“Pemikiran kritis itu muncul dalam sebuah perbandingan, pertanyaan menganalisis bukan sekadar pertanyaan yang sudah tahu jawabannya. Jadi kalau mereka menanyakan apa, bagaimana, menurut mama seperti apa, itu bentuknya sebuah critical thinking,” jelas Alexandra.
Perbedaan Anak Kritis dan Anak "Asbun", Ini Kata Psikolog!

- Psikolog Alexandra Gabriella menjelaskan bahwa anak kritis terlihat dari cara mereka bertanya, menganalisis, dan menanggapi jawaban dengan fokus serta keinginan memahami lebih dalam.
- Kemampuan berpikir kritis mulai muncul sejak usia prasekolah ketika kemampuan bahasa berkembang, lalu semakin kompleks saat anak memasuki usia sekolah dasar.
- Tanda anak berpikir kritis juga tampak dari kemampuannya memahami konsep abstrak dan mengikuti alur diskusi, berbeda dengan anak asbun yang hanya nyeletuk tanpa analisis mendalam.
Generasi Alpha dikenal lebih berani mengungkapkan pendapat dan sering melontarkan banyak pertanyaan. Namun, tidak sedikit orangtua yang bingung membedakan apakah anak benar-benar sedang berpikir kritis atau hanya asal bicara alias asbun.
Menurut Alexandra Gabriella, M.Psi., Psi., C.Ht., C.ESt., Psikolog Klinis, critical thinking pada anak sebenarnya bisa dilihat dari cara mereka bertanya, menganalisis, hingga merespons jawaban yang diberikan orang dewasa.
Berikut Popmama.com rangkum penjelasan lengkapnya.
Table of Content
1. Anak kritis biasanya bertanya untuk menganalisis, bukan sekadar nyeletuk

Menurut Alexandra, pertanyaan anak yang menunjukkan critical thinking biasanya muncul karena mereka benar-benar ingin memahami sesuatu. Anak tidak hanya bertanya, tetapi juga mencoba membandingkan, menganalisis, dan menghubungkan informasi yang diterimanya.
Anak yang berpikir kritis juga cenderung mendengarkan jawaban dengan serius. Bahkan setelah dijelaskan, mereka bisa kembali bertanya dengan sudut pandang lain karena memang ingin memahami lebih dalam.
2. Critical thinking mulai terlihat sejak usia prasekolah

Kemampuan berpikir kritis ternyata sudah mulai berkembang sejak anak usia dini, terutama ketika kemampuan bahasanya mulai lebih matang. Pada fase ini, anak mulai aktif melakukan timbal balik dalam percakapan dengan orangtua.
“Dari usia 3-5 tahun sudah mulai kelihatan, ketika anak punya perkembangan bahasa yang lebih advance. Sudah mulai bisa timbal balik ke orangtuanya, kok bisa nanya itu?” tutur Alexandra.
Menurutnya, kemampuan ini akan semakin berkembang saat anak memasuki usia SD. Pada masa tersebut, anak mendapatkan banyak pengalaman baru dari sekolah, lingkungan sosial, dan proses belajar sehingga pertanyaannya menjadi lebih kompleks.
“Itu akan semakin terlihat ketika anak usia SD. Semua informasi baru, mereka dapat pengalaman di sekolah pertama kali,” lanjut Alexandra.
3. Anak dengan critical thinking mulai bisa berpikir abstrak

Salah satu tanda anak mulai memiliki kemampuan berpikir kritis adalah ketika mereka sudah bisa memahami konsep abstrak, bukan hanya sesuatu yang terlihat secara langsung.
“Apakah anak ini sudah bisa berpikir abstrak atau belum. Apakah anak ini bisa melihat secara teori, ada bendanya, ada kejadiannya, atau bisa diajak berpikir dan menganalisis ketika masih bayangan atau abstrak tadi,” jelas Alexandra.
Ia mencontohkan bagaimana anak mulai mempertanyakan sesuatu dengan analisis yang lebih dalam, misalnya soal game. Anak tidak hanya melihat game sebagai hiburan, tetapi mulai memahami sisi lain dari aktivitas tersebut.
“Contohnya ‘kenapa sih anak-anak itu nggak boleh main game? Padahal game sama untuk strategi dan fokus.’ Menurut dia, mereka sudah berpikir ke situ. Butuh pemikiran yang dalam untuk bisa menganalisis sampai ke sana,” lanjutnya.
4. Anak kritis bisa mengikuti alur diskusi dengan fokus

Menurut Alexandra, perbedaan paling mudah antara anak kritis dan asbun terlihat dari cara mereka mengikuti percakapan. Anak yang benar-benar berpikir kritis biasanya tetap fokus saat diajak berdiskusi.
“Bagaimana kita melihat jawaban mereka, kalau terlihat ada isinya dan analisisnya dan ketika kita ajak bicara mereka bisa mengikuti alurnya,” tutur Alexandra.
Hal ini menunjukkan bahwa anak benar-benar memikirkan topik yang sedang dibahas. Mereka tidak hanya asal berbicara, tetapi juga memproses informasi yang diterima dan mencoba memahami sudut pandang lain.
5. Anak asbun biasanya hanya nyeletuk lalu pergi

Sementara itu, anak yang asbun cenderung hanya melontarkan komentar spontan tanpa benar-benar ingin mendalami pembahasan. Setelah berbicara, mereka biasanya langsung beralih ke hal lain.
“Kalau yang asbun, mereka cukup nyeletuk dan pergi, jadi dari sikap pun bisa kita nilai,” jelas Alexandra.
Karena itu, orangtua perlu lebih jeli melihat konteks dan respons anak. Tidak semua celetukan berarti anak membangkang atau sekadar cari perhatian, bisa jadi mereka memang sedang belajar memahami dunia di sekitarnya dengan cara mereka sendiri.
Itulah penjelasan mengenai perbedaan anak kritis dan asbun menurut psikolog Alexandra Gabriella. Jadi, penting bagi orangtua untuk tetap membuka ruang diskusi agar kemampuan berpikir anak bisa berkembang dengan sehat.
POPMAMA TALK Mei 2026 - Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Psikolog Klinis
Senior Editor - Novy Agrina
Host - Novy Agrina
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana
Script - Sania Chandra Nurfitriana
Social Media - Mayang Ulfah
Photographer - David Andrew
Videographer - Bellinna Putri, David Andrew & Albertus Olav
Video Editor - David Andrew
Design - Aristika Medinasari


















