Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

5 Tips Membangun Pergaulan Sehat ala dr. Tirta

5 Tips Membangun Pergaulan Sehat ala dr. Tirta
Instagram.com/dr.tirta
Intinya Sih
  • dr. Tirta menekankan pentingnya memilih lingkungan pergaulan sehat agar anak dan remaja terhindar dari perilaku tidak sehat, termasuk candaan seksual dan sikap merendahkan orang lain.
  • Ia mengingatkan pentingnya menghargai batasan pribadi serta membangun hubungan yang saling menghormati untuk mencegah pelecehan dan meningkatkan rasa percaya diri anak.
  • Orangtua disarankan mengarahkan anak bergaul dengan teman bernilai positif serta kritis terhadap humor di media sosial agar terbentuk karakter empatik dan bijak dalam bersosialisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Sebagai orangtua seringkali Mama tentu sering mengkhawatirkan apakah pergaulan anak sudah sehat dalam kehidupan baik anak. Tentunya pergaulan yang baik menciptakan kualitas yang baik pada diri anak. Pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang berpikir, bersikap, dan memandang suatu perilaku

Seperti yang dikemukakan oleh Dokter sekaligus kreator konten dunia kesehatan, dr Tirta. Mengingatkan bahwa memilih lingkungan pergaulan yang sehat merupakan langkah penting untuk mencegah berbagai perilaku tidak sehat, termasuk pelecehan seksual.

Ia menegaskan, bahwa candaan seksual hingga kebiasaan merendahkan orang lain, turut membentuk standar moral jika terus dibiarkan di masa depan.

Lantas apa saja hal yang dapat membangun pergaulan yang sehat untuk anak dan remaja? Berikut ini Popmama.com telah merangkum informasi lebih lanjut. Disimak, ya!

Table of Content

1. Jauhi tongkrongan yang menormalisasi candaan seksual

1. Jauhi tongkrongan yang menormalisasi candaan seksual

gambar orang remaja menolak ajakan
Freepik.jcomp

Lingkungan yang sering menjadikan candaan seksual atau seksisme sebagai bahan humor perlu diwaspadai Ma. Meski terdengar dan dianggap sekadar bercanda, candaan seperti inilah yang dapat memengaruhi cara seseorang dalam memandang orang lain. Menurut dr. Tirta, hal tersebut penting dan wajib untuk dijauhi oleh anak.

Hal ini diperkuat oleh studi dari Thomas E. Ford, menemukan bahwa paparan seksis dinilai dapat meningkatkan toleransi terhadap perilaku seksisme dalam pergaulan. Oleh karena itu, penting bagi anak mama untuk lebih selektif dalam memilih lingkungan pertemanan.

Pergaulan yang sehat seharusnya menciptakan rasa saling menghargai dan tidak menjadikan tubuh, identitas, atau pengalaman seseorang sebagai bahan candaan. Dengan berada di lingkungan yang positif, anak juga dapat belajar memahami batasan serta menghargai orang lain sejak dini.

2. Pilih teman yang menghargai batasan pribadi

gambar remaja sedang berbicara di taman
Freepik

Batasan pribadi atau personal boundaries merupakan nilai penting yang perlu ditanamkan kepada anak dan remaja, terutama dalam pergaulannya sehari-hari. Mereka perlu memahami bahwa setiap orang memiliki batasan terkait tubuh, perasaan, dan ruang pribadi yang harus dihormati oleh orang lain.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Violence Against Women oleh Charlene L. Muehlenhard, menjelaskan bahwa persetujuan dan penghormatan terhadap batasan pribadi memiliki peranan besar dalam mencegah perilaku seksual yang tidak diinginkan.

Oleh karena itu, penting bagi anak untuk memilih teman yang mampu menghargai kata tidak, tidak memaksa kehendak, serta tidak meremehkan perasaan orang lain ketika mereka merasa tidak nyaman.

3. Hindari lingkungan yang merendahkan orang lain

remaja dan anak sedang bermain di taman
Freepik

Lingkungan pergaulan memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir, sikap, dan perilaku anak dan remaja. Orangtua perlu membantu anak memahami, bahwa tidak semua lingkungan pertemanan memberikan pengaruh yang baik.

Hal ini sejalan dengan teori Social Leaning Theory, menjelaskan bahwa individu cenderung mempelajari perilaku dari lingkungan di sekitarnya melalui proses mengamati dan meniru.

Artinya, ketika seorang remaja sering berada di lingkungan yang terbiasa merendahkan orang lain, perilaku tersebut berpotensi dianggap sebagai sesuatu yang normal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi cara mereka memperlakukan orang lain dalam hubungan sosial.

4. Perbanyak pergaulan dengan teman yang memilki nilai positif

remaja sedang berbicara di kelas
Freepik

Lingkungan pertemanan yang positif dapat membantu anak membangun karakter yang lebih sehat. Teman yang memiliki nilai seperti saling menghargai, empati, dan kepedulian biasanya akan menciptakan suasana pergaulan yang aman Ma.

Dalam lingkungan seperti inilah, anak juga lebih mudah belajar menghormati orang lain serta memahami batasan dalam hubungan sosial. Menurut studi, pengaruh teman sebaya peer influence, memiliki peran besar dalam membentuk perilaku remaja dan anak.

Remaja yang berada dalam kelompok dengan nilai positif cenderung memiliki tingkat empati lebih tinggi serta risiko perilaku agresif yang lebih rendah sebaliknya anak yang berada dalam kelompok yang buruk cenderung memiliki sikap apatis.

5. Kritis terhadap bentuk candaan di media sosial

remaja sedang bermain HP
Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Seringkali kali media sosial menghadirkan berbagai jenis humor yang belum tentu sehat. Mulai dari candaan yang merendahkan fisik, stereotip gender, hingga humor seksual yang kerap dibungkus dengan kata lelucon.

Menurut laman UNICEF, menyoroti bahwa anak dan remaja termasuk kelompok yang paling rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan digital, seperti komentar merendahkan, perundungan siber, hingga pelecehan verbal.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengajarkan anak agar tidak dengan cepat menganggap semua konten secara mentah-mentah. Mengajak anak berdiskusi tentang konten yang mereka lihat juga dinilai dapat membantu mereka memahami arti menghargai orang lain.

Itulah ma, informasi penting mengenai tips membangun pergaulan sehat ala dr. Tirta. Mari untuk terus mengedukasi anak pentingnya menghadirkan nilai postif dalam pergaulan untuk membantu kehidupan sosial anak yang lebih baik.

Share
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More