- Angklung Indonesia dan musiknya adalah pusat identitas budaya masyarakat di Jawa Barat dan Banten. Permainan musik Angklung mampu menunjukkan nilai-nilai kerja tim, saling menghormati dan harmoni sosial.
- Angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan dapat berkontribusi pada kesadaran yang lebih besar akan pentingnya warisan budaya takbenda sekaligus mempromosikan nilai-nilai kerja sama, disiplin, dan saling menghormati yang menjadi intinya.
- Langkah-langkah pengamanan diusulkan yang mencakup kerja sama antara pelaku dan pihak berwenang di berbagai tingkatan untuk memupuk transmisi dalam pengaturan formal dan non-formal, untuk mengatur pertunjukan, dan untuk mendorong keahlian membuat Angklung dan budidaya bambu berkelanjutan yang dibutuhkan untuk pembuatannya.
- Pencalonan Angklung Indonesia menunjukkan partisipasi luas masyarakat baik dalam upaya pengamanan dan, melalui konsultasi formal.
- Angklung Indonesia termasuk dalam inventarisasi nasional yang dikelola oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, dan dalam beberapa inventarisasi
Peringatan Hari Angklung Sedunia, Google Tampilkan Doodle Angklung

Setiap tanggal 16 November diperingati sebagai hari angklung sedunia. Perayaan internasional ini dilandasi karena angklung telah diakui dan ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia. Artinya setiap individu mempunyai peranan untuk menjaga kelestarian angklung.
Warga dunia khususnya masyarakat Indonesia seyogyanya turut memeriahkan hari angklung sedunia. Tujuannya guna membantu memperkenalkan dan melestarikan keberadaan angklung. Perusahaan mesin pencari atau Google bahkan memajang doodle anak-anak yang memegang angklung dalam rangka memperingati hari angklung sedunia loh Ma.
Popmama.com sajikan informasi mengenai hari angklung sedunia untuk menambah wawasan dan pengetahuan anak tentang alat musik sunda ini. Yuk simak bersama-sama.
1. Sejarah peringatan angklung sedunia

Tanggal 16 November sebagai hari angklung sedunia bertepatan dengan hari disetujuinya alat musik khas Sunda tersebut sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan asal Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2010.
Dikutip dari laman resmi UNESCO, komite UNESCO mengadakan pertemuan Fifth Session of the Intergovernmental Committee (5.COM) di Nairobi, Kenya pada 15-19 November 2010. Pada pertemuan tersebut, Indonesia mengajukan angklung supaya masuk dalam Daftar Perwakilan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity).
Hasilnya, komite UNESCO menyebutkan bahwa angklung Indonesia telah memenuhi kriteria-kriteria dan diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Angklung semakin populer berkat upaya Daeng Soetigna sebagai Bapak Angklung Diatonis Kromatis dan Udjo Ngalagena yang mengembangkan teknik permainan angklung menjadi lebih modern dan dinamis.
Sebelum dimodifikasi, angklung masih menggunakan tangga nada tradisional pelog dan slendro. Namun, inovasi Daeng Soetigna membuat angklung dapat dimainkan lebih harmonis bersama alat-alat musik Barat bahkan dapat disajikan dalam bentuk orkestra.
2. Mengenal angklung sebagai alat musik bambu dari Sunda

Dilansir dari situs Kebudayaan kemdikbud, angklung merupakan alat musik bambu yang berasal dari Jawa Barat. Alat musik tradisional ini sudah dikenal sejak abad ke-11.
Nama "angklung" berasal dari dua kata, yaitu "angka" dan "lung". Angka berarti nada sementara lung berarti pecah. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa nama angklung berasal dari Bahasa Sunda, yakni angkleung-angkleung yang artinya gerakan para pemain angklung yang menghasilkan suara klung dari angklung tersebut.
Pada masa kerajaan Sunda (sekitar abad ke-12 sampai 16), angklung dimainkan pada momen-momen tertentu saja. Tepatnya sebagai bentuk pemujaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai Dewi Sri atau dewi kesuburan.
sementara, saat ini angklung sudah mulai diajarkan di sekolah-sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Angklung juga sering dijadikan sebagai pementasan di acara-acara resmi bertujuan guna memperkenalkan sebagai salah satu kesenian musik Sunda.
3. Cara memainkan angklung dan tangga nada yang digunakan

Cara memainkan angklung cukup mudah, yaitu dengan cara digoyangkan. Tangan kiri bertugas untuk menggantung angklung, sedangkan tangan kanan bertugas untuk membunyikan atau menggoyangkan alat musik bambu ini.
Ketika digoyangkan akan menghasilkan bunyi yang berasal dari benturan badan pipa bambu yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.
Angklung dapat dimainkan secara individu atau kelompok. Tetapi biasanya alat musik tradisional ini lebih harmonis dimainkan secara bersama-sama. Bisa puluhan sampai ratusan orang.
Semakin banyak orang yang ikut memainkan angklung maka semakin nyaring bunyi yang dihasilkan. Permainan angklung tak jarang mewakili Indonesia dalam berbagai pertunjukkan seni budaya nasional dan internasional.
4. Makna doodle angklung yang ditampilkan oleh Google
Google sebagai perusahaan teknologi internasional turut memeriahkan peringatan hari angklung sedunia. Bentuk partisipasi tersebut adalah dengan menampilkan angklung sebagai Google Doodle di halaman utama mesin pencari.
"Doodle animasi hari ini merayakan Angklung, alat musik Indonesia yang terbuat dari bambu," tulis Google.
Animasi doodle tersebut menyajikan enam orang anak-anak sedang memegang angklung. Dari enam anak, satu diantaranya adalah anak difabel yang menggunakan kursi roda. Ini menunjukkan angklung sebagai alat musik yang mudah dimainkan dan menyenangkan. Buktinya anak dengan kursi roda pun mampu bermain alat musik Sunda ini
5. Angklung diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan

Pada 16 November 2010, UNESCO resmi menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada rapat komite UNESCO yang berlangsung di Kenya. Penetapan tersebut karena angklung dinilai telah memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut:
Demikian sajian informasi mengenai hari angklung sedunia. Warga Indonesia harus berbangga karena angklung telah diakui sebagai warisan UNESCO. Oleh karenanya, mari lestarikan dan mulai mengenalkan dan mempelajari alat musik tradisional seperti angklung agar tidak punah.



















