“Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM. Praktik baik untuk pelatihan dan pendampingan, serta festival yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” kata Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, saat acara ‘Festival Berpikir Komputasional 2026’ di Kudus, Minggu (20/9/2026).
Festival Berpikir Komputasional 2026 Hadirkan Lomba Anak dan Orangtua

Festival Berpikir Komputasional 2026 di Kudus untuk SD/MI diinisiasi Djarum Foundation, selaras dengan kebijakan Koding dan Kecerdasan Artifisial serta penguatan literasi, numerasi, dan STEM.
Festival menghadirkan lomba unplugged dan plugged, termasuk Scratch, Bebras, serta robotika, untuk melatih strategi dan pemecahan masalah murid melalui berbagai permainan.
Sejumlah permainan melibatkan anak dan orangtua untuk mengenalkan algoritma, debugging, sequence, dan loop; guru Kudus juga menerapkan dekomposisi, pola, abstraksi, serta algoritma dalam pembelajaran harian.
Kemampuan berpikir dan memecahkan masalah menjadi salah satu keterampilan yang semakin mendapat perhatian dalam dunia pendidikan. Tidak hanya dari pihak sekolah dan guru, orangtua juga memiliki peran penting dalam membantu anak mengembangkan kemampuan tersebut sejak dini.
Djarum Foundation turut menginisiasi penguatan kompetensi guru sekaligus penerapan pembelajaran mendalam bagi murid dengan melibatkan orangtua. Salah satu bentuknya diwujudkan melalui Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI.
Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut terkait Festival Berpikir Komputasional 2026 hadirkan lomba kekompakan anak dan orangtua.
Table of Content
1. Lomba melibatkan berbagai bidang untuk murid SD/MI

Popmama.com/Sania Chandra Berbagai perlombaan yang dihadirkan dalam Festival Berpikir Komputasional 2026 berfokus pada kemampuan peserta dalam menyusun strategi dan menyelesaikan masalah.
Terdapat dua kategori perlombaan yang dapat diikuti oleh peserta tingkat SD, yakni Lomba Unplugged dan Lomba Plugged. Keduanya menghadirkan jenis permainan yang berbeda untuk mengasah kemampuan berpikir komputasional anak.
Untuk kategori Lomba Unplugged, terdapat sejumlah permainan seperti Lompat Navigasi Pemrogram Cilik, Olahraga Komputasional, Jejak Lincah Batang dan Daun, Zig-zag Sortir Koin, Jump and Toss Block Coding, serta Balance Turtle Block Coding.
Sementara itu, kategori Lomba Plugged menghadirkan Animasi Scratch, Story Telling Scratch, Soal Bebras Si Kecil, Soal Bebras Siaga, dan Creative Robotics.
2. Lompat Navigasi Pemrogram Cilik mengajak anak bekerja sama dengan orangtua

Popmama.com/Sania Chandra Festival Berpikir Komputasional 2026 tidak hanya menghadirkan perlombaan yang ditujukan bagi murid. Beberapa permainan juga dirancang untuk melibatkan orangtua, sehingga murid dan wali murid dapat bekerja sama dan menunjukkan kekompakan.
Salah satunya adalah Lompat Navigasi Pemrogram Cilik. Permainan sederhana ini dirancang untuk mengajarkan murid mengenai cara membuat algoritma sederhana yang digunakan untuk menggerakkan agen pemroses informasi, seperti robot.
Dalam permainan tersebut, terdapat dua peran yang harus dijalankan. Satu orang menjadi pemrogram yang diperankan oleh murid, dan satu orang lainnya berperan sebagai robot yang dimainkan oleh wali murid.
Murid sebagai pemrogram perlu menyusun algoritma menggunakan tanda panah sebagai petunjuk arah. Algoritma tersebut digunakan untuk mengarahkan robot dari titik awal atau start hingga mencapai titik akhir atau end.
Wali murid yang berperan sebagai robot kemudian harus melompat menggunakan kedua kaki mengikuti algoritma yang telah dibuat oleh murid. Melalui permainan ini, anak juga diperkenalkan pada konsep debugging. Ketika algoritma yang dibuat ternyata menghasilkan kesalahan, murid perlu mengidentifikasi bagian yang keliru dan memperbaikinya agar robot dapat mencapai tujuan.
3. Olahraga Komputasional ajarkan konsep sequence dan loop melalui gerakan

