10 Kebiasaan Buruk Anak yang Harus Segera Dihentikan

Ada keterampilan hidup yang perlu dipelajari anak-anak, serta perilaku baik yang perlu mereka terapkan, seperti selalu mengucapkan tolong dan terima kasih, berbagi, dan menghormati orang yang lebih tua.
Ketika berbicara tentang bayi dan balita, ada kebiasaan seperti mengisap ibu jari dan menggunakan dot yang memiliki tujuan menenangkan diri, tetapi pada akhirnya Mama anak berhenti. Lalu ada kebiasaan gugup seperti menggigit kuku atau memutar-mutar rambut.
Sedangkan pada anak-anak yang lebih besar, ada kebiasaan lain yang dapat dengan cepat terbentuk dan akan berlanjut hingga dewasa jika Mama tidak menghentikannya.
Untuk mengetahui kebiasaan apa saja yang harus dihentikan, berikut ini Popmama.com telah merangkum kebiasaan buruk anak yang harus segera dihentikan. Kira-kira ada kebiasaan anak mama nggak ya?
1. Berbicara dengan makanan di mulutnya

Mungkin Mama merasa jijik ketika melihat seseorang yang berbicara dengan makanan di mulutnya. Berbicara sambil mengunyah makanan seringkali dianggap menggemaskan bagi anak-anak, tapi ini adalah kebiasaan yang tidak pernah lucu untuk seorang anak, atau orang dewasa.
Jika Mama melihat anak melakukan ini, beri tahu anak apa alasan untuk tidak melakukannya berulang kali. Berbicara dengan makanan di dalam mulutnya memungkinkan anak memuncratkan makanan tersebut ke piring orang lain atau ke piring saji yang masih ingin disantap oleh orang lain.
Yup, ini mungkin perlu beberapa proses sebelum mereka berhenti melakukannya. Karena anak-anak kecil cenderung selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan, dan merasa sulit untuk berhenti menyelesaikan tugas mengunyah dan menelan makanan.
Meskipun sulit, tata krama di meja makan ini perlu ditanamkan pada anak hingga ia memahaminya. Jangan sampai kebiasaan ini berkembang hingga anak mencapai usia remaja dan dewasa ya Ma!
2. Mengupil di tempat umum

Terkadang, mengupil memang perlu dilakukan. Tapi ajari anak untuk menggunakan tisu, dan pergi ke kamar mandi atau area pribadi untuk mengeluarkan kotoran hidung yang menyusahkannya secara pribadi tersebut.
Tidak ada yang ingin melihat balita, anak, atau remaja menggali kotoran di meja makan, atau saat sedang mengobrol di ruang tamu. Dan tanpa tisu di tangan, siapa yang tahu di mana kotoran hidung tersebut akan berakhir?
3. Tidak meletakkan barang yang digunakan ke tempat semula

Dari piring hingga mainan, tidak masalah apa "barang" yang dimaksud. Yang paling penting adalah anak perlu belajar menyimpan barang tersebut di tempat semula, daripada meninggalkannya untuk dirapikan oleh orang lain.
Biasakan anak untuk merapikan barang yang digunakan lebih awal, apakah itu meletakkan piring di wastafel atau mesin pencuci piring, meletakkan mainan atau buku, merapikan meja pekerjaan rumah, atau apa pun.
Menjadikan bagian dari rutinitas ini sejak dini, akan membuat segalanya lebih mudah seiring bertambahnya usia.
4. Bersendawa di depan umum

Dalam beberapa budaya, bersendawa dengan suara keras setelah makan benar-benar dapat diterima atau dianggap sebagai ungkapan terima kasih bahwa makanannya lezat. Dan jika hal ini terjadi dalam budaya dan rumah tangga Mama, tentu saja hormati itu.
Namun jika tidak, cobalah untuk menghentikan perilaku anak yang satu ini, terutama jika itu terjadi setiap saat, tidak hanya setelah makan. Agar anak tidak membiasakannya.
Paling tidak, jika anak merasa perlu membuka mulut dan memalingkan wajah untuk mencoba bersendawa dengan tenang. Setelah itu pastikan anak mengucapkan "permisi" atau "maaf" yang tulus setelah selesai.
5. Menutup mulut dengan telapak tangan saat batuk dan bersin

Ketika pandemi ini mengharuskan semua untuk menggunakan masker, Mama mungkin masih melihat betapa banyak orang dewasa yang masih batuk dengan mulut terbuka, menyebarkan kuman dan penyakit potensial mereka ke udara.
Sehingga penting bagi Mama untuk mengajari anak sejak kecil agar ia menutup mulut saat batuk dan bersin. Selain itu, hindari menutup mulut saat batuk dan bersin menggunakan telapak tangannya, melainkan dengan bagian dalam siku mereka.
Menutup mulut dengan bagian dalam siku mencegah penyebaran kuman dan juga menjauhkan kuman dari tangannya, sehingga anak tidak menyebarkannya dengan menyentuh mainan di sekolah atau di rumah, atau orang lain.
Semakin banyak anak yang belajar melakukan ini, maka semakin sedikit pula penyakit yang akan menyebar di sekolah dan di rumah.
6. Meninggalkan pakaian kotor di lantai

