Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Mitos dan Fakta Campak, Belum Ada Obatnya Tapi Bisa Dicegah

Mitos dan Fakta Campak, Belum Ada Obatnya Tapi Bisa Dicegah
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI
Intinya Sih
  • Campak bukan penyakit ringan melainkan penyakit serius dengan komplikasi berbahaya yang mudah menular lewat udara

  • Indonesia berada di urutan kedua KLB campak dunia dengan banyak mitos yang membuat orangtua lengah

  • Imunisasi gratis adalah satu-satunya cara efektif mencegah campak dan melindungi seluruh masyarakat melalui herd immunity

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Berita tentang wabah campak yang semakin menyebar di berbagai daerah tentu membuat Mama khawatir.

Penyakit yang sering dianggap ringan ini ternyata telah merenggut banyak nyawa anak-anak, dan Indonesia kini berada di urutan kedua kasus campak terbanyak di dunia.

Banyak mitos yang beredar di masyarakat tentang campak yang membuat orangtua lengah dan tidak menganggap serius pentingnya pencegahan penyakit ini.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar media briefing pada Sabtu (28/02/2026) dengan tema "Campak pada Anak" dengan narasumber ahli, yang di antaranya:

  • DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp. A., Subsp. Kardio (K) selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia

  • Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp. A., Subsp. IPT (K) selaku Ketua IDAI Jabar dan Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI.

Berikut Popmama.com rangkum mitos dan fakta seputar campak yang perlu Mama ketahui!

Table of Content

1. Indonesia urutan kedua KLB campak di dunia

1. Indonesia urutan kedua KLB campak di dunia

Peta Indonesia
Freepik

Data WHO untuk 6 bulan terakhir menempatkan Indonesia di posisi yang sangat mengkhawatirkan. Yaman berada di urutan pertama dengan 11.255 kasus, diikuti Indonesia dengan 10.744 kasus, dan India dengan 9.699 kasus. Negara lain yang masuk dalam 10 besar termasuk Pakistan, Angola, Nigeria, dan Afghanistan.

Di Indonesia sendiri, data hingga minggu ke-53 tahun 2025 menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 49.275 diperiksa laboratorium dan 11.094 terkonfirmasi sebagai campak dengan pos rate 24,6%. Memasuki tahun 2026 hingga minggu ke-5, sudah tercatat 5.329 kasus suspek dengan 3.445 diperiksa laboratorium dan 379 konfirmasi laboratorium sebagai campak dengan pos rate 7,1%.

Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terjadi di berbagai daerah. Di Timika periode September 2017 hingga Januari 2018, tercatat 646 kasus campak dan 144 kasus gizi buruk, dengan 70 anak meninggal akibat campak dan gizi buruk. Di Baduy tahun 2022, 9 warga meninggal. Sementara di Sumenep, wabah campak merenggut nyawa 17 anak.

"Ini wake up call yang menyadarkan tidak bisa dianggap ringan. Penguatan layanan kesehatan primer perlu dilakukan segera," tegas dr. Piprim.

2. Mitos - Campak hanya ruam ringan pada anak

Campak pada anak
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI

Mitos yang paling berbahaya tentang campak adalah anggapan bahwa ini hanya penyakit ringan yang ditandai dengan ruam pada anak. Persepsi ini membuat banyak orangtua tidak menganggap serius pentingnya pencegahan dan pengobatan campak.

Faktanya, campak adalah penyakit yang berat dan sering memerlukan perawatan di rumah sakit. Di Amerika Serikat, 1 dari 5 orang yang tidak divaksin dan terkena campak memerlukan rawat inap. Ini menunjukkan betapa seriusnya penyakit ini.

Campak dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius seperti kebutaan, radang otak (ensefalitis), dan bahkan kematian. Komplikasi-komplikasi ini bukan kejadian yang jarang, tetapi merupakan risiko nyata yang harus diwaspadai oleh setiap orangtua.

"Campak yang komplikasinya bisa jadi radang paru atau otak atau buta dan penularannya jauh lebih tinggi daripada COVID," ungkap dr. Piprim.

Komplikasi dari campak ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan COVID-19 yang sempat menjadi pandemi global. Hal ini menunjukkan bahwa campak adalah ancaman kesehatan yang sangat serius.

3. Mitos - Hanya anak-anak yang bisa terkena campak

Anak diperiksa oleh dokter
Freepik/jcomp

Mitos lain yang sering beredar adalah bahwa campak hanya menyerang anak-anak. Mitos ini membuat orang dewasa merasa aman dan tidak perlu waspada terhadap penyakit ini.

Fakta sebenarnya adalah siapa pun yang tidak memiliki kekebalan terhadap campak, termasuk orang dewasa, bisa tertular penyakit ini. Tidak ada batasan usia untuk tertular campak, yang penting adalah status kekebalan tubuh seseorang.

