- Kurang minum dan asupan serat: Asupan cairan yang tidak mencukupi serta kurangnya makanan berserat dapat membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
- Perubahan pola makan: Perubahan kebiasaan makan, termasuk terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan dan kurang makan buah atau sayur, dapat memengaruhi pola buang air besar anak.
- Kebiasaan menunda BAB: Anak mungkin memilih menahan BAB karena sedang asyik bermain, tidak ingin menghentikan aktivitasnya, atau merasa takut menggunakan toilet.
- Sembelit atau konstipasi: Kondisi ini sering menjadi awal munculnya ketakutan anak terhadap BAB. Feses yang keras dan sulit dikeluarkan dapat menimbulkan rasa nyeri sehingga anak mulai menganggap buang air besar sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan.
- Pengalaman sakit yang membekas: Ketika anak pernah merasakan nyeri saat BAB, pengalaman tersebut bisa melekat dalam ingatannya. Anak kemudian menghubungkan aktivitas buang air besar dengan rasa sakit dan mulai menghindarinya.
Anak Takut BAB karena Terasa Sakit, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

Nyeri akibat sembelit dapat membuat anak takut BAB dan menahannya, sehingga feses makin keras, nyeri berulang, serta membentuk lingkaran ketakutan.
Orangtua perlu mengenali tanda sembelit, seperti BAB berkurang, feses keras, anak menahan BAB, nyeri perut, atau mengompol kembali; konsultasikan dokter bila berulang.
Bantu anak dengan cukup cairan dan serat, rutinitas toilet santai, aktivitas fisik, serta dukungan tanpa hukuman; hindari obat tanpa saran dokter dan waspadai tanda bahaya.
Melihat anak takut buang air besar (BAB) karena pernah merasakan sakit tentu bisa membuat orangtua khawatir. Kondisi ini kerap terjadi ketika anak mengalami sembelit atau konstipasi yang menyebabkan feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan.
Akibatnya, anak bisa merasa cemas setiap kali ingin pergi ke toilet. Sayangnya, kebiasaan menahan BAB justru dapat memperburuk kondisi tersebut. Feses yang tertahan di dalam usus bisa menjadi semakin keras sehingga anak kembali merasakan nyeri saat buang air besar.
Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui apa yang harus dilakukan saat anak takut BAB. Simak informasinya telah Popmama.com siapkan.
Table of Content
1. Mengapa anak bisa trauma BAB?

Ilustrasi anak BAB di kamar mandi (freepik.com/freepik) Trauma saat buang air besar umumnya bermula ketika anak pernah mengalami rasa sakit saat mengeluarkan feses. Pengalaman yang tidak menyenangkan ini dapat tersimpan dalam ingatannya dan membuat aktivitas BAB terasa menakutkan.
Akibatnya, setiap kali merasakan dorongan untuk buang air besar, anak mungkin mulai merasa cemas atau takut pergi ke toilet. Rasa takut tersebut kemudian membuatnya cenderung menahan BAB.
Kebiasaan menahan BAB dapat membuat feses semakin lama berada di dalam usus besar sehingga menjadi lebih keras dan kering. Ketika akhirnya dikeluarkan, feses tersebut bisa menimbulkan rasa sakit yang lebih kuat.
Pengalaman ini kemudian memperkuat ketakutan anak terhadap BAB. Kondisi tersebut dapat membentuk lingkaran yang sulit diputus, yaitu anak takut merasa sakit, kemudian menahan BAB, mengalami sembelit, dan kembali merasakan nyeri saat buang air besar.
2. Penyebab anak trauma BAB

ilustrasi buang air kecil (unsplash.com/Giorgio Trovato) Ketakutan anak saat buang air besar tidak selalu muncul tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang dapat memicu sembelit dan membuat pengalaman BAB terasa menyakitkan bagi anak:
Berikut beberapa penyebab yang perlu Mama dan Papa ketahui:
3. Tanda sembelit pada anak yang perlu dikenali

Ilustrasi anak sakit perut (pexels.com/Feyza Daştan) Sebelum membantu anak mengatasi rasa takutnya, orangtua perlu mengenali apakah si Kecil mengalami sembelit atau tidak. Pasalnya, ketakutan saat BAB sering berkaitan dengan kondisi feses yang keras atau sulit dikeluarkan.
Berikut beberapa tanda sembelit pada anak yang perlu diperhatikan, antara lain:
- Frekuensi BAB berkurang: Anak buang air besar lebih jarang daripada biasanya. Pada sebagian anak, frekuensi BAB kurang dari tiga kali dalam seminggu dapat menjadi salah satu tanda sembelit, terutama jika disertai keluhan lain.
- Feses keras, kering, atau berukuran besar: Tinja yang keluar terlihat keras atau berukuran lebih besar dari biasanya sehingga anak kesulitan mengeluarkannya.
- Anak tampak menahan BAB: Anak mungkin terlihat mengejan, menegangkan tubuh, menyilangkan kaki, atau menunjukkan gerakan tertentu ketika ingin menahan dorongan untuk buang air besar.
- Mengalami nyeri perut: Sembelit dapat membuat perut anak terasa tidak nyaman atau sakit sehingga ia menjadi lebih rewel dan sulit beraktivitas seperti biasa.
- Mengompol kembali: Anak yang sebelumnya sudah mampu menggunakan toilet secara mandiri mungkin kembali mengalami mengompol. Kondisi ini dapat berkaitan dengan sembelit dan perlu diperhatikan, terutama jika muncul bersamaan dengan perubahan pola BAB.
Orangtua perlu memahami bahwa frekuensi BAB setiap anak dapat berbeda-beda. Karena itu, jangan hanya berpatokan pada seberapa sering anak buang air besar, tetapi perhatikan juga konsistensi feses, rasa sakit yang dialami, dan perubahan perilakunya.
Apabila beberapa tanda tersebut muncul secara bersamaan atau terus berulang, sebaiknya konsultasikan kondisi anak kepada dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
4. Langkah aman yang bisa dilakukan agar anak tidak trauma BAB

Ilustrasi anak membawa tisu toilet (pexels.com/Elina Fairytale) Ketika anak takut buang air besar karena pernah merasakan sakit, orangtua dapat membantu melalui kebiasaan sehari-hari yang mendukung kesehatan pencernaan. Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba di rumah:
- Perbanyak asupan cairan anak. Pastikan anak mendapatkan cukup air putih sepanjang hari sesuai kebutuhan usianya. Asupan cairan yang memadai membantu menjaga konsistensi feses agar tidak terlalu keras dan lebih mudah dikeluarkan.
- Tambahkan makanan berserat ke dalam menu harian. Orangtua bisa menyajikan berbagai buah, seperti pisang matang, apel tanpa kulit, dan pir, serta sayuran dan biji-bijian yang sesuai dengan usia anak. Tingkatkan asupan serat secara bertahap dan tetap pastikan anak minum cukup air.
- Bangun rutinitas menggunakan toilet. Ajak anak duduk di toilet selama sekitar 5–10 menit setelah makan untuk membantu membentuk kebiasaan BAB yang teratur. Lakukan dengan suasana santai dan jangan memaksa anak mengejan atau memarahinya jika belum berhasil buang air besar.
- Ajak anak lebih aktif bergerak. Berikan kesempatan kepada anak untuk bermain, berjalan, dan melakukan aktivitas fisik sesuai usianya. Gerakan tubuh dapat membantu mendukung pergerakan usus sehingga proses pencernaan dan BAB menjadi lebih lancar.
- Hindari memberikan obat tanpa saran dokter. Jangan memberikan obat pencahar untuk orang dewasa kepada anak atau menggunakan obat sembelit khusus anak tanpa rekomendasi tenaga kesehatan. Jenis obat dan dosisnya perlu disesuaikan dengan usia, kondisi, serta kebutuhan anak.
- Memberikan dukungan emosional kepada anak. Dengarkan keluhannya ketika ia merasa takut, yakinkan bahwa ia tidak perlu malu saat mengalami kesulitan BAB, dan berikan apresiasi ketika ia mau mencoba menggunakan toilet.
Hindari memarahi, mempermalukan, atau menghukum anak karena menahan BAB. Cara yang penuh dengan kesabaran dapat membantu mengurangi kecemasannya. Penanganan sembelit yang tepat pun dapat membantu mencegah rasa sakit berulang.
5. Kapan harus membawa anak ke dokter?

Ilustrasi dokter menulis resep pengobatan (pexels.com/Lucas Guimarães Bueno) Segera cari pertolongan medis apabila sembelit berlangsung lama, sering kambuh, atau disertai keluhan lain yang mengkhawatirkan. Pemeriksaan juga diperlukan jika anak tampak sangat kesakitan atau tidak mampu makan dan minum dengan baik.
Berikut beberapa tanda yang perlu diwaspadai:
- Sembelit berlangsung lama atau sering kambuh: Anak terus mengalami kesulitan BAB meskipun sudah dilakukan perubahan pola makan dan kebiasaan sehari-hari.
- Muntah atau demam: Keluhan ini dapat menandakan adanya masalah lain yang membutuhkan pemeriksaan medis, terutama jika disertai nyeri perut.
- Perdarahan dari anus: Adanya darah saat BAB perlu diperiksa untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang sesuai.
- Penurunan berat badan: Berat badan anak menurun tanpa alasan yang jelas sehingga perlu dievaluasi oleh dokter.
- Tanda-tanda dehidrasi: Anak tampak sangat lemas, buang air kecil lebih sedikit dari biasanya, atau menunjukkan tanda kekurangan cairan lainnya.
- Rasa sakit yang berat atau kesulitan makan dan minum: Jika anak terlihat sangat kesakitan atau tidak bisa makan maupun minum, jangan menunda mencari pertolongan medis.
Jika anak mengalami nyeri perut hebat, muntah berulang, atau perut membuncit disertai tidak bisa BAB maupun buang angin, segera bawa anak untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
Dokter dapat membantu mencari penyebab sembelit, menilai kondisi anak, dan menentukan penanganan yang sesuai. Dengan begitu, anak tidak hanya terbantu untuk mengatasi kesulitan BAB, tetapi juga dapat perlahan mengurangi rasa takut terhadap aktivitas tersebut.
Itu dia informasi mengenai apa yang harus dilakukan saat anak takut BAB. Bantu si Kecil membangun kebiasaan BAB yang sehat, ciptakan suasana toilet yang nyaman, dan jangan ragu mencari bantuan medis jika keluhannya menetap atau disertai tanda bahaya.






















