10 Cerita Nabi untuk Anak Selama Ramadan yang Penuh Hikmah

Menceritakan kisah para nabi membantu anak memahami nilai puasa, sabar, berbagi, dan syukur di bulan Ramadan.
Sepuluh kisah nabi ini menghadirkan teladan tentang kedermawanan, kesabaran, pemaafan, taubat, ibadah, dan rasa syukur.
Dengan bahasa sederhana, cerita-cerita ini bisa menginspirasi anak meneladani akhlak mulia para nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Menceritakan kisah para nabi adalah salah satu cara terbaik untuk mengajarkan nilai-nilai yang relevan dengan ibadah Ramadan seperti puasa, kesabaran, berbagi, dan bersyukur.
Anak akan lebih mudah memahami makna puasa dan semangat Ramadan melalui kisah inspiratif para nabi yang penuh keteladanan.
Berikut Popmama.com rangkum 10 cerita nabi untuk anak selama ramadan yang penuh hikmah dan bisa Mama ceritakan di bulan suci ini.
Table of Content
1. Nabi Muhammad SAW dermawan di bulan Ramadan

Rasulullah SAW adalah sosok yang paling dermawan di antara semua manusia, dan kedermawanannya semakin berlipat ganda ketika bulan Ramadan tiba.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi sangat dermawan di bulan Ramadan ketika Malaikat Jibril datang menemui beliau untuk menyampaikan wahyu dan mengajarkan Al-Quran.
Rasulullah SAW dalam memberi kebaikan lebih cepat daripada angin yang berhembus. Beliau tidak pernah menolak permintaan siapa pun yang datang meminta bantuan, bahkan ketika beliau sendiri tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Kisah ini mengajarkan anak bahwa berbagi dan bersedekah di bulan Ramadan memiliki keutamaan yang sangat besar.
Mama bisa mengajak anak untuk meniru Rasulullah dengan menyisihkan uang jajan untuk sedekah, berbagi takjil kepada tetangga, atau membantu teman yang membutuhkan selama bulan Ramadan.
2. Nabi Ayyub AS sabar menghadapi cobaan

Kisah Nabi Ayyub AS adalah teladan luar biasa tentang kesabaran dalam menghadapi ujian dari Allah SWT yang tercantum dalam QS Al-Anbiya ayat 83-84 dan QS Shad ayat 41-44.
Nabi Ayyub AS adalah seorang nabi yang sangat kaya raya dengan harta melimpah, keluarga yang besar, dan kesehatan yang prima. Namun Allah SWT menguji beliau dengan ujian yang sangat berat untuk melihat keteguhan imannya.
Semua hartanya hilang, anak-anaknya meninggal dunia satu per satu, dan tubuhnya diserang penyakit kulit yang sangat parah hingga tidak ada yang mau mendekatinya kecuali istrinya yang setia, Rahmah binti Efraim.
Penyakit itu membuat tubuhnya penuh luka dan sangat menderita selama bertahun-tahun. Namun di tengah semua penderitaan itu, Nabi Ayyub AS tidak pernah mengeluh atau menyalahkan Allah SWT.
Beliau tetap bersabar, tetap beribadah, dan tetap bersyukur kepada Allah dalam keadaan apapun. Akhirnya Allah SWT mengabulkan doanya dan menyembuhkan penyakitnya, mengembalikan hartanya bahkan lebih banyak dari sebelumnya, dan memberikan keturunan yang baru.
Kisah ini mengajarkan anak bahwa puasa memang terasa berat dengan menahan lapar dan haus, tetapi dengan kesabaran seperti Nabi Ayyub AS, semua cobaan bisa dilewati dan Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda.
3. Nabi Yusuf AS memaafkan saudara-saudaranya