Orang dewasa yang tertular campak seringkali mengalami komplikasi yang lebih serius dibandingkan anak-anak. Sistem kekebalan tubuh orang dewasa bereaksi berbeda terhadap virus campak, yang dapat menyebabkan gejala yang lebih parah.

Oleh karena itu, penting bagi semua orang, baik anak-anak maupun dewasa, untuk memastikan mereka memiliki kekebalan yang cukup terhadap campak melalui vaksinasi.

4. Mitos – Jika sudah vaksin tidak perlu khawatir campak

Anak divaksin
Freepik

Mitos ketiga yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa jika sudah divaksin, maka tidak perlu khawatir tentang campak. Persepsi ini membuat orang yang sudah divaksin merasa tidak memiliki tanggung jawab terhadap pencegahan penyebaran campak.

Faktanya, memang orang yang sudah divaksin terlindungi dari campak. Namun, ada kelompok rentan dalam masyarakat yang tidak bisa divaksin, seperti bayi yang terlalu muda untuk menerima vaksin atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (immunocompromised). Kelompok ini bergantung pada herd immunity atau kekebalan kelompok untuk tetap aman.

"Sudah divaksin, sudah nggak usah takut KLB? Nggak bisa juga. Agar tidak KLB, kita butuh orang sekitar untuk terjaga imun terhadap campak," tegas Prof. Anggraini.

Herd immunity atau kekebalan kelompok adalah perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi (sekitar 70%-90%) telah kebal, baik melalui vaksinasi maupun infeksi sebelumnya.

Herd community dapat tercapai ketika cakupan vaksinasi di masyarakat mencapai lebih dari 95%. Dengan cakupan ini, virus campak kesulitan untuk menyebar karena sebagian besar populasi sudah kebal.

Efektivitas vaksin campak juga perlu dipahami. Vaksin pertama memiliki efektivitas 84-93%, sementara setelah vaksin kedua, efektivitas meningkat menjadi 95-97%. Ini menunjukkan pentingnya mendapatkan dua dosis vaksin untuk perlindungan optimal.

5. Gejala campak yang perlu diwaspadai

Anak memakai masker
Freepik/prostooleh

Campak memiliki tiga stadium perkembangan yang penting untuk dikenali agar dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat.

  • Stadium Prodromal (3-5 hari) adalah tahap awal campak. Pada tahap ini, anak mengalami demam yang biasanya tinggi, disertai dengan gejala yang dikenal sebagai 3C, yaitu Coryza (pilek), Conjunctivitis (mata merah), dan Cough (batuk). Gejala khas pada stadium ini adalah munculnya Koplik's spots, yaitu bercak putih kecil di dalam mulut yang merupakan tanda diagnostik penting untuk campak.

  • Stadium Erupsi adalah tahap ketika ruam khas campak mulai muncul. Ruam ini berbentuk makulopapular eritematosus yang konfluens atau menyatu. Yang membedakan ruam campak dari penyakit lain adalah pola penyebarannya yang sangat khas. Ruam dimulai dari belakang telinga atau area dekat rambut, kemudian menyebar ke tubuh dan lengan atas, dan akhirnya ke tungkai bawah. Penyebaran ruam ini terjadi selama 3 hari hingga menutupi seluruh tubuh. Pada stadium ini juga terlihat gejala mata merah dan bibir kering.

  • Stadium Konvalesens adalah tahap pemulihan. Pada tahap ini, semua gejala campak mulai menghilang. Ruam yang tadinya merah akan berubah menjadi makula hiperpigmentasi (menggelap) atau skuama (bersisik). Setelah ruam menggelap dan bersisik, barulah anak tidak lagi menular.

6. Komplikasi serius dari campak yang bisa terjadi

X-Ray pada paru-paru
Freepik/Wiroj Sidhisoradej

Komplikasi campak sangat beragam dan semuanya serius, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Kehilangan pendengaran, ini terjadi ketika ada cairan yang keluar dari telinga yang kemudian menyebabkan kerusakan pada pendengaran. Komplikasi ini bisa bersifat permanen dan sangat mempengaruhi kualitas hidup anak.

  • Dehidrasi dan kebutaan, kekurangan cairan yang parah dapat menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani. Sementara itu, mata yang kering akibat campak membuat cadangan vitamin A dalam tubuh tergerus, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kebutaan.

  • Pneumonia atau radang paru, infeksi paru akibat campak bisa sangat parah hingga memerlukan bantuan ventilasi mekanik untuk bernapas. Ini menunjukkan betapa berbahayanya komplikasi dari penyakit yang sering dianggap remeh ini.

  • "Amnesia imun", virus campak ternyata dapat menghapus daya tahan tubuh yang sudah terbentuk sebelumnya. Akibatnya, anak menjadi sangat mudah sakit-sakitan selama berbulan-bulan setelah sembuh dari campak. Dampak long term ini terutama berbahaya bagi anak dengan gizi buruk dan yang belum diimunisasi.

  • Radang otak atau ensefalitis, ada dua jenis ensefalitis yang bisa terjadi, yaitu APME (Acute Postinfectious Measles Encephalitis) yang terjadi pada minggu pertama dengan tingkat kematian 20%, dan MIBE (Measles Inclusion Body Encephalitis) yang terjadi dalam 6 bulan pertama dengan tingkat kematian 100%. Ensefalitis juga dapat menyebabkan kejang yang bukan disebabkan oleh demam biasa.

7. Penularan campak sangat mudah

Bergandengan tangan
Freepik/jcomp

"Penularannya tidak hanya sentuhan. Ini via udara. Ada yang batuk, bersin, bahkan bicara maka virus bisa melayang sampai lebih dari 2 jam. Mirip seperti TBC," jelas Prof. Anggraini.

Penularan campak tidak hanya melalui sentuhan langsung seperti yang banyak orang bayangkan. Cara penularan utama campak adalah melalui udara. Ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau bahkan sekadar berbicara, virus campak dapat menyebar ke udara dan melayang hingga lebih dari 2 jam.

Virus yang melayang di udara ini kemudian dapat dihirup oleh orang lain yang berada di ruangan yang sama, bahkan setelah orang yang terinfeksi sudah meninggalkan ruangan tersebut. Virus campak juga dapat menempel di permukaan benda dan debu, sehingga penularan bisa terjadi secara tidak langsung.

Karakteristik penularan campak ini mirip dengan tuberkulosis (TBC), yang juga menular melalui udara. Di lingkungan yang lembap, padat penduduk, dan memiliki ventilasi yang buruk, penularan campak akan semakin meningkat. Kondisi seperti ini sering ditemukan di daerah padat penduduk atau di fasilitas kesehatan yang penuh sesak.

Masa menular campak yang sangat lama. Pasien yang terinfeksi campak dapat menularkan virus selama 3 minggu, bahkan dimulai dari masa inkubasi sebelum ruam muncul hingga 10 hari setelah ruam muncul. Bahkan ketika ruam sudah mulai mengering, pasien masih bisa menularkan virus.

Pasien campak baru benar-benar tidak menular lagi setelah ruam sudah berubah menjadi hitam (hiperpigmentasi). Masa menular yang sangat panjang ini membuat campak sangat mudah menyebar, terutama jika tidak diketahui sejak awal.

8. Imunisasi campak gratis dan wajib untuk cegah KLB

Anak kecil divaksin
Freepik/jcomp

Vaksin campak sebenarnya sudah ada dan sangat efektif untuk mencegah penyakit ini. Namun, belum ada obat antivirus khusus yang mampu mematikan virus campak secara langsung. Vaksin Campak-Rubela (MR) dilakukan melalui 3 tahap, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak kelas 1 SD.

Pengobatan utama difokuskan pada terapi suportif untuk membantu tubuh melawan infeksi secara mandiri. Hal ini dilakukan dengan memastikan pasien mendapat istirahat yang cukup, pemberian obat penurun panas atau antipiretik untuk meredakan demam, serta menjaga asupan nutrisi dan dehidrasi yang optimal.

Selain itu, pemberian obat antibiotik juga diperlukan apabila ditemukan adanya infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri, seperti radang paru-paru atau infeksi telinga yang menyertai campak tersebut.

Selain vaksin dan terapi suportif, diperlukan juga vitamin A dengan dosis tinggi. Vitamin A merupakan pengobatan penting untuk mencegah komplikasi berat.

Dosisnya dibedakan berdasarkan usia, bayi berusia 6-11 bulan diberikan dosis 100.000 UI dan anak di atas 1 tahun diberikan dosis 200.000 UI secara oral. Pemberian dosis ini dilakukan secara 2 tagap, yaitu saat didiagnosis dan diulangi lagi pada hari kedua.

Jika ditemukan kondisi gizi buruk atau komplikasi pada mata, pemberian vitamin A ini perlu diulangi kembali 2 minggu kemudian sesuai anjuran dokter.

"Kami menekankan bahwa ini sesuatu yang serius, tidak bisa lagi diam. Penguatan layanan kesehatan primer termasuk peningkatan cakupan imunisasi, harus dilakukan dan tidak bisa sendirian," tegas dr. Piprim.

Intinya, Ma, imunisasi adalah cara paling efektif untuk mencegah campak dan KLB. Namun, imunisasi individual saja tidak cukup. Diperlukan partisipasi semua orang untuk mencapai herd immunity agar dapat melindungi seluruh masyarakat, terutama mereka yang paling rentan.

Apakah anak Mama sudah mendapat imunisasi lengkap?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Big Kid

See More