Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Anak Usia 6 Tahun Sering Ngomong Kasar, Mama Ini Beri Bubuk Cabai

3 min read
Anak Usia 6 Tahun Sering Ngomong Kasar, Mama Ini Beri Bubuk Cabai
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Seorang Mama mengoleskan bubuk cabai ke mulut putrinya yang berusia 6 tahun setelah berulang kali mengucapkan kata kasar meski telah diperingatkan.

  • Anak menangis setelah diberi cabai dan berhenti mengucapkan kata-kata tersebut; kisah ini memicu pembicaraan tentang hukuman untuk memberi efek jera dalam pola asuh.

  • Orangtua dianjurkan menjelaskan dampak kata kasar pada perasaan orang lain, mengajarkan anak memilih kata saat marah, serta memahami alasan aturan, bukan hanya takut konsekuensi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Anak yang mulai mengenal banyak kata terkadang ikut mengucapkan kata-kata yang sebenarnya belum ia pahami. Jika sudah diingatkan berkali-kali tetapi tetap diulang, orangtua tentu bisa merasa kesal dan bingung harus memberikan respons seperti apa.

Hal tersebut juga dialami seorang Mama yang memiliki anak perempuan berusia 6 tahun. Sang anak beberapa kali mengucapkan kata kasar, meski sudah diberi tahu bahwa kata tersebut tidak pantas diucapkan.

Karena peringatan berkali-kali tidak membuat anak berhenti, Mama tersebut akhirnya memberikan hukuman yang cukup ekstrem, yakni mengoleskan bubuk cabai ke mulut anak.

Kisahnya dibagikan melalui thread @sarawati_tikasiwi dan kembali menjadi pembicaraan mengenai pola asuh yang memberikan efek jera kepada anak.

Berikut Popmama.com telah merangkum hal yang perlu Mama pahami ketika anak mulai terbiasa mengucapkan kata kasar. Yuk, simak!

  1. 1. Mama ini oleskan bubuk cabai ke mulut anak setelah berkali-kali diperingatkan

    Mama menggunakan parenting VOC untuk memberikan efek jera pada anak
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Dalam thread yang dibagikan @sarawati_tikasiwi, seorang Mama menceritakan pengalamannya menghadapi anak perempuan berusia 6 tahun yang masih duduk di TK B. Sang anak beberapa kali mengucapkan kata “anj*ng” dan “anj*r” meski sebelumnya sudah diberi penjelasan dan peringatan.

    Mama tersebut awalnya mencoba memberikan pemahaman kepada anak mengenai kata yang diucapkannya. Ia juga memperingatkan bahwa kata tersebut tidak boleh diulangi dan mengatakan akan memberikan cabai jika anak kembali mengucapkannya.

    Namun, peringatan tersebut ternyata masih dilanggar beberapa kali. Hingga akhirnya, ketika anak kembali mengucapkan kata kasar, Mama tersebut benar-benar mengoleskan bubuk cabai ke mulutnya.

    “Aku pernah ngolesin cabe bubuk ke mulut anakku. Cewek, usia 6 tahun, TK B. Karena dia ngomong ‘anj*ng’ dan ‘anj*r’...”

    Ia kemudian menceritakan bahwa anaknya menangis setelah mulutnya diberi bubuk cabai. Setelah kejadian tersebut, sang anak tidak lagi mengucapkan kata-kata kasar yang sama.

    Kisah ini kemudian menuai perhatian karena praktik memberikan cabai sebagai hukuman memang sudah lama dikenal dalam pola asuh di masyarakat. Tujuannya biasanya untuk memberikan efek jera agar anak takut mengulangi perilaku yang dianggap tidak baik.

  2. 2. Jelaskan mengapa kata kasar bisa menyakiti orang lain

    Berikan alasan pada anak mengapa kata kasar itu menyakiti orang lain
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Anak mungkin mengucapkan kata kasar karena mendengarnya dari teman, orang dewasa, tontonan, atau lingkungan sekitar. Tidak semua anak yang mengucapkannya benar-benar memahami makna dan dampak kata tersebut.

    Mama bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa setiap perkataan memiliki dampak terhadap orang lain. Misalnya, ketika anak menghina seseorang, orang yang mendengarnya bisa merasa sedih, malu, marah, atau tersinggung.

    Berikan contoh yang dekat dengan kehidupan anak seperti:

    “Kalau ada teman bilang kamu jelek, kamu pasti sedih, kan? Nah, orang lain juga bisa merasa sakit hati kalau dipanggil dengan kata yang tidak baik.”

    Dengan begitu, anak tidak hanya belajar bahwa kata kasar itu dilarang, tetapi juga memahami alasan mengapa ia perlu menjaga perkataan.

  3. 3. Ajarkan anak menjaga diri dan perasaan orang lain

    Anak perlu mengetahui kata kasar bisa memicu konflik untuk terjadi
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Mengajarkan sopan santun bukan hanya tentang membuat anak patuh kepada orangtua. Lebih jauh, anak perlu memahami bahwa menjaga perkataan merupakan bagian dari menghargai dirinya sendiri dan orang lain.

    Mama bisa mengajak anak berpikir sebelum berbicara dengan pertanyaan sederhana, seperti:

    “Kalau kamu mengatakan itu kepada teman, kira-kira dia akan merasa bagaimana?”

    Anak juga perlu mengetahui bahwa perkataan yang menyakitkan dapat memicu konflik ketika orang lain merasa dihina atau dipermalukan. Karena itu, penting bagi anak untuk belajar memilih kata, terutama ketika sedang marah.

    Pendekatan seperti ini mungkin membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan memberikan hukuman yang langsung membuat anak kapok. Namun, anak perlahan belajar memahami alasan di balik sebuah aturan, bukan sekadar takut terhadap konsekuensinya.

    Itulah kisah Mama yang memberikan bubuk cabai sebagai efek jera ketika anaknya berkali-kali mengucapkan kata kasar. Meski anak akhirnya tidak mengulangi perkataan tersebut, Mama tetap perlu mendampingi anak memahami alasan di balik aturan yang diberikan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More