Kisah Nabi Yusuf AS yang tercantum lengkap dalam QS Yusuf adalah salah satu kisah paling mengharukan dalam Al-Quran tentang kekuatan memaafkan.
Nabi Yusuf AS adalah anak kesayangan Nabi Yaqub AS yang sangat tampan dan memiliki mimpi bahwa suatu hari nanti beliau akan menjadi orang mulia. Saudara-saudara Nabi Yusuf AS yang lain merasa iri dan cemburu karena ayah mereka lebih menyayangi Yusuf.
Mereka berkomplot jahat untuk menyingkirkan Yusuf dengan cara melemparkannya ke dalam sumur yang gelap dan dalam, kemudian mereka berbohong kepada ayah mereka bahwa Yusuf dimakan serigala.
Yusuf kecil yang tidak berdosa harus menderita sendirian di sumur gelap hingga ditemukan oleh kafilah dagang dan dijual sebagai budak di Mesir.
Di Mesir, Yusuf mengalami berbagai cobaan berat termasuk difitnah dan dimasukkan penjara bertahun-tahun tanpa salah. Namun berkat keteguhan iman dan kesabaran, Allah mengangkat derajat Yusuf hingga menjadi menteri keuangan Mesir yang sangat berkuasa.
Bertahun-tahun kemudian, ketika terjadi kelaparan hebat, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir meminta bantuan makanan tanpa mengenali bahwa orang yang di hadapan mereka adalah Yusuf yang dulu mereka buang.
Ketika Yusuf akhirnya membuka identitasnya, saudara-saudaranya ketakutan dan meminta maaf. Dalam QS Yusuf ayat 92, Yusuf berkata dengan tulus bahwa hari ini tidak ada cercaan bagi mereka dan beliau memaafkan semuanya karena Allah adalah Maha Pengampun.
Kisah ini mengajarkan anak bahwa Ramadan adalah bulan penuh ampunan, waktu terbaik untuk memaafkan kesalahan teman atau saudara dan memulai hubungan yang baru dengan hati yang bersih.
4. Nabi Ibrahim AS menjamu tamu dengan makanan

Nabi Ibrahim AS dikenal sebagai nabi yang sangat ramah tamah dan dermawan dalam menjamu tamu sebagaimana disebutkan dalam QS Adz-Dzariyat ayat 24-27.
Suatu hari, datang beberapa tamu yang tidak dikenal ke rumah Nabi Ibrahim AS. Tanpa bertanya siapa mereka dan dari mana asalnya, Nabi Ibrahim AS langsung menyambut mereka dengan ramah dan segera menyiapkan makanan yang terbaik untuk menjamu tamunya.
Beliau menyembelih anak sapi yang gemuk, kemudian memasaknya dan menghidangkan daging panggang yang lezat kepada para tamu tersebut.
Nabi Ibrahim AS tidak makan sendiri tetapi menemani tamunya makan dan memastikan mereka kenyang dan puas.
Para tamu tersebut ternyata adalah malaikat yang diutus Allah SWT untuk memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim AS bahwa beliau akan dikaruniai anak di usia tua. Namun Nabi Ibrahim AS tidak tahu hal itu dan tetap menjamu mereka dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan.
Kisah ini mengajarkan anak tentang pentingnya berbagi makanan dengan orang lain, terutama di bulan Ramadan.
Mama bisa mengajak anak untuk membantu menyiapkan takjil untuk dibagikan kepada orang yang berpuasa, menjamu tetangga untuk berbuka bersama, atau memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk sedekah yang sangat disukai Allah.
5. Nabi Musa AS berpuasa 40 hari di Gunung Tursina

Kisah Nabi Musa AS yang berpuasa selama 40 hari tercantum dalam QS Al-A'raf ayat 142-143 dan QS Thaha ayat 83 adalah contoh luar biasa tentang puasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Setelah Nabi Musa AS dan Bani Israil berhasil diselamatkan dari kejaran Firaun dan pasukannya yang tenggelam di Laut Merah, Allah SWT memanggil Nabi Musa AS untuk naik ke Gunung Tursina atau Gunung Sinai guna menerima wahyu berupa Taurat.
Allah menjanjikan pertemuan selama 30 malam, namun kemudian ditambah 10 malam lagi sehingga total menjadi 40 malam.
Selama 40 hari 40 malam itu, Nabi Musa AS berpuasa penuh tanpa makan dan minum sama sekali, hanya fokus beribadah dan bermunajat kepada Allah SWT untuk menerima petunjuk bagi kaumnya.
Beliau tidak merasa lapar atau haus karena hatinya dipenuhi dengan cahaya iman dan keinginan yang kuat untuk dekat dengan Allah.
Setelah 40 hari, Allah SWT memberikan lembaran-lembaran Taurat yang berisi petunjuk dan hukum-hukum untuk Bani Israil.
Kisah ini mengajarkan anak bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi yang paling penting adalah mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah seperti shalat, membaca Al-Quran, dan berdoa.
Mama bisa mengingatkan anak bahwa ketika mereka puasa di bulan Ramadan, mereka sedang melakukan ibadah yang sangat mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah seperti yang dilakukan Nabi Musa AS.
6. Nabi Yunus AS bertaubat dalam perut ikan

