7 Keseruan Anak SD Belajar Menulis Cerpen di Perpusnas

- Kegiatan pelatihan menulis cerpen digelar SiDU, Perpusnas RI, dan Majalah CIA untuk murid SD Angkasa dalam rangka HUT ke-46 Perpusnas RI di Jakarta.
- Anak-anak belajar membuat cerpen dari dasar bersama mentor, mengikuti games interaktif, serta mendesain sampul buku tulis dengan foto diri mereka sendiri.
- Program ini menekankan pentingnya menulis tangan bagi daya pikir dan kreativitas anak, sekaligus mendorong budaya literasi sejak usia sekolah dasar.
Di tengah kebiasaan anak yang makin akrab dengan gadget, kegiatan menulis tangan kini mulai jarang dilakukan. Bahkan, kemampuan dan minat menulis anak juga dinilai semakin menurun. Hal ini terlihat dari kebiasaan membeli buku tulis yang kini tak lagi sesering dulu. Jika sebelumnya anak identik dengan “tahun ajaran baru, buku baru”, kini tak sedikit orangtua mengaku satu buku tulis bisa dipakai hingga tahun berikutnya.
Melihat kondisi tersebut, SiDU bersama Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dan Majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) menggelar kegiatan pelatihan menulis bertajuk “Ayo Menulis di Buku Tulis dengan Sampul Terkerenmu” pada Senin (11/5/2026), di Perpusnas RI, Jakarta.
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-46 Perpusnas RI ini diikuti murid kelas 5 dan 6 dari SD Angkasa. Bukan sekadar belajar menulis biasa, anak-anak juga diajak membuat cerpen, bermain game interaktif, hingga mengustomisasi sampul buku dengan foto diri mereka sendiri.
Lalu, seperti apa keseruan kegiatan mereka? Berikut Popmama.com rangkum keseruannya!
1. Anak-anak belajar bikin cerpen dari nol

Salah satu kegiatan paling menarik dalam acara ini adalah sesi belajar menulis cerpen bersama mentor menulis, Kak Olla. Di sesi ini, anak-anak tidak langsung diminta menulis panjang, melainkan belajar memahami dasar-dasar membuat cerita terlebih dahulu.
Kak Olla mengajarkan bahwa membuat cerpen tidak perlu rumit. Menurutnya, karakter dalam cerita juga tidak harus terlalu banyak agar alur tetap mudah dipahami.
Anak-anak kemudian diajak menentukan ide cerita, memilih tokoh, memikirkan konflik atau masalah, hingga menentukan bagaimana cerita tersebut berakhir. Cara belajar seperti ini membuat proses menulis terasa lebih ringan dan menyenangkan untuk anak SD.
2. Murid SD Angkasa terlihat antusias mengikuti kegiatan

Sejak awal acara, suasana terlihat ramai dan penuh semangat. Murid kelas 5 dan 6 SD Angkasa tampak excited mengikuti setiap sesi yang berlangsung.
Saat sesi menulis dimulai, banyak anak terlihat aktif mengangkat tangan, bertanya, bahkan saling berbagi ide cerita dengan teman di sebelahnya. Ada yang ingin menulis cerita petualangan, persahabatan, hingga cerita fantasi.
Semangat ini menunjukkan bahwa ketika diberikan ruang yang menyenangkan, anak sebenarnya punya banyak ide kreatif yang ingin mereka sampaikan.
3. Ada sesi games interaktif yang bikin suasana makin seru

Belajar menulis tidak dibuat terlalu serius. Supaya anak-anak tetap fokus dan tidak bosan, acara juga diselingi dengan berbagai permainan interaktif.
Keseruan semakin terasa karena games dilakukan bersama warrior atau wartawan cilik. Anak-anak tampak aktif menjawab pertanyaan dan berinteraksi selama sesi berlangsung.
Cara belajar seperti ini membuat suasana terasa lebih cair sekaligus membantu anak tetap menikmati proses belajar sepanjang acara.
4. Karya terbaik anak akan dipajang di Perpusnas

Salah satu hal yang membuat anak semakin semangat menulis adalah kesempatan untuk menampilkan hasil karya mereka.
Karya terbaik yang dibuat pada kegiatan hari itu nantinya akan dipajang di Perpusnas RI. Hal ini tentu menjadi pengalaman yang membanggakan bagi anak-anak, karena tulisan mereka bisa dibaca dan diapresiasi banyak orang.
Bagi anak, bentuk apresiasi seperti ini juga bisa membantu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus memotivasi mereka untuk terus berkarya.
5. Anak-anak bisa bikin sampul buku dengan foto sendiri

Tak hanya belajar menulis, peserta juga diajak berkreasi lewat aktivitas yang unik. Anak-anak berkesempatan membuat desain sampul buku tulis menggunakan foto diri mereka sendiri.
Caranya pun cukup mudah, yakni dengan memindai QR code dan mengikuti kuis yang tersedia. Setelah berhasil, mereka bisa memilih berbagai tema desain sampul sesuai karakter yang disukai.
Bagi anak-anak, pengalaman punya buku tulis dengan wajah sendiri tentu terasa spesial dan membuat kegiatan menulis jadi lebih menyenangkan.
6. Anak diajak memahami manfaat menulis tangan

Di tengah kebiasaan mengetik di gadget, anak-anak juga diajak memahami kenapa menulis tangan masih penting dilakukan.
Dalam sesi edukasi, dijelaskan bahwa menulis tangan dapat membantu meningkatkan daya pikir dan kecerdasan anak. Tak hanya itu, kebiasaan mencatat juga dinilai membuat pembelajaran lebih efektif karena otak menjadi lebih aktif dan produktif.
Menulis tangan juga membantu anak memahami informasi lebih baik, meningkatkan daya ingat, hingga melatih kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ).
7. Menulis jadi ruang anak menyalurkan ide dan kreativitas

Lebih dari sekadar tugas sekolah, kegiatan ini juga mengingatkan bahwa menulis bisa menjadi ruang bagi anak untuk berekspresi.
Head of Marketing Stationery Business APP Group, Arif Darmawan, mengatakan bahwa buku tulis bukan hanya media belajar, tetapi juga ruang bagi anak untuk menuangkan ide dan membangun rasa percaya diri.
“Melalui program Ayo Menulis, kami ingin turut mendukung upaya Pemerintah dalam menumbuhkan budaya literasi dan kebiasaan menulis dengan tangan di atas kertas sejak usia sekolah dasar. Kami percaya, buku tulis bukan hanya media belajar, tetapi juga ruang bagi anak untuk berlatih berpikir, berekspresi, dan membangun kepercayaan diri,” ujarnya.
Lewat kegiatan seperti ini, anak-anak diharapkan semakin dekat dengan kebiasaan membaca, menulis, dan berani menuangkan imajinasi mereka ke dalam sebuah cerita.


















