- Memiliki harga diri rendah dan punya kritik ke diri yang ekstrem. Ditandai dengan merasa "tidak pernah cukup" dan mengembangkan suara batin sangat kritis yang menghakimi setiap tindakan mereka.
- Kehilangan jati diri karena harus selalu memenuhi ekspektasi dan mencerminkan kehebatan orangtua, anak sering kali mengabaikan kebutuhan emosional pribadi dan mengembangkan "diri palsu" demi mendapatkan penerimaan.
- Perasaan bersalah dan malu yang kronis. Ini karena mereka sering kali memikul tanggung jawab atas kebahagiaan orangtua mereka dan merasa bersalah jika mencoba menjadi mandiri atau memprioritaskan diri sendiri.
5 Efek Pengasuhan Orangtua NPD bagi Anak, Bisa Gangguan Identitas

- Pengasuhan oleh orangtua dengan NPD dapat menyebabkan anak kehilangan jati diri, memiliki harga diri rendah, serta merasa bersalah saat mencoba mandiri karena cinta yang diterima bersifat bersyarat.
- Anak dari orangtua narsistik berisiko mengalami kesulitan membangun hubungan sehat, gangguan regulasi emosi, dan pola kelekatan tidak aman akibat kurangnya empati serta validasi emosional sejak kecil.
- Lingkungan keluarga narsistik memicu stres kronis dan trauma relasional yang berdampak pada fungsi otak serta kesehatan mental anak, bahkan bisa menimbulkan gejala mirip C-PTSD di masa dewasa.
Pengasuhan oleh orangtua dengan karakteristik Narcissistic Personality Disorder (NPD) memberikan dampak psikologis yang mendalam dan sering kali bertahan hingga anak dewasa. Namun, kita tidak boleh self diagnose mengenai kondisi mental ini.
Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau Gangguan Kepribadian Narsistik adalah gangguan mental serius dimana seseorang merasa sangat penting, butuh dikagumi berlebihan, dan kurang empati terhadap orang lain. Pengidapnya sering membanggakan diri secara berlebihan, manipulatif, namun sebenarnya memiliki harga diri yang rapuh dan mudah tersinggung oleh kritik.
Untuk bisa mendapatkan diagnosis tersebut, seseorang perlu menjalani serangkaian tes psikologi oleh profesional. Pasalnya perlu penanganan khusus untuk gangguan ini. Pasalnya, NPD dianggap sebagai gangguan kepribadian yang menetap dan tidak bisa sembuh total. Namun, pengidap NPD bisa membaik atau "pulih" (mengelola gejala) melalui psikoterapi jangka panjang jika ada keinginan kuat dari diri sendiri untuk berubah.
Berikut Popmama.com rangkum fakta-fakta mengenai efek pengasuhan orangtua NPD bagi anak.
1. Gangguan identitas dan harga diri

Anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua narsistik sering kali merasa bahwa nilai diri mereka hanya bergantung pada apa yang mereka lakukan untuk orangtua. Ini membentuk keyakinan bukan pada siapa mereka sebenarnya seperti disebut di artikel Psychology Today.
Berikut adalah penjelasannya:
2. Masalah dalam hubungan interpersonal

Jurnal berjudul “Dampak Pola Asuh Orangtua dengan Traits Narcissistic Personality Disorder (NPD) Terhadap Perkembangan Emosional Anak” oleh Rahma dkk (2026) menyebut bahwa orangtua dengan kecenderungan narsistik sering menerapkan pola asuh otoriter, minim empati, dan menjadikan anak sebagai perpanjangan ego mereka.
Penelitian itu menemukan bahwa anak yang tumbuh dalam lingkungan tersebut berisiko mengalami gangguan regulasi emosi, rendah diri, kecemasan kronis, hingga kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat saat dewasa karena kurangnya validasi emosional dari orangtua.
Berikut juga efek lainnya yang berkaitan dengan efek pengasuhan orangtua NPD pada anak secara emosional di masa depan:
- Kesulitan menetapkan batasan. Dalam hal ini anak yang terbiasa privasinya dilanggar oleh orangtua akan kesulitan menetapkan batasan yang sehat dengan orang lain, yang sering kali mengarah pada perilaku menyenangkan orang lain (people-pleasing).
- Gaya kelekatan yang tidak aman karena mereka mengembangkan pola insecure-avoidant atau disorganized attachment, di mana mereka merasa sulit mempercayai orang lain dan takut akan penolakan atau pengkhianatan.
- Masalah komitmen dan ketakutan akan penelantaran. Pengalaman perhatian yang tidak konsisten membuat anak sering merasa ambivalen dalam hubungan dewasa. Mereka mungkin sangat bergantung (codependent) atau justru menjauhkan diri secara emosional karena takut ditinggalkan.
Kesimpulan dari penelitian tersebut mengungkap jika intervensi psikologis diperlukan untuk memutus rantai trauma antargenerasi akibat pola asuh narsistik tadi.
3. Dampak kesehatan mental dan neuropsikologis

