Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Jangan Diurut! Patah Tulang pada Anak Bisa Berujung Cacat Permanen

Jangan Diurut! Patah Tulang pada Anak Bisa Berujung Cacat Permanen
Popmama.com/Nasywa Qurrotu Aini
Intinya Sih
  • Mengurut patah tulang pada anak berisiko tinggi karena dapat merusak lempeng pertumbuhan, saraf, dan pembuluh darah sehingga menyebabkan cacat permanen atau gangguan tumbuh kembang.
  • Penanganan pertama yang benar adalah menstabilkan area cedera tanpa digerakkan, mengompres dingin, lalu segera membawa anak ke rumah sakit untuk pemeriksaan dokter dan rontgen.
  • Teknologi ortopedi anak kini lebih modern dan minim sayatan, memungkinkan penyembuhan cepat dengan hasil tulang tumbuh normal tanpa perlu operasi besar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sebagian orangtua di Indonesia masih menganggap tukang urut sebagai tujuan pertama ketika anak terjatuh, mengalami bengkak, atau sulit menggerakkan tangan maupun kaki. Padahal, kebiasaan ini justru bisa memperparah kondisi anak. Mengurut tulang yang patah bukan hanya tidak memperbaiki cedera, tetapi juga berisiko menyebabkan kerusakan permanen yang memengaruhi tumbuh kembang anak.

Menurut dr. Gabriel Klemens Wienanda, M.Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K, Spesialis Ortopedi Divisi Anak Eka Hospital Cibubur, penanganan yang salah pada anak dapat berdampak hingga masa depan mereka.

“Anak berbeda dengan orang dewasa karena mereka masih bertumbuh. Kalau penanganannya salah, kondisinya bisa menyebabkan cacat. Tulang bisa menyambung dalam posisi yang salah, kaki atau tangan bisa bengkok, bahkan pertumbuhannya bisa berhenti.”

Lalu, mengapa patah tulang pada anak tidak boleh diurut? Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya.

1. Tulang anak masih dalam masa pertumbuhan

Seorang anak terjatuh dan cedera
Pexels/rdnestockproject

Berbeda dengan orang dewasa, tulang anak memiliki lempeng pertumbuhan (growth plate), yaitu jaringan tulang rawan yang berfungsi menentukan panjang dan bentuk tulang saat anak tumbuh.

Bagian ini masih lunak sehingga jauh lebih rentan mengalami kerusakan jika mendapat tekanan atau manipulasi yang tidak tepat. Jika lempeng pertumbuhan rusak, akibatnya bisa berlangsung seumur hidup.

“Kalau anak salah penanganan, pertumbuhannya bisa salah. Kakinya bisa bengkok, panjang kanan dan kiri bisa berbeda, bahkan pertumbuhan tulangnya bisa mati.”

2. Mengurut patah tulang bisa merusak saraf dan pembuluh darah

Seorang anak terjatuh dan cedera
Pexels/rdnestockproject

Saat tulang patah, ujung tulang biasanya tajam. Ketika dipijat atau ditekan, serpihan tulang dapat bergeser dan melukai jaringan di sekitarnya.

Akibatnya, anak berisiko mengalami:

  • Kerusakan saraf yang menyebabkan mati rasa atau kelumpuhan.
  • Robeknya pembuluh darah yang memicu perdarahan.
  • Gangguan aliran darah hingga meningkatkan risiko amputasi.

dr. Gabriel mengaku masih sering menemukan pasien yang datang terlambat setelah terlebih dahulu dibawa ke tukang urut.

“Saya sudah menangani beberapa pasien yang sebenarnya cukup memakai gips. Tapi karena dibawa ke tukang urut, saat datang tangannya sudah hitam akibat cedera pembuluh darah.”

3. Tulang memang bisa menyambung, tetapi belum tentu lurus

Seorang anak terjatuh dan cedera
Pexels/rdnestockproject

Banyak orang percaya tulang anak akan sembuh sendiri karena masih dalam masa pertumbuhan. Anggapan ini memang ada benarnya, tetapi tidak sepenuhnya tepat.

