebenarnya masih dalam kategori perkembangan remaja, Ma.

    Lalu kapan seharusnya Mama perlu waspada? Apabila perilaku remaja mulai suka memukul hingga terlibat merokok dan penyalahgunaan zat, ya, Ma.

    Dengan memahami perbedaan ini membantu Mama tetap tenang menghadapi dinamika remaja, sekaligus tanggap kapan saatnya meminta bantuan profesional.

  5. 5. Label "anak nakal" bisa buat remaja merasa dirinya memang seperti itu

    Remaja suka membantah jangan labelling anak nakal
    Pexels/Kindel Media

    Di tengah rasa lelah saat melihat remaja yang terus membantah, ucapan seperti "Kenapa sih kamu nakal banget?!" mungkin refleks terlontar dari mulut Mama.

    Niat hati ingin memberi teguran keras, tetapi kata-kata berupa label negatif tersebut justru menjadi bumerang yang berbahaya bagi kesehatan mental dan perkembangan karakter anak.

    Mengenai hal ini, Samanta Elsener, M.Psi. Psikolog mengingatkan Mama dan Papa bahwa memberikan label negatif tanpa memahami pemicunya hanya akan mendorong remaja semakin jauh dan merasa terasingkan.

    Saat terus-menerus dicap bermasalah, anak cenderung memvalidasi sebutan tersebut di dalam pikirannya sehingga perilakunya justru akan makin menjadi-jadi.

    Oleh karena itu, Samanta menekankan pentingnya melihat sikap anak dari sudut pandang yang berbeda.

    "Perilaku itu informasi. Anak yang terus membantah mungkin sedang memperjuangkan otonomi. Anak yang berbohong mungkin takut konsekuensi. Perilaku bukan selalu masalahnya, bisa jadi itu pintu biar orang tua bisa tahu apa masalah anak," jelas Samanta dalam unggahan edukasi di akun Instagram pribadinya.

    Daripada terburu-buru memberi label "nakal", alangkah baiknya Mama tenang sejenak dan mencari tahu pesan emosional apa yang sebenarnya ingin disampaikan anak di balik perbuatannya.

  6. 6. Terapkan pendekatan 3S agar remaja lebih nyaman diajak bicara

    Remaja suka membantah coba terapkan 3S untuk berkomunikasi dengannya
    Pexels/Julia M Cameron

    Setelah memahami bahwa perilaku anak adalah bentuk informasi emosional.

    Lantas bagaimana cara Mama membongkar informasi tersebut tanpa memicu pertengkaran baru di rumah?

    Untuk mengatasi kebuntuan komunikasi ini, Samanta Elsener, M.Psi., Psikolog membagikan panduan praktis berupa pendekatan 3-S yang bisa Mama terapkan di rumah:

    • See (Amati Polanya): Perhatikan apakah sikap membantah terjadi terus-menerus sebagai sebuah pola, atau sekadar luapan emosi sesaat.
    • Sense (Pahami Perasaannya): Asa kepekaan emosional Mama untuk menggali beban mental yang sedang disembunyikan anak di balik sikap keras kepalanya.
    • Support (Beri Dukungan & Batasan): Tetap konsisten menegakkan aturan dengan diimbangi sembari memberikan rasa aman agar anak tahu Mama selalu ada untuk merangkulnya.

  7. 7. Dibalik sikap membantah, ada remaja yang sedang kesulitan

    Remaja suka membantah ternyata ingin menginfokan bahwa sedang tidak baik-baik saja
    Pexels/Vika Glitter

    Di balik benteng pertahanan anak remaja yang tampak keras kepala dan suka membantah.

    Ternyata tersimpan rasa bingung serta kelelahan mental yang belum sanggup ia utarakan dengan kata-kata.

    Saat anak berulah, refleks pertama Mama sebagai orangtua adalah menghentikan perilakunya. Padahal, yang paling ia butuhkan saat itu adalah kehadiran dan pemahaman dari Mama dan Papa.

    Mengenai kondisi ini, Samanta Elsener, M.Psi., Psikolog menyampaikan sebuah pesan yang sangat menyentuh hati dan patut direnungkan oleh setiap orangtua dalam konten edukasinya,

    "Mencari bantuan ke profesional saat perilaku anak mulai membahayakan bukan berarti kita gagal sebagai orang tua, justru tanda kita cukup peduli untuk tidak membiarkan anak menghadapi semuanya sendirian. Di balik anak yang terlihat 'bermasalah', ada anak yang sebenarnya sedang berkata: 'Tolong lihat aku. Aku sedang kesulitan.' "

    Mama harus bersedia menurunkan ego dan mendengarkan lebih banyak, ya, Ma. Agar anak akan selalu ingat bahwa sejauh apa pun ia bereksplorasi, rumah dan pelukan Mama adalah tempat paling aman untuk kembali berlabuh.

    Selama Mama tetap hadir menyediakan ruang aman dan komunikasi dua arah yang hangat, masa-masa transisi yang penuh tantangan ini pasti bisa dilewati bersama dengan baik.

    Bagaimana cara Mama menyikapi perubahan sikap dan membangun komunikasi yang nyaman dengannya?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More