Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

7 Ciri-Ciri Anak Mengalami Kekerasan di Daycare, Orangtua Perlu Peka!

7 Ciri-Ciri Anak Mengalami Kekerasan di Daycare, Orangtua Perlu Peka!
Pexels/Ksenia Chernaya
Intinya Sih
  • Kasus kekerasan di daycare menyoroti pentingnya kepekaan orangtua terhadap perubahan perilaku anak balita yang belum mampu mengungkapkan pengalaman traumatis secara verbal.
  • Psikolog Irma Gustiana menjelaskan bahwa trauma akibat kekerasan dapat terekam dalam tubuh dan sistem saraf anak, meski belum bisa diceritakan secara langsung.
  • Tanda-tanda seperti anak menjadi lengket, mudah takut, sulit tidur, perubahan nafsu makan, hingga regresi perkembangan perlu diwaspadai dan ditangani dengan bantuan profesional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kasus kekerasan pada anak di daycare menjadi pengingat penting bagi orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku si Kecil. Pada usia balita, anak belum mampu menceritakan pengalaman yang dialaminya secara jelas. Namun, bukan berarti mereka tidak merasakan dampaknya.

Menurut Irma Gustiana A S.Psi., M.Psi., Psikolog., CPC., Psikolog Klinis Anak, Remaja dan Keluarga di Instagramnya lewat video saat tampil di Berita Satu TV menyebut  trauma akibat kekerasan tetap bisa terekam dalam tubuh dan sistem saraf anak, meski belum bisa diungkapkan secara verbal.

“Anak balita belum bisa menceritakan tentang pengalaman kekerasan yang dialami tapi trauma itu bisa direkam oleh tubuh dan pikirannya,” jelas Irma di Instagramnya, Selasa (28/4/2026).

Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali tanda-tanda yang muncul. 

Berikut Popmama.com rangkum ciri-ciri anak yang mungkin mengalami kekerasan di daycare!

1. Anak tiba-tiba jadi sangat lengket pada orangtua

Seorang anak kecil menangis di ruang kelas taman kanak-kanak sambil dipeluk oleh seorang perempuan dewasa yang menenangkannya.
Popmama.com/Putri Syifa N/AI

“Anaknya mendadak sangat lengket ke orangtuanya atau menjadi takut terpisah,” jelas Irma.

Perubahan ini biasanya muncul karena anak merasa tidak aman di lingkungan lain. Ia akan mencari rasa aman dengan terus berada di dekat orang yang dipercaya.

2. Menangis berlebihan saat melihat tempat atau orang tertentu

Anak kecil menangis di dalam ruang kelas taman kanak-kanak dengan guru dan anak-anak lain di latar belakang.
Popmama.com/Putri Syifa N/AI

“Kemudian dia menangis secara berlebihan saat melihat sesuatu, entah tempat atau orang-orang tertentu,” pungkas Irma.

Ini bisa menjadi tanda bahwa anak memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang diasosiasikan dengan tempat atau sosok tertentu.

3. Mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk

Tempat tidur anak dengan sprei bermotif bintang berwarna biru tua di kamar yang diterangi cahaya lembut dari jendela.
Popmama.com/Putri Syifa N/AI

“Kadang-kadang juga disertai sulit tidur, lalu juga mimpi buruk,” tutur Irma.

Trauma yang belum terselesaikan sering muncul saat anak tidur. Hal ini bisa membuat kualitas istirahatnya terganggu.

4. Nafsu makan berubah drastis

Anak kecil menangis saat duduk di meja makan bersama seorang wanita yang mencoba menyuapinya dengan makanan sehat di piring warna-warni.
Popmama.com/Putri Syifa N/AI

“Nafsu makannya jadi berubah,” jelas Irma.

Perubahan pola makan, baik jadi tidak mau makan atau justru berlebihan, bisa menjadi respons tubuh terhadap stres.

5. Mudah kaget dan lebih sensitif dari biasanya

Seorang ibu menenangkan bayi yang tampak ketakutan di tempat tidur anak dengan pencahayaan redup di kamar tidur malam hari.
Popmama.com/Putri Syifa N/AI

“Ada beberapa anak yang menunjukkan perilaku gampang kaget terhadap sebuah stimulus,” jelas Irma.

Anak menjadi lebih waspada terhadap lingkungan sekitar, bahkan terhadap hal kecil yang sebelumnya tidak mengganggu.

6. Lebih rewel dan sulit ditenangkan

Seorang ibu menenangkan anak balitanya yang menangis di ruang tamu dengan mainan berserakan di lantai dan suasana rumah yang hangat.
Popmama.com/Putri Syifa N/AI

“Ada juga anak-anak yang jauh lebih rewel dari biasanya dan sulit untuk ditenangkan,” tutur Irma.

Perubahan emosi ini sering muncul karena anak tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya.

7. Mengalami regresi atau kemunduran perkembangan

Anak kecil berambut pirang tidur tengkurap di atas tempat tidur dengan seprai putih dan beberapa mainan mobil di sampingnya.
Pexels/Yan Krukau

“Tadinya sudah tidak ngompol, akhirnya mereka ngompol lagi,” pungkas Irma.

Regresi adalah salah satu tanda trauma yang cukup umum, di mana anak kembali ke fase perkembangan sebelumnya sebagai bentuk perlindungan diri.

Perubahan-perubahan ini perlu menjadi perhatian serius. Jika orangtua melihat tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera mencari bantuan profesional seperti psikolog anak agar si Kecil mendapatkan pendampingan yang tepat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More