Popmama.com/Sania Chandra Tidak hanya mengajak anak menyusun strategi, acara ini juga menghadirkan permainan yang menggabungkan aktivitas fisik dengan konsep ilmu komputer.
Olahraga Komputasional dirancang untuk mengenalkan konsep ilmu komputer seperti sequence dan loop melalui berbagai gerakan fisik yang menyenangkan bersama orangtua.
Dalam permainan tersebut, terdapat dua pemain yang terdiri dari murid dan wali murid. Panitia akan menyusun urutan berbagai gerakan yang harus dilakukan oleh kedua pemain.
Gerakan yang diberikan dapat berupa berlari di tempat, berputar ke arah kanan dan kiri, melakukan jumping jack, berdiri dengan satu kaki, hingga melempar bola ke dalam keranjang.
Murid dan wali murid harus mengikuti seluruh instruksi sesuai urutan yang diberikan dan melakukannya secara bersamaan. Dari aktivitas tersebut, anak dapat belajar mengenai konsep sequence, yaitu menjalankan sejumlah instruksi berdasarkan urutan tertentu.
4. Guru di Kudus menerapkan berpikir komputasional dalam pembelajaran

Popmama.com/Sania Chandra Penerapan berpikir komputasional di Kabupaten Kudus tidak hanya dilakukan melalui festival. Sejumlah sekolah juga telah mengembangkan berbagai aktivitas sederhana yang dirancang oleh guru untuk melatih kemampuan tersebut dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Aktivitas yang diberikan tetap mengacu pada prinsip utama berpikir komputasional, yaitu dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma. Misalnya, di SD 3 Kalirejo, guru mengajak murid menyusun rute paling efisien untuk pergi ke sekolah. Aktivitas tersebut mendorong anak untuk mempertimbangkan berbagai pilihan rute sebelum menentukan langkah yang dianggap paling efektif.
Berbagai kegiatan tersebut juga sengaja menggabungkan prinsip berpikir komputasional dengan literasi fisik. Hal ini berkaitan dengan hasil survei keterampilan sosial emosional dari OECD di Kabupaten Kudus tahun 2023.
“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri. Mencermati sejumlah riset yang menyebut korelasi antara berpikir komputasional dengan kapasitas murid, yang tercermin di standar PISA, kami harap dalam 10-15 tahun mendatang, kemampuan murid seluruh sekolah di Kudus dalam asesmen PISA mencapai standar kompetensi setara dengan rata-rata OECD, sekaligus memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan yang lebih tinggi daripada rata-rata,” ujar Program Manager Djarum Foundation, Marcella Marissa.
5. Anak didorong mampu mengambil keputusan berdasarkan informasi

Popmama.com/Sania Chandra Selain kemampuan teknis seperti coding, berpikir komputasional juga berkaitan dengan kemampuan anak dalam menghadapi berbagai persoalan dan menentukan solusi.
Menurut Gogot Suharwoto, kemampuan mengambil keputusan perlu dibangun dengan mempertimbangkan informasi, data, serta alat atau sumber daya yang tersedia di hadapan mereka. Dengan kemampuan tersebut, anak diharapkan tidak hanya mampu menemukan masalah, tetapi juga terbiasa mencari solusi.
“Saat ini anak-anak sedang menghadapi tantangan yang luar biasa untuk membuat keputusan. Jadi ini kan yang paling penting adalah anak-anak mampu membuat keputusan dari informasi, data, dan ketersediaan alat yang ada di depan mereka, mereka membuat solusi. Supaya tidak banyak orang yang hanya nyari masalah tapi nyari solusi. Ini yang kita perlukan,” ungkap Gogot Suharwoto.
Demikian informasi mengenai Festival Berpikir Komputasional 2026 hadirkan lomba kekompakan anak dan orangtua. Bagaimana menurut pendapat Mama dengan adanya acara ini?






















