Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Cara Bijak Menyikapi Anak yang Berbohong di Setiap Usianya

Cara Bijak Menyikapi Anak yang Berbohong di Setiap Usianya
Freepik

Pernahkah Mama merasa kecewa atau sakit hati saat mendapati anak berbohong?

Sebenarnya wajar rasanya jika Mama kesal. Namun tahukah Mama, sebagian besar anak tidak berbohong untuk menyakiti orangtuanya,lho.

Anak biasanya berbohong untuk melindungi diri sendiri, tapi memang dengan cara yang bahkan belum mereka pahami sepenuhnya.

Dari balita yang tiba-tiba menangis tanpa sebab hingga remaja yang pandai menyembunyikan banyak hal, setiap usia punya pola kebohongan yang berbeda, Ma.

Memahami pola ini akan membantu Mama menyikapinya dengan lebih bijak, tanpa harus marah atau merasa dikhianati. Yuk, simak rangkuman artikel Popmama.com berikut untuk memahami perkembangan anak sesuai usia.

1. Usia 0-2 tahun, bukan bohong tapi justru butuh rasa aman

balita kelelahan
Freepik

Di usia batita, anak sebenarnya belum bisa berbohong, Ma.

Namun perilaku mereka sering terasa seperti "bohong" bagi Mama, misalnya menangis tiba-tiba, sering bangun di malam hari, atau merengek minta digendong padahal baru saja ditaruh.

Ini sangat normal, kok, karena otak mereka belum cukup berkembang. Jadi, setiap kebutuhan nereka itu seolah terasa nyata dan mendesak.

Bagi anak seusia ini, berada jauh dari orangtua terasa tidak aman. Itulah mengapa perlu ketenangan dan responsif dalam menyikapi anak yang seperti ini, Ma.

Caranya bisa dengan gendong, peluk, dan yakinkan mereka. Ini bukan bentuk Mama sedang memanjakannya, kok, justru sedang membangun rasa percaya.

2. Usia 3-5 tahun, awal mula kebohongan kecil anak

balita gadget
Freepik

Memasuki usia lebih lanjut di sekitar 3-5 tahun, anak mulai mengucapkan kalimat seperti, "Aku tidak melakukannya," "Piringnya pecah sendiri," atau suka menyalahkan orang lain.

Mama pasti pernah mengalami hal ini pada si Kecil, kan? Biasanya anak usia ini akan mulai menyangkal hal-hal yang jelas sudah terjadi.

Mengapa mereka melakukannya? Karena usia ini anak sedang belajar tentang benar dan salah. Namun, rasa takut akan marahnya Mama masih lebih kuat daripada kejujuran.

Mereka berbohong untuk menghindari masalah, bukan untuk menipu, Ma. Jadi, Mama disarankan tetap tenang dan hindari reaksi berlebihan, ya.

Katakan, "Coba kamu cerita yang jujur, ya. Mama nggak marah kok." Ajarkan kejujuran lewat rasa terhubung, bukan rasa takut.

3. Usia 6-9 tahun, mulai berniat tapi takut mengecewakan

tegas pada anak
Freepik/peoplecreations

Di rentang usia awal sekolah atau 6-9 tahun, biasanya kebohongan menjadi lebih terencana, Ma.

Anak bisa berbohong soal pekerjaan rumah, menyembunyikan kesalahan, atau membuat berbagai alasan seperti, "Nggak kok, itu bukan aku."

Ini normal karena mereka sudah paham aturan, tapi sangat takut mengecewakan Mama dan Papa. Karena menurut mereka, pendapat orangtua kini lebih berharga dari sebelumnya.

Di sinilah reaksi Mama sangat menentukan. Fokuslah pada kejujuran, bukan kesempurnaan. Ingatlah, jika kebenaran berujung pada rasa malu, lain kali mereka akan lebih pandai menyembunyikannya.

Tapi jika kebenaran berujung pada rasa terhubung, mereka akan selalu kembali pada Mama.

4. Usia 10-12 tahun, anak mulai menyembunyikan banyak hal

Beautiful young mother and her daughter are using a smartphone and smiling sitting on the couch in living room..jpg
Freepik/DC Studio

Memasuki usia awal remaja, anak lebih sering menyembunyikan informasi daripada berbohong terang-terangan.

Mereka bisa mengatakan, "Aku nggak apa, kok," padahal tidak, atau menghindari percakapan dengan bilang, "Ah, bukan masalah besar kok, Ma."

Ini normal karena saat memasuki masa remaja, mereka sedang belajar mandiri, Ma. Perasaan mereka sangat dalam, tapi belum tahu cara mengekspresikannya dengan baik.

Jadi, mereka melindungi diri dengan memilih diam dan menyembunyikan apa yang sedang dirasakan.

Alih-alih memaksa anak menceritakan, tetaplah hadir untuk anak dan jangan malah menghilang. Cobalah tanayakan padanya dengan lembut. Ciptakan ruang di mana mereka bisa membuka diri sesuai kecepatannya masing-masing.

5. Usia 13-16 tahun, anak berbohong demi kebebasan

Beautiful teenage girl listening music while using cellphone at park.jpg
Freepik

Di fase remaja ini, kebohongan bisa lebih menyakitkan hati orangtua. Mereka bisa berbohong soal lokasi pergi, menyembunyikan bagian hidup mereka, dan terlihat sangat menghindari kejujuran.

Ini normal karena mereka berbohong untuk melindungi kebebasan, menghindari penghakiman, dan merasa bisa mengendalikan hidupnya sendiri.

Saat memasuki masa remaja, anak akan merasa takut dihakimi, dihukum, atau membuat Mama kecewa. Kuncinya adalah tetapkan batasan yang jelas namun tetap tenang.

Mama dan Papa bisa mendiskusikan bersama anak tentang batasan apa saja yang perlu mereka jaga bersama. Serta kurangi reaksi berlebihan, dan perbanyak mendengar, Ma, Pa.

Jika rumah terasa seperti tempat penuh kritik, mereka akan semakin pandai bersembunyi. Namun, jika rumah terasa aman, mereka akan kembali, bahkan setelah melakukan kesalahan sekalipun.

Jad, ketika mendapati anak berbohong, coba tarik napas sejenak. Ingatlah bahwa di balik setiap kebohongan kecil mereka, tersimpan rasa takut, kebutuhan akan rasa aman, atau keinginan untuk dilindungi.

Tugas kita sebagai orangtua bukanlah menangkap kebohongan itu, melainkan menciptakan ruang yang begitu aman sehingga anak-anak merasa tak perlu lagi bersembunyi di balik kata-kata palsu.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Latest in Kid

See More

Cara Bijak Menyikapi Anak yang Berbohong di Setiap Usianya

30 Mar 2026, 09:24 WIBKid