Menurut dr. Gabriel, hampir semua patah tulang anak memang akan menyambung. Namun, yang menjadi persoalan adalah apakah tulang tersebut menyatu pada posisi yang benar.

“Kalau cuma menyambung, hampir pasti menyambung. Yang menjadi perhatian dokter ortopedi adalah apakah tulangnya menyatu di posisi yang tepat atau justru bengkok.”

Jika tulang menyatu dalam posisi yang salah (malunion), anak berisiko mengalami keterbatasan gerak, bentuk anggota tubuh yang tidak normal, hingga memerlukan operasi koreksi di kemudian hari.

4. Kenali bedanya keseleo, retak tulang, dan patah tulang

Seorang anak terjatuh dan cedera
Pexels/rdnestockproject

Ketiganya sama-sama dapat menimbulkan nyeri dan bengkak sehingga sering sulit dibedakan.

  • Keseleo terjadi pada ligamen atau jaringan pengikat sendi.
  • Retak tulang merupakan kerusakan pada tulang tanpa pergeseran posisi.
  • Patah tulang adalah kondisi ketika tulang terbelah menjadi dua atau lebih. Pada anak sering ditemukan greenstick fracture, yaitu tulang hanya patah pada satu sisi karena tulang anak masih lentur.

Karena gejalanya mirip, pemeriksaan dokter dan foto rontgen tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.

5. Segera lakukan pertolongan pertama yang benar

Seorang anak mengalami cedera kaki
Pexels/cottonbrostudio

Jika anak diduga mengalami patah tulang, jangan panik dan hindari menggerakkan area yang cedera.

Pertolongan pertama yang dapat dilakukan antara lain:

  • Jangan meluruskan atau menarik tangan maupun kaki yang tampak bengkok.
  • Gunakan penyangga sederhana seperti papan atau majalah tebal agar posisi tulang tetap stabil.
  • Kompres dingin selama 15–20 menit untuk membantu mengurangi nyeri dan bengkak.
  • Segera bawa anak ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

6. Jangan menunggu terlalu lama membawa anak ke dokter

Seorang anak cedera
Pexels/cottonbrostudio

Menurut dr. Gabriel, ada masa emas penanganan cedera tulang pada anak yang tidak boleh dilewatkan.

“Untuk beberapa kasus, golden period hanya sekitar tujuh hari. Setelah itu tulangnya mulai menyambung. Kalau posisinya salah, sering kali harus dipatahkan lagi agar bisa diperbaiki.”

Karena itu, orangtua sebaiknya segera membawa anak ke dokter apabila muncul tanda seperti nyeri hebat, bengkak besar, bentuk tangan atau kaki berubah, mati rasa, hingga anak tidak mau menggerakkan anggota tubuh yang cedera.

7. Penanganan patah tulang anak kini tidak lagi semenakutkan dulu

Seorang anak cedera di kaki
Pexels/cottonbrostudio

Masih banyak orangtua yang takut membawa anak ke dokter karena khawatir harus menjalani operasi besar. Padahal, perkembangan teknologi ortopedi anak kini memungkinkan tindakan yang jauh lebih minimal invasif.

Menurut dr. Gabriel, banyak kasus patah tulang anak kini cukup ditangani dengan gips atau operasi menggunakan sayatan yang sangat kecil.

“Penanganan ortopedi anak sekarang sudah jauh lebih modern. Kalau dulu sayatannya bisa 12–15 sentimeter, sekarang pada banyak kasus hanya sekitar setengah sampai satu sentimeter. Hari ini operasi, besok anak sudah bisa pulang.”

Ia menegaskan bahwa tujuan utama penanganan bukan hanya membuat tulang menyambung, tetapi memastikan anak dapat tumbuh dengan bentuk tulang yang normal sehingga kualitas hidupnya tetap optimal di masa depan.

Jika anak mengalami cedera setelah jatuh atau dicurigai mengalami patah tulang, jangan mengambil risiko dengan mengurut atau memijat area yang cedera. Pemeriksaan sejak dini oleh dokter spesialis ortopedi anak dapat membantu menentukan penanganan yang tepat sekaligus mencegah komplikasi jangka panjang.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina

Related Articles

See More