Tips Parenting agar Anak Merasa Dihargai Sejak Dini

Orangtua dianjurkan meminta izin sebelum menyentuh atau mengurus tubuh anak, seperti saat mengganti pakaian, untuk mengenalkan batasan fisik dan persetujuan sejak dini.
Kebiasaan meminta izin mencerminkan prinsip Montessori respect for the child, dengan mengakui kontrol, kenyamanan, serta hak anak menyuarakan pendapatnya.
Pelibatan anak dalam keputusan harian melalui komunikasi dua arah membantu mereka merasa didengar, membangun kepercayaan diri, dan mempererat ikatan emosional dengan orangtua.
Menjadi orangtua di era modern tentu memiliki tantangan tersendiri ya Ma, terutama dalam menyeimbangkan kesibukan dengan pola asuh di rumah.
Tanpa disadari mungkin Mama dan Papa sering kali terburu-buru dalam melakukan segala hal demi efisiensi waktu, termasuk saat mengurus kebutuhan harian anak.
Padahal, cara kita memperlakukan si Kecil sangat berdampak pada perkembangan mental dan emosional mereka ke depannya, lho.
Salah satu sosok yang membuat kagum para orangtua adalah Marshanda.
Ia diketahui konsisten menerapkan pola asuh penuh kesadaran dengan anaknya.
Maksudnya bagaimana, ya?
Jadi, dalam menerapkan pola asuh, ada kebiasaan sederhana namun penting jika diterapkan pada anak sejak dini, Ma.
Kebiasaan tersebut adalah meminta izin kepada si Kecil sebelum Mama atau Papa melakukan sesuatu kepadanya.
Kebiasaan tersebut ternyata tidak hanya menunjukkan tata krama yang baik, tetapi juga berprinsip respect for the child yang sangat dianjurkan dalam metode Montessori.
Lantas, bagaimana sebenarnya bentuk penanganan dan perilaku nyata yang bisa ditiru oleh para Mama di rumah?
Yuk simak di Popmama.com tips parenting agar anak merasa dihargai sejak dini!
1. Selalu meminta izin sebelum menyentuh tubuh anak

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Kebiasaan sederhana namun penting dilakukan kepada si Kecil adalah konsistensi dalam meminta izin kepada anak sebelum melakukan kontak fisik.
Misalnya saat Mama akan memakaikan pampers, mengenakan baju, atau sekadar mengangkat kakinya.
Cara ini berfokus pada penanaman konsep bahwa tubuh anak adalah milik mereka sepenuhnya dan orangtua tidak boleh sembarangan mengendalikannya tanpa persetujuan.
Contoh kalimat yang bisa Mama tiru di rumah adalah, "Adik, Mama boleh tolong angkat kakinya sebentar ya untuk dipakaikan celana?"
Perilaku nyata yang ditunjukkan anak setelah mendengarnya adalah mereka menjadi lebih tenang dan kooperatif karena merasa dihargai ruang pribadinya, Ma!
Pendekatan sederhana ini secara perlahan akan melatih si Kecil untuk mengenali batasan fisik serta memahami arti persetujuan sejak usia dini.
Dengan cara ini, anak juga akan belajar bahwa batasan pribadi mereka dihormati oleh orang terdekatnya di rumah, deh.
2. Menerapkan prinsip Montessoru

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Pola asuh yang meminta izin sebelum berinteraksi secara fisik merupakan implementasi nyata dari prinsip respect for the child dalam metode pendidikan Montessori, Ma!
Fokus penanganan dari poin ini adalah memberikan pengakuan atas kontrol dan keberadaan anak, meskipun usia mereka masih tergolong sangat kecil.
Contoh kalimat yang dapat Mama ucapkan saat ingin merapikan rambut anak di pagi hari misalnya, "Adik, rambutnya sudah agak berantakan, Mama rapikan pakai bando ya, boleh?"
Perilaku tersebut akan membantu si Kecil belajar untuk menyuarakan pendapat dan keinginan mereka, Ma.
Melalui kebiasaan ini, anak tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif atau merasa terintimidasi oleh kekuasaan orangtua di rumah.
Harga diri anak juga akan terjaga dengan baik karena mereka dilibatkan dalam setiap keputusan kecil yang menyangkut tubuh dan kenyamanan mereka sendiri.
3. Membangun kepercayaan diri dengan melibatkan pendapat anak dalam pengambilan keputusan "kecil"

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI Kebiasaan meminta izin dalam aktivitas sehari-hari ternyata memiliki dampak jangka panjang terhadap pembentukan kepercayaan diri anak sejak dini lho, Ma.
Penanganan ini fokus pada pelibatan anak dalam berbagai keputusan harian.
Jadinya si Kecil akan merasa pendapatnya didengar dan dihargai oleh lingkungan terdekatnya.
Contoh kalimat interaksi yang sangat mendukung proses ini adalah, "Sayang, hari ini cuacanya agak panas, kita pakai baju kaos yang hijau ini ya, setuju?"
Perilaku positif yang tampak dari anak adalah mereka menjadi lebih antusias, merasa dihargai, serta memiliki motivasi yang lebih tinggi untuk belajar dan berkembang, lho.
Anak yang terbiasa diajak berdiskusi sejak kecil juga cenderung memiliki mental yang lebih kuat saat harus menghadapi masalah di luar lingkungan rumah.
Pola komunikasi dua arah seperti ini pada akhirnya akan mempererat ikatan emosional yang hangat antara Mama dan si Kecil, deh.
Pola asuh yang diterapkan oleh Marshanda membuktikan bahwa hal-hal kecil dalam interaksi sehari-hari memegang peran krusial dalam membentuk karakter anak.
Itu dia tips parenting agar anak merasa dihargai sejak dini!
Ketika Mama dan Papa konsisten menghargai ruang privat si Kecil, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki mental kuat dan rasa percaya diri yang tinggi.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai mengevaluasi kembali cara berkomunikasi agar anak merasa dihargai sebagai individu seutuhnya.
Mari jadikan momen membersamai si Kecil sebagai sarana untuk belajar dan bertumbuh bersama melalui pendekatan yang penuh kasih sayang serta respek.






