Anak-anak terkadang memiliki bakat untuk melempar pakaian ke lantai, biasanya tepat di samping keranjang, alih-alih memasukkannya ke dalam tempat cucian. Atau mereka mungkin meninggalkannya di lantai di kamar mandi setelah berganti pakaian atau mandi.
Sebagai orangtua, Mama mungkin dengan patuh mengambilnya dan meletakkannya di keranjang, sambil bergumam kesal mengapa anak tidak memasukkannya sendiri. Namun, cobalah untuk menghentikan dan membiasakan anak untuk meletakkan pakaian kotornya sendiri.
Untuk anak-anak yang lebih kecil, Mama dapat membeli keranjang pakaian atau ember yang memiliki warna atau tokoh favorit anak, dan mintalah anak untuk meletakkan pakaian kotornya di keranjang khusus untuknya.
Sedangkan, untuk anak yang lebih besar, berikan sedikit konsekuensi alami dari tindakan ini. Jika anak membuang pakaiannya ke lantai, jangan mengambil atau mencucinya sampai anak menyadari tidak ada pakaian bersih lagi di lemarinya.
7. Mengelap tangan di pakaian

Sejak kecil, anak memiliki terkadang kebiasaan buruk mengelap tangannya pada pakaian, biasanya ini terjadi dengan makanan, tetapi bisa juga dengan hal-hal lain seperti cat, kotoran, atau tanah yang ia temui.
Meskipun baik untuk bermain di luar ruangan, Mama tentu ingin menghindari noda jahat yang sulit dibersihkan saat dicuci. Sehingga pastikan untuk memberikan anak serbet atau handuk setiap kali ia makan.
Dorong anak menggunakannya ketika ingin mengelap mulut dan tangannya. Mama juga dapat menyediakan serbet atau kain untuk mengelap tangan saat anak aktivitas berantakan lainnya, seperti melukis.
8. Tidak meminum air dengan cukup

Bukan rahasia umum lagi, sulit bagi seorang anak untuk minum air putih ketika ia belum menanamkan kebiasaan ini dalam pikirannya sejak usia dini. Ketika orangtua atau pengasuh lebih awal mengenalkan anak pada jus, ia mungkin akan lebih terbiasa minum jus, dan sulit untuk membuatnya minum air.
Sebaliknya, cobalah untuk bergantian meminta anak meminum jus dan air putih. Minum jus memang sehat, terlebih lagi jika dibuat sendiri dan tidak mengandung banyak gula seperti dari jus kemasan.
Namun tidak minum cukup air dapat menyebabkan banyak masalah, mulai dari dehidrasi hingga sembelit, bibir pecah-pecah, dan bahkan masalah gigi.
9. Menunda-nunda tanggung jawab

"Aku akan melakukannya nanti." Mama mungkin sering mendengar ini, terutama dari anak-anak yang lebih besar.
Seringkali ini digunakan sebagai respon ketika Mama menyuruhnya menyelesaikan pekerjaan rumah, mengajak hewan peliharaan untuk jalan-jalan, menyuci piring, menelepon nenek di saat ulang tahunnya, atau tugas atau tugas lainnya.
Menunda-nunda bisa menjadi kebiasaan buruk dengan cepat. Sehingga Mama perlu mengajarkan anak menyelesaikan apa pun yang perlu ia lakukan dengan cepat dan segera, daripada membiarkan daftar tugas semakin panjang.
Ini akan membuat anak menyadari nilai dari waktu dan tidak menunda-nunda pekerjaannya. Anak juga akan berterima kasih kepada kebiasaan ini ketika ia menjadi dewasa, memasuki perguruan tinggi atau dunia kerja,
10. Terlalu banyak waktu layar

Ini bisa menjadi dampak bola salju dengan cukup cepat, pertama anak dibiarkan bermain video game satu jam setelah sepulang sekolah.
Kemudian menghabiskan satu jam bermain ponsel di kamarnya, komputer, dan media sosialnya. Selanjutnya, anak tanpa memikirkan waktu duduk di depan acara TV.
Pada akhirnya, waktu belajar menjadi tidak efektif. Anak mungkin akan belajar kebut semalam sebelum ujian, atau mengerjakan tugas-tugasnya beberapa jam sebelum dikumpulkan.
Penting bagi Mama untuk menetapkan struktur dan semacam batasan lebih awal sebelum anak-anak mulai mendambakan lebih banyak waktu di depan layar.
Bermain gadget tanpa batas waktu bisa menyebabkannya kecanduan. Jadi yang terbaik adalah menetapkan batas sejak dini, dan menaatinya, sehingga ini tidak menjadi kebiasaan yang berbahaya dan merugikan.
Nah itulah 10 kebiasaan buruk anak yang harus segera dihentikan. Beberapa kebiasaan buruk ini mungkin terdengar sepele jika dilakukan di rumah. Namun jika anak mengembangkan kebiasaan ini ketika di luar rumah, anak mungkin akan mendapatkan dampak yang merugikan.
Perlu diingat bahwa, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya dan membangun kebiasaan yang lebih positif.



















