8 Alasan Mengapa Anak Mengalami Penurunan Nilai Pelajaran

Sebagai orangtua, tentu Mama senang melihat anak yang terus berkembang dalam apa pun yang ia lakukan, apakah itu dari pelatihan toilet saat ia masa kecil atau peningkatan nilai akademiknya ketika sudah sekolah.
Tetapi seperti halnya latihan-latihan di rumah, anak-anak dapat mengalami kemunduran dalam bidang akademik, dan hal itu sering membuat orangtua menjadi bingung.
Dengan mengetahui sumber kemunduran akademik anak, mungkin akan membantu Mama dalam mengetahui mengapa anak tiba-tiba mengalami penurunan nilai serta kinerja akademisnya.
Kali ini Popmama.com akan membahas 8 alasan utama mengapa anak mengalami nilai akademik yang terus menurun:
1. Rutinitas yang tergganggu

Jika sesuatu terjadi dan mengganggu rutinitas anak, Mama mungkin akan melihat anak berjuang untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kuat tentang akademisnya.
Ini adalah sesuatu yang harus dihadapi banyak anak selama lebih dari satu tahun, dengan pandemi Covid-19 yang memengaruhi kemampuan anak untuk bersekolah. Tanpa kehadiran yang teratur, nilai anak mungkin juga menurun.
Entah itu mengalami sakit, acara keluarga, atau hal lain yang menyebabkan ketidakteraturan kehadiran. Dilansir dari, English Tuition, "ketidakteraturan merusak momentum.", di mana anak harus mengalami beban kerja yang berlipat ganda.
Anak tidak hanya mencoba mempelajari pelajaran baru dari hari ini, tetapi ia juga harus mengejar pelajaran hari sebelumnya. Secara alami, anak menjadi kewalahan dan, dengan demikian, dapat menghilangkan motivasi untuk mempelajari hal baru.
2. Sulit beradaptasi dengan lingkungan belajar baru

Ketika anak pindah sekolah atau beralih dari menghadiri sekolah secara langsung menjadi secara virtual, ada perubahan lingkungan yang dapat memengaruhi akademik anak.
Bayangkan ketika pindah ke rumah baru, Mama mungkin akan sering kesulitan tidur dan lebih banyak mencari tahu dari mana suara itu berasal. Beginilah rasanya bagi anak ketika ditempatkan di lingkungan belajar yang baru.
3. Kesulitan mengatasi gangguan

Karena hampir semua anak beralih ke sekolah online, jumlah gangguan telah meningkat. Anak sekarang mungkin memiliki ruangan yang penuh dengan mainan, yang mungkin ia gunakan saat jam pelajaran virtual atau hewan peliharaan yang meminta perhatian.
Bahkan ketika menghadiri sekolah secara langsung, selalu ada sumber gangguan. Duduk di dekat jendela dapat menyebabkan gangguan, atau duduk di dekat pintu ke lorong di mana anak mungkin melihat orang-orang bergerak.
Mungkin juga sulit bagi anak untuk fokus jika ia duduk di dekat saudaranya yang juga mengikuti sekolah online, karena mereka mungkin menghabiskan waktu dengan bercanda atau saling bertatap muka.
4. Mengalami stres

Sama seperti orang dewasa, anak bisa mengalami stres. Bisa seperti stres dari lingkungan rumah yang tidak mendukung, saudara baru di rumah, atau bahkan pandemi global yang membuat anak tidak bisa berkumpul dengan teman-temannya secara teratur.
Dilansir dari Unity Point Health, peningkatan hormon stres (seperti adrenalin dan kortisol) dapat menargetkan area otak tertentu yang memengaruhi perilaku, yang kemudian dapat memengaruhi kemampuan anak untuk tampil. Selain itu, stres yang orangtua rasakan juga bisa menular pada anak.
5. Kurangnya disiplin

Jika anak menjadi lebih sering bertingkah dan kurang mendengarkan Mama bahkan gurunya, mungkin Mama perlu mengevaluasi kembali cara mendisiplinkan anak. Walaupun belum tentu ada kurangnya disiplin, tetapi metode yang digunakan mungkin tidak bekerja seefektif waktu lalu.
Anak dengan masalah perilaku ini akan terus mengalami kemunduran sampai ia mendapatkan kendali atas dirinya sendiri, dan tentunya anak memerlkukan bantuan dari Mama atau wali kelasnya untuk mengembalikan kendalinya tersebut.
6. Terlalu puas

Jika anak melakukan sesuatu secara baik dan konsisten, ia mungkin menjadi puas dengan kemampuannya dan mulai terlalu santai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Anak mungkin mulai berpikir bahwa mereka tidak perlu bekerja terlalu keras.
Sayangnya, perilaku ini cenderung menjadi semakin buruk hingga seseorang turun tangan untuk membantu anak, apakah itu dari orangtua atau dari gurunya.
7. Memiliki ego yang tinggi

Ini mirip dengan rasa puas diri yang tinggi, ketika anak memiliki ego yang tinggi, ia merasa kuat bahwa tahu segalanya.
Masalahnya adalah anak dengan ego yang kuat akan sering keras kepala dalam belajar dengan cara yang ia inginkan, menolak untuk mendengarkan orang lain, dan menjadi sangat defensif ketika didekati.
Ego yang tinggi ini juga bisa membawanya pada masalah yang lebih jelas, yaitu tidak akan belajar jika anak tidak mau.
8. Kurang mampu dalam menetapkan prioritas

Ini seringkali luput dari perhatian orangtua. Sangat penting untuk memerhatikan ketika anak hanya tertarik pada satu mata pelajaran saja. Misalnya, jika anak terlalu fokus belajar matematika, ia mungkin tertinggal dalam pelajaran bahasa Indonesia atau pengetahuan sosial.
Belajar bagaimana memprioritaskan dan mengatur waktu adalah keterampilan penting bagi anak-anak untuk dipelajari sejak dini, terutama untuk menunjang karir akademisnya sehingga anak dapat belajar bagaimana menyeimbangkan studinya dengan baik.
Nah itulah beberapa alasan mengapa anak mengalami penurunan nilai akademik. Penurunan atau regresi adalah hal normal pada masa anak-anak, dan umumnya dapat disebabkan oleh stres, frustrasi, atau peristiwa traumatis.
Anak umumnya menunjukkan perilaku di atas untuk mengomunikasikan kesulitannya. Mengatasinya dengan melakukan komunikasi terbuka dan jujur dapat membantu mengatasi masalah penurunan kinerja akademik anak.



















