Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Ini Cara Memahami Kondisi Tubuhnya

anak obesitas.jpg
Freepik/freepik
Intinya sih...
  • Setiap anak memiliki pola tumbuh kembang yang unik, jangan membandingkan tubuhnya dengan anak lain
  • Rasa bersalah orangtua bisa memengaruhi pola makan anak, sehingga perlu dibiasakan batasan dan makanan bergizi
  • Berat badan berlebih belum tentu jadi penanda obesitas, penting melihat komposisi tubuh dan pertumbuhan otot
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orangtua merasa bangga saat anak terlihat chubby dan menggemaskan. Pipi tembam, lengan berlipat, hingga perut sedikit buncit sering dianggap sebagai tanda anak sehat dan tercukupi gizinya.

Padahal, penampilan fisik saja belum tentu bisa menjadi patokan utama kondisi kesehatan si Kecil. Faktanya, menilai tumbuh kembang anak perlu dilakukan secara menyeluruh.

Mulai dari pola makan, aktivitas fisik, kondisi emosional, hingga riwayat kesehatannya. Agar tidak salah kaprah, simak informasi lebih lanjut dari Popmama.com berdasarkan penjelasan Dokter Spesialis Gizi Klinik.

1. Jangan membandingkan mentuk tubuh si Kecil dengan anak lain

dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK., Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit
Popmama.com/Hari Firmanto

Setiap anak memiliki pola tumbuh kembang yang unik. Ada anak yang bertubuh ramping, ada pula yang lebih berisi, dan keduanya bisa sama-sama sehat.

Membandingkan anak dengan anak lain justru bisa menimbulkan kekhawatiran berlebihan yang tidak perlu.

Alih-alih membandingkan, orangtua sebaiknya merujuk pada grafik pertumbuhan (growth chart) yang disesuaikan dengan standar anak Indonesia.

Dengan begitu, penilaian berat badan dan tinggi badan anak menjadi lebih objektif dan berbasis data medis.

“Terkadang orang membandingkan bentuk tubuh anak kita ke anak tetangga, bukan merujuk pada chart sehat anak Indonesia, ini yang tidak baik karena bukan patokan yang tepat. Kita membesarkan anak itu untuk memupuk sedini mungkin kesehatan di dalam tubuhnya, sehingga dia bisa berusia panjang dan di hari tuanya dia berkualitas,”  jelas dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK selaku Dokter Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit saat sesi Popmama Talk edisi Januari 2026.

2. Terkadang rasa bersalah orangtua bisa memengaruhi pola makan anak

Ilustrasi menyuapi anak makan
unsplash/Tanaphong Toochinda

Tanpa disadari, perasaan bersalah karena sering meninggalkan anak bisa membuat orangtua menjadi terlalu permisif dalam urusan makanan.

Anak jadi diberi apa pun yang ia mau, mulai dari camilan manis, minuman tinggi gula, hingga fast food, demi menebus rasa bersalah.

Jika kebiasaan ini dibiarkan terus-menerus, anak bisa tumbuh tanpa kontrol pola makan yang sehat.

Padahal, sejak dini anak perlu dibiasakan mengenal batasan, memilih makanan bergizi, dan memahami pola makan yang teratur.

“Mama atau papa suka merasa bersalah setiap meninggalkan anak, akhirnya anak ditawarkan makanan sesuka hati tanpa bimbingan atau arahan. Kalau sekali nggak papa, tapi kalau terus-terusan itu yang membuat anak bebas mengonsumsi makanan apa pun yang ia mau,” jelas dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK.

3. Berat badan berlebih belum tentu jadi penanda anak obesitas

ilustrasi berat badan
pexels/Ketut Subiyanto

Tidak semua anak dengan berat badan di atas rata-rata bisa langsung dicap obesitas. Ada anak yang memang memiliki massa otot lebih banyak karena aktif bergerak, sering berolahraga, dan memiliki metabolisme tubuh yang baik.

Di sinilah pentingnya melihat komposisi tubuh anak, bukan hanya angka di timbangan. Anak yang aktif, lincah, dan memiliki stamina baik bisa saja terlihat lebih besar secara fisik, tetapi sebenarnya berada dalam kondisi sehat.

“Kalau kita lihat ternyata anak ini berat badannya lebih dari anak Indonesia dan makannya baik, aktif bergerak, sehingga dia berat badannya lebih ternyata badannya bukan termasuk obesitas. Dia punya komposisi tubuh ototnya banyak, ini yang bisa dibilang anak itu sehat,” ungkap dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK. 

4. Otot bertambah menandakan tumbuh kembang yang baik

ilustrasi anak-anak olahraga (pexels.com/thirdman)
pexels/thirdman

Pertumbuhan otot pada anak menjadi salah satu indikator positif bahwa tubuhnya berkembang dengan optimal.

Anak yang aktif bergerak, sering bermain fisik, dan cukup asupan gizinya cenderung memiliki massa otot yang baik.

Selain itu, anak dengan tumbuh kembang optimal umumnya juga lebih jarang sakit, lebih fokus saat belajar, dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat.

Karena itu, fokus utama orangtua seharusnya bukan pada bentuk tubuh semata, tetapi pada kualitas kesehatannya secara keseluruhan.

“Intinya kalau otot anak banyak dan bertambah, tumbuh kembangnya baik, berarti anak itu sehat serta jarang sakit,” ungkap dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK.

5. Pola makan tinggi gula dan lemak bisa memicu masalah kesehatan

Pexels/ Eren Li
Pexels/ Eren Li

Konsumsi makanan tinggi gula dan lemak secara berlebihan tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan pencernaan anak.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu peradangan di saluran pencernaan yang berpengaruh ke sistem tubuh lainnya.

Dampaknya pun tidak main-main. Anak bisa lebih mudah rewel, suasana hatinya tidak stabil, hingga berisiko mengalami gangguan hormonal saat memasuki usia remaja.

“Kalau anak banyak alergi, berarti saluran pencernaannya meradang, karena banyak makanan yang dikonsumsi tinggi lemak, tinggi gula. Akhirnya, menempel semua di saluran pencernaan. Akibatnya, saluran pencernaan itu rusak, persarafannya berujung ke otak, otak pun akan menimbulkan rangsangan tidak baik lewat mood, tingkah laku. Bisa juga menimbulkan kelainan hormonal saat anak remaja,” pungkasnya. 

Dengan memahami kebutuhan tubuh anak secara menyeluruh, Mama dan Papa bisa lebih tenang dalam mendampingi proses tumbuh kembang si Kecil. Semoga informasinya membantu ya, Ma.

POPMAMA TALK Januari 2026 - dr. Nany Leksokumoro, Sp. GK
Spesialis Gizi Klinik dari Eka Hospital Pluit

Senior Editor - Novy Agrina
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana
Script - Sania Chandra Nurfitriana
Social Media - Irma Erdiyanti
Photographer - Hari Firmanto
Videographer - Hari Firmanto
Video Editor - Hari Firmanto
Design - Aristika Medinasari

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Latest in Big Kid

See More

Fakta Ali Fikry Mengawali Karier dari Dancer hingga Jadi Aktor Muda Multitalenta

15 Jan 2026, 10:00 WIBBig Kid