Kisah Nabi Yunus AS yang tercantum dalam QS Al-Anbiya ayat 87-88 dan QS Ash-Shaffat ayat 139-148 adalah pelajaran penting tentang taubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Nabi Yunus AS diutus untuk berdakwah kepada penduduk Ninawa yang sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan ajarannya. Setelah sekian lama berdakwah tanpa hasil, Nabi Yunus AS merasa putus asa dan frustasi, kemudian beliau memutuskan untuk meninggalkan kaumnya tanpa izin dari Allah SWT.
Beliau naik ke kapal yang akan berlayar meninggalkan negeri itu. Di tengah perjalanan laut, tiba-tiba ada badai besar yang mengancam akan menenggelamkan kapal. Para penumpang memutuskan untuk membuang satu orang ke laut agar kapal menjadi lebih ringan, dan undian jatuh pada Nabi Yunus AS.
Ketika beliau dilempar ke laut, seekor ikan paus raksasa menelannya hidup-hidup atas perintah Allah. Di dalam perut ikan yang gelap gulita, Nabi Yunus AS menyadari kesalahannya telah meninggalkan tugas dakwah tanpa izin Allah.
Beliau kemudian bertaubat dengan tulus dan berdoa dengan kalimat yang sangat terkenal yaitu “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minazh-zhalimin” yang artinya “tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Allah SWT menerima taubatnya dan memerintahkan ikan untuk memuntahkan Nabi Yunus AS ke pantai dalam keadaan selamat. Kisah ini mengajarkan anak bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Allah selama kita bertaubat dengan sungguh-sungguh.
7. Nabi Adam AS memohon ampun setelah berbuat salah

Kisah Nabi Adam AS dan taubatnya tercantum dalam QS Al-A'raf ayat 23 adalah kisah pertama tentang taubat dalam sejarah manusia.
Nabi Adam AS dan Hawa diciptakan Allah SWT dan ditempatkan di surga yang penuh kenikmatan. Mereka boleh makan dan menikmati apapun yang ada di surga kecuali satu pohon yang dilarang oleh Allah untuk didekati.
Iblis yang iri dan dengki kepada Adam kemudian membisikkan godaan dengan berbohong bahwa jika mereka makan buah Khuldi, mereka akan menjadi makhluk yang kekal dan seperti malaikat.
Akhirnya Adam dan Hawa tergoda dan memakan buah terlarang tersebut, sehingga mereka melanggar perintah Allah SWT. Setelah sadar akan kesalahan besar yang mereka lakukan, Adam dan Hawa merasa sangat menyesal dan berdosa.
Mereka tidak mencari-cari alasan atau menyalahkan orang lain, tetapi langsung mengakui kesalahan dan memohon ampun kepada Allah dengan penuh penyesalan.
Dalam QS Al-A'raf ayat 23, mereka berdoa “Rabbana zhalamna anfusana wa il lam taghfir lana wa tarhamna lanakoonanna minal-khasireen” yang artinya “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.”
Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menerima taubat mereka dan mengampuni kesalahan mereka. Kisah ini mengajarkan anak bahwa setiap orang pasti pernah berbuat salah, yang penting adalah segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah.
8. Nabi Daud AS rajin beribadah dan berpuasa

Nabi Daud AS adalah nabi yang sangat rajin beribadah dan memiliki kedekatan luar biasa dengan Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
Salah satu ibadah istimewa yang dilakukan Nabi Daud AS adalah puasa Daud, yaitu puasa yang dilakukan sehari puasa dan sehari tidak puasa secara bergantian. Rasulullah SAW menyebutkan dalam hadits bahwa puasa Daud adalah puasa yang paling utama karena merupakan puasa yang paling seimbang dan tidak memberatkan tubuh.
Selain rajin berpuasa, Nabi Daud AS juga sangat rajin bangun malam untuk beribadah dan membaca Zabur dengan suara yang sangat merdu hingga hewan-hewan dan burung-burung ikut berkumpul mendengarkan bacaannya.
Beliau membagi malamnya menjadi tiga bagian yaitu sepertiga untuk tidur, sepertiga untuk beribadah, dan sepertiga untuk keluarga. Begitu juga dengan siangnya, beliau bekerja untuk mencari nafkah dengan tangannya sendiri, mengurus urusan kerajaan sebagai raja, dan tidak lupa untuk beribadah kepada Allah.
Meskipun sibuk sebagai raja yang mengurus negara, Nabi Daud AS tidak pernah meninggalkan ibadahnya kepada Allah. Kisah ini mengajarkan anak untuk rajin beribadah di bulan Ramadan seperti melaksanakan shalat lima waktu dengan khusyuk, shalat tarawih di malam hari, membaca dan menghafal Al-Quran setiap hari, serta memperbanyak dzikir dan doa.
Mama bisa mengajak anak untuk membuat target ibadah selama Ramadan seperti khatam Al-Quran, shalat tarawih setiap malam, atau menghafal surah-surah pendek agar bulan Ramadan mereka penuh dengan ibadah dan keberkahan.
9. Nabi Sulaiman AS bersyukur atas nikmat Allah

Nabi Sulaiman AS adalah nabi yang diberi Allah kekuasaan, kekayaan, dan kerajaan yang sangat luar biasa yang tidak akan pernah diberikan kepada siapa pun setelahnya sebagaimana tercantum dalam QS An-Naml ayat 40.
Allah memberikan kepada Nabi Sulaiman AS kemampuan untuk berbicara dengan hewan dan jin, menguasai angin yang bisa membawanya terbang ke mana saja, dan memiliki pasukan yang terdiri dari manusia, jin, dan burung-burung.
Hartanya berlimpah ruah dengan istana yang megah terbuat dari kaca yang berkilauan seperti air. Namun dengan semua kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa itu, Nabi Sulaiman AS tidak pernah sombong atau lupa diri.
Ketika Allah menunjukkan kepadanya mukjizat berupa singgasana Ratu Balqis yang dipindahkan dalam sekejap mata dari Yaman ke Palestina, Nabi Sulaiman AS langsung bersyukur dan berkata dalam QS An-Naml ayat 40 bahwa “ini adalah karunia dari Tuhanku untuk menguji apakah aku bersyukur atau kufur, dan barang siapa bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri.”
Beliau menyadari bahwa semua yang dimilikinya adalah titipan dan ujian dari Allah, bukan hasil usahanya sendiri. Kisah ini mengajarkan anak untuk selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, terutama nikmat bisa makan sahur dan berbuka puasa dengan makanan yang lezat. Banyak anak-anak di luar sana yang tidak punya makanan untuk berbuka puasa atau bahkan tidak bisa merasakan nikmatnya makan karena kemiskinan.
Mama bisa mengajak anak untuk mensyukuri nikmat dengan cara mengucapkan Alhamdulillah setiap kali berbuka, tidak menyisakan makanan, dan berbagi dengan yang membutuhkan.
10. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di bulan Ramadan

Kisah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW yang tercantum dalam QS Al-Alaq ayat 1-5 terjadi di bulan Ramadan yang memberkati, tepatnya di malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Pada saat itu, Rasulullah SAW berusia 40 tahun dan sering menyendiri untuk beribadah dan bertafakur di Gua Hira yang berada di Gunung Jabal An-Nur dekat kota Makkah. Beliau prihatin melihat kondisi masyarakat Arab yang suka menyembah berhala, minum minuman keras, berjudi, dan berbuat kezaliman.
Suatu malam di bulan Ramadan, tiba-tiba datang Malaikat Jibril dalam wujud yang sangat besar dan memerintahkan dengan suara yang menggelegar “Iqra” yang artinya “bacalah.” Rasulullah yang tidak bisa membaca menjawab “ma ana biqari” yang artinya “aku tidak bisa membaca.” Malaikat Jibril kemudian memeluknya dengan sangat erat hingga Rasulullah merasa sesak napas, lalu melepaskan dan kembali memerintahkan Iqra.
Hal ini terjadi tiga kali hingga akhirnya turunlah wahyu pertama “Iqra bismi rabbikal ladzi khalaq, khalaqal insaana min alaq, iqra wa rabbukal akram, alladzi allama bil qalam, allamal insaana maa lam ya'lam” yang artinya “bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Sejak saat itu, Rasulullah SAW menjadi nabi dan rasul terakhir yang bertugas menyampaikan risalah Islam ke seluruh dunia. Kisah ini mengajarkan anak bahwa bulan Ramadan adalah bulan Al-Quran, bulan ketika kitab suci pertama kali diturunkan kepada umat manusia.
Oleh karena itu, di bulan Ramadan kita harus memperbanyak membaca, menghafal, dan memahami Al-Quran agar kita mendapat syafaat atau pertolongan dari Al-Quran di hari kiamat nanti. Mama bisa membuat target bersama anak untuk khatam membaca Al-Quran selama Ramadan, atau minimal membaca beberapa halaman setiap hari setelah salat atau sebelum tidur.
Itulah, Ma. 10 cerita nabi untuk anak selama ramadan yang penuh hikmah dan bisa Mama ceritakan kepada anak.
Ceritakan kisah-kisah ini dengan bahasa sederhana dan penuh penghayatan agar anak terinspirasi untuk meniru akhlak mulia para nabi dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Mama sudah ceritakan kisah nabi yang mana kepada anak di Ramadan ini?


