Orangtua narsistik sering memanipulasi ingatan dan persepsi anak dengan gaslighting, ini yang menyebabkan anak kehilangan kepercayaan pada realitas mereka sendiri dan kemampuan pengambilan keputusan. Selain itu, lingkungan keluarga yang penuh kritik, minim empati, dan tidak stabil secara emosional dapat membuat anak mengalami stres kronis.
Kondisi ini membuat otak anak terus berada dalam survival mode atau mode bertahan hidup, sehingga anak lebih fokus mencari rasa aman dibanding mengeksplorasi dan belajar secara emosional.
Kajian neuropsikologi menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dapat meningkatkan aktivitas amigdala, bagian otak yang memproses rasa takut, sekaligus menurunkan fungsi prefrontal cortex yang berperan dalam regulasi emosi dan pengambilan keputusan. Dampaknya, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang hypervigilance atau terlalu waspada terhadap ancaman emosional, bahkan hingga dewasa.
4. Peran spesifik dalam sistem keluarga dengan orangtua NPD

Dalam keluarga narsistik, anak-anak sering kali "ditugaskan" ke dalam peran tertentu yang membawa luka berbeda. Di sini peran anak seolah sebagai object bagi orangtua NPD. Masih dari jurnal “Dampak Pola Asuh Orangtua dengan Traits Narcissistic Personality Disorder (NPD) Terhadap Perkembangan Emosional Anak” oleh Rahma dkk (2026), adapun peran-peran tersebut dijelaskan berikut ini:
- Anak emas (golden child), merupakan anak yang dijadikan perpanjangan ego orangtua untuk mencerminkan citra ideal. Mereka menderita karena cinta yang diterima selalu bersifat bersyarat dan kehilangan identitas autentik mereka.
- Kambing hitam (scapegoat), merupakan anak yang dipaksa menyerap rasa malu dan kemarahan orang tua; mereka tumbuh dengan keyakinan mendalam bahwa mereka "cacat" atau merupakan sumber masalah.
Kondisi ini membuat anak kesulitan membangun identitas diri yang sehat dan mandiri secara emosional. Dalam jangka panjang, pola asuh narsistik dapat memicu trauma relasional kronis hingga gejala mirip Complex Post-Traumatic Stress Disorder (C-PTSD), seperti rasa rendah diri mendalam, kritik diri berlebihan, dan kesulitan menjalin hubungan sehat.
Anak yang tumbuh dalam lingkungan ini juga berisiko mengalami co-dependency karena sejak kecil terbiasa mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding dirinya sendiri.
5. Pengabaian emosional yang tak kasat mata

Trauma dari pengasuhan narsistik sering bersifat tidak kasat mata karena kebutuhan material mungkin terpenuhi, namun terjadi pengabaian emosional kronis. Orangtua mungkin hadir secara fisik tetapi gagal memberikan validasi atau empati, yang membuat anak merasa kesepian meskipun berada di tengah keluarga.
Tanpa intervensi yang tepat, pola ini berisiko menjadi trauma antargenerasi di mana anak mungkin secara tidak sadar mengulangi perilaku narsistik atau mencari pasangan yang narsistik di masa depan.
Itulah tadi fakta mengenai efek pengasuhan orangtua NPD bagi anak. Semoga membantu, jika memang ada kecenderungan narsistik atau NPD segera memeriksakan diri ke profesional dan mendapatkan perawatan terbaik.


















