Vaksin campak sebenarnya sudah ada dan sangat efektif untuk mencegah penyakit ini. Namun, belum ada obat antivirus khusus yang mampu mematikan virus campak secara langsung. Vaksin Campak-Rubela (MR) dilakukan melalui 3 tahap, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan saat anak kelas 1 SD.
Pengobatan utama difokuskan pada terapi suportif untuk membantu tubuh melawan infeksi secara mandiri. Hal ini dilakukan dengan memastikan pasien mendapat istirahat yang cukup, pemberian obat penurun panas atau antipiretik untuk meredakan demam, serta menjaga asupan nutrisi dan dehidrasi yang optimal.
Selain itu, pemberian obat antibiotik juga diperlukan apabila ditemukan adanya infeksi sekunder yang disebabkan oleh bakteri, seperti radang paru-paru atau infeksi telinga yang menyertai campak tersebut.
Selain vaksin dan terapi suportif, diperlukan juga vitamin A dengan dosis tinggi. Vitamin A merupakan pengobatan penting untuk mencegah komplikasi berat.
Dosisnya dibedakan berdasarkan usia, bayi berusia 6-11 bulan diberikan dosis 100.000 UI dan anak di atas 1 tahun diberikan dosis 200.000 UI secara oral. Pemberian dosis ini dilakukan secara 2 tagap, yaitu saat didiagnosis dan diulangi lagi pada hari kedua.
Jika ditemukan kondisi gizi buruk atau komplikasi pada mata, pemberian vitamin A ini perlu diulangi kembali 2 minggu kemudian sesuai anjuran dokter.
"Kami menekankan bahwa ini sesuatu yang serius, tidak bisa lagi diam. Penguatan layanan kesehatan primer termasuk peningkatan cakupan imunisasi, harus dilakukan dan tidak bisa sendirian," tegas dr. Piprim.
Intinya, Ma, imunisasi adalah cara paling efektif untuk mencegah campak dan KLB. Namun, imunisasi individual saja tidak cukup. Diperlukan partisipasi semua orang untuk mencapai herd immunity agar dapat melindungi seluruh masyarakat, terutama mereka yang paling rentan.
Apakah anak Mama sudah mendapat imunisasi lengkap?