8 Cara Efektif Mengurangi Stres Anak

Nomor 3 penting untuk anak ketika dewasa nanti

27 Mei 2019

8 Cara Efektif Mengurangi Stres Anak
pixabay.com/RachelBostwick

Beban anak di sekolah semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur. Anak dituntut untuk menyeimbangkan antara tugas sekolah, rumah, ekstrakurikuler, ujian, dan sosialisasi dengan teman. Bukan tidak mungkin anak mudah terkena stres.

Orangtua harus menyadari ciri-ciri stres yang ada pada anak. Menurut Adele Cadieux, psikolog anak di Helen DeVos Children's Hospital, anak-anak yang mengalami stres akan mengalami perubahan mood dan perilaku. Anak cenderung lebih mudah tersinggung, menangis, dan menolak beraktivitas.

Apa yang harus dilakukan agar anak Mama tidak mudah stres? Simak ulasan Popmama.com berikut ini.

1. Sediakan waktu untuk mengobrol

1. Sediakan waktu mengobrol
Freepik/freephoto

Luangkan waktu setiap hari, misalnya di malam hari, untuk mengobrol dengan anak mengenai kegiatannya hari itu. Tanyakan apa yang membuatnya senang dan kesal. Beri komentar dan solusi positif ya, Ma. Suasana rumah yang aman dan tenang juga akan membuatnya merasa aman.

Yakinkan anak kalau Mama dan Papa selalu ada saat ia membutuhkan bantuan.

2. Tidur yang cukup dan makan

2. Tidur cukup makan
Freepik

Anak yang cukup tidur cenderung memiliki kemampuan lebih untuk mengatasi stres dan tidak mudah tersinggung. Selain itu, bila anak stres, ia cenderung malas makan dan susah tidur. Pastikan anak mendapatkan porsi makan dan tidur yang tepat.

Ajak anak untuk menjalani pola hidup sehat, misalnya dengan olahraga rutin agar ia bisa tidur lebih nyenyak dan lebih nafsu makan.

3. Latih anak untuk mengelola emosi

3. Latih anak mengelola emosi
Freepik

Beri pemahaman kalau merasakan emosi negatif seperti sedih atau kesal adalah wajar. Bantu mereka untuk mengelola emosinya dengan baik. Setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda untuk mengelola emosi ya, Ma.

Olahraga juga merupakan salah satu cara yang baik untuk melepaskan kekesalannya. Atau menangis juga salah satu cara untuk meluapkan emosi.

Editors' Picks

4. Batasi teknologi

4. Batasi teknologi
Freepik

Anak yang menghabiskan waktu lebih dari tujuh jam dengan teknologi cenderung lebih mudah merasa stres. Maka batasilah penggunaan teknologi pada anak. Luangkan waktu untuk bermain di luar rumah. Masih ingat dengan permainan jadul? Itu banyak manfaatnya loh, Ma. Anak juga memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman di lingkungan rumah.

Yuk, kurangi pemakaian gadget.

5. Kurangi kegiatan di luar sekolah

5. Kurangi kegiatan luar sekolah
Freepik

Kesibukan yang berlebihan akan membuat orang cenderung mudah mengalami stres. Mengurangi kegiatan-kegiatan di luar sekolah seperti les atau ekstrakurikuler akan membuat mereka lebih cukup waktu mengerjakan PR dan beraktivitas bersama keluarga.

6. Sediakan waktu yang cukup untuk bersiap-siap

6. Sediakan waktu cukup bersiap-siap
Freepik/Nensuria

Melakukan sesuatu secara terburu-buru adalah salah satu pemicu stres dan tidak tenang. Sediakan waktu cukup untuk bersiap. Misalnya, bangun lebih pagi untuk bersiap ke sekolah.

Ini akan mengurangi risiko stres pada anak.

7. Hindari kritikan

7. Hindari kritikan
Freepik

Biarpun Mama tidak setuju, janganlah katakan hal-hal negatif tentang PR, sekolah, atau guru di depan anak karena itu akan membentuk rasa ketakutan pada diri anak.

Alih-alih memberi kritikan, Mama bisa memberi saran atau dorongan yang membangun semangat anak.

8. Melakukan hobi

8. Melakukan hobi
Pxhere/CC0 Public Domain

Belajar terus-terusan juga tidak baik. Luangkan waktu untuk melakukan hobi anak atau rekreasi. Ini akan membuat anak bersemangat lagi untuk sekolah atau mengerjakan tugas sekolah. Sambil melakukan hobi, Mama juga bisa mengobrol bersama anak. Ini juga bisa menjadi sarana bonding Mama dan anak.

Jika anak menunjukkan tingkat stres tinggi, sebaiknya Mama segera meminta bantuan ahli. Tidak ada kata terlalu cepat untuk meminta bantuan ya, Ma. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.