“Anak balita belum bisa menceritakan tentang pengalaman kekerasan yang dialami tapi trauma itu bisa direkam oleh tubuh dan pikirannya,” jelas Irma di Instagramnya, Selasa (28/4/2026).
7 Ciri-Ciri Anak Mengalami Kekerasan di Daycare, Orangtua Perlu Peka!

- Kasus kekerasan di daycare menyoroti pentingnya kepekaan orangtua terhadap perubahan perilaku anak balita yang belum mampu mengungkapkan pengalaman traumatis secara verbal.
- Psikolog Irma Gustiana menjelaskan bahwa trauma akibat kekerasan dapat terekam dalam tubuh dan sistem saraf anak, meski belum bisa diceritakan secara langsung.
- Tanda-tanda seperti anak menjadi lengket, mudah takut, sulit tidur, perubahan nafsu makan, hingga regresi perkembangan perlu diwaspadai dan ditangani dengan bantuan profesional.
Kasus kekerasan pada anak di daycare menjadi pengingat penting bagi orangtua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku si Kecil. Pada usia balita, anak belum mampu menceritakan pengalaman yang dialaminya secara jelas. Namun, bukan berarti mereka tidak merasakan dampaknya.
Menurut Irma Gustiana A S.Psi., M.Psi., Psikolog., CPC., Psikolog Klinis Anak, Remaja dan Keluarga di