Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Pemprov DKI Jakarta Wajibkan Warga Pilah Sampah, Ini Cara Pembagiannya

Pemprov DKI Jakarta Wajibkan Warga Pilah Sampah, Ini Cara Pembagiannya
Dok. Pemprov DKI
Intinya Sih
  • Pemprov DKI Jakarta menerapkan Ingub Nomor 5 Tahun 2026 yang mewajibkan warga memilah sampah organik dan anorganik mulai 10 Mei 2026, dengan sanksi bagi pelanggar.
  • Artikel menjelaskan empat kategori utama sampah: organik, anorganik, B3, dan residu, serta cara pemilahan menggunakan tempat sampah berwarna berbeda agar lebih mudah diterapkan di rumah.
  • Dijabarkan pengelolaan tiap jenis sampah seperti komposting untuk organik, bank sampah untuk anorganik, fasilitas khusus untuk B3, dan teknologi energi alternatif untuk residu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 tentang kewajiban pemilahan sampah dari sumbernya mulai berlaku pada Minggu, 10 Mei 2026.

Aturan ini mewajibkan warga untuk memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, kantor, maupun tempat usaha.

Terdapat sanksi administratif bagi yang tidak mau memilah sampah sesuai ketentuan. Tujuan pemilahan ini agar sampah tidak bercampur ketika dibuang ke tempat pembuangan akhir.

Maka dari itu, penting untuk mengetahui cara pembagian sampah dan cara memilahnya dengan benar.

Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan.

7 Cara Mudah Memilah Sampah di Rumah

1. Pahami 4 jenis sampah dengan bahasa sederhana

Pexels/SHVETS production

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memahami empat jenis sampah dengan bahasa yang mudah dipahami agar lebih gampang diingat.

Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup seperti kulit buah, daun, atau sisa makanan yang bisa membusuk secara alami.

Sementara itu, sampah anorganik berasal dari plastik, kaca, kaleng, atau kertas yang lebih sulit terurai.

Kemudian, perlu pahami bahwa ada juga sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), contohnya meliputi baterai bekas, lampu neon, oli bekas, pestisida, kemasan aerosol, elektronik bekas (e-waste), dan sampah medis seperti masker bekas

Ada pula sampah residu yang tak bisa diolah lagi, seperti puntung rokok, popok sekali pakai, pembalut, dan tisu bekas.

2. Gunakan tempat sampah dengan warna berbeda

paulsrubbish.com.au

Banyak dari kita biasanya lebih mudah belajar melalui visual. Karena itu, cobalah menyediakan beberapa tempat sampah dengan warna berbeda untuk setiap jenis sampah. Misalnya hijau untuk organik, kuning untuk anorganik, merah untuk B3, dan abu-abu untuk residu.

Tambahkan gambar atau stiker lucu pada setiap tempat sampah agar terlihat lebih menarik. Contohnya gambar kulit pisang untuk sampah organik atau gambar botol plastik untuk sampah anorganik.

Cara ini membantu kita, termasuk anak-anak, mengingat fungsi masing-masing tempat sampah tanpa merasa sedang belajar sesuatu yang rumit.

Kebiasaan sederhana ini juga dapat melatih konsistensi sejak dini. Semakin sering kita membuang sampah sesuai kategorinya, semakin terbentuk pula rasa tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

3. Biasakan praktik langsung di rumah

Pexels/Thirdman
Pexels/Thirdman

Belajar memilah sampah akan lebih efektif jika dilakukan langsung dalam kegiatan sehari-hari. Setelah makan, biasakan untuk memisahkan sisa makanan, bungkus plastik, dan tisu bekas ke tempat sampah yang sesuai. Aktivitas sederhana seperti ini secara tidak sadar membuatnya memahami fungsi pemilahan secara nyata.

Misalnya, usai selesai makan atau membuat prakarya, biasakan untuk memilah sampah dari kertas, potongan plastik, atau benda yang sudah tidak terpakai.

4. Sampah organik dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat

Pexels/Anna Shvets
Pexels/Anna Shvets

Sampah organik merupakan jenis sampah yang berasal dari sisa makhluk hidup, seperti sisa makanan, kulit buah, sayuran, daun kering, atau ampas kopi. Jenis sampah ini mudah terurai secara alami sehingga perlu dipisahkan dari sampah lainnya agar tidak menumpuk dan menimbulkan bau.

Salah satu cara pengolahan sampah organik yang paling umum adalah komposting. Proses ini mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman. Selain membantu mengurangi jumlah sampah rumah tangga, komposting juga membuat limbah organik lebih bermanfaat bagi lingkungan.

Selain komposting, sampah organik juga dapat diolah melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan biodigester. Maggot BSF mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau pupuk. Sementara itu, biodigester digunakan untuk mengolah limbah organik menjadi biogas dan pupuk cair yang berguna untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.

5. Sampah anorganik bisa didaur ulang melalui bank sampah

Sampah anorganik berasal dari bahan yang sulit terurai secara alami, seperti plastik, kaca, logam, kaleng, dan kertas tertentu. Karena membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai, sampah jenis ini perlu dipilah agar tidak mencemari lingkungan.

Salah satu cara pengelolaan sampah anorganik adalah melalui bank sampah. Sistem ini memungkinkan masyarakat mengumpulkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi untuk kemudian dipilah dan didaur ulang menjadi produk baru yang dapat digunakan kembali.

Keberadaan bank sampah juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah. Dengan memilah sampah anorganik sejak dari rumah, jumlah limbah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dapat berkurang sekaligus mendukung praktik daur ulang yang lebih berkelanjutan.

6. Sampah B3 perlu dipisahkan dan dibuang ke fasilitas khusus

Freepik/magnific.com
Freepik/magnific.com

Sampah bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan jenis limbah yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan manusia maupun lingkungan. Contohnya meliputi baterai bekas, limbah elektronik, bohlam atau lampu rusak, serta limbah kimia seperti cairan pembersih atau cat.

Jenis sampah ini tidak boleh dicampur dengan sampah rumah tangga biasa karena kandungan zat kimianya dapat mencemari tanah, air, dan udara. Jika dibuang sembarangan, limbah B3 juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, mulai dari iritasi hingga keracunan.

Karena itu, sampah B3 sebaiknya dikumpulkan secara terpisah dan dibawa ke fasilitas khusus seperti TPS B3 atau tempat pengelolaan limbah berbahaya yang telah disediakan. Pengelolaan yang tepat membantu mengurangi risiko pencemaran lingkungan sekaligus menjaga keamanan masyarakat sekitar.

7. Sampah residu memerlukan penanganan khusus karena sulit diolah kembali

Pexels/Milan
Pexels/Milan

Sampah residu adalah jenis sampah yang sudah sulit atau bahkan tidak dapat didaur ulang maupun diolah kembali. Contohnya meliputi puntung rokok, popok sekali pakai, pembalut, hingga tisu bekas yang sudah terkontaminasi kotoran atau cairan tertentu.

Karena tidak bisa diproses seperti sampah organik maupun anorganik, sampah residu perlu dipisahkan agar tidak mengganggu proses daur ulang jenis sampah lainnya. Jika tercampur, sampah residu dapat menurunkan kualitas bahan daur ulang dan meningkatkan volume limbah di tempat pembuangan akhir.

Saat ini, sampah residu dapat diproses melalui fasilitas seperti Refuse-Derived Fuel Plant (RPF Plant) dan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Melalui teknologi tersebut, sebagian sampah residu dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sehingga membantu mengurangi penumpukan sampah sekaligus mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.

Nah, itu dia beberapa cara sederhana memilah sampah yang bisa dilakukan masyaraka. Yuk, terapkan di rumah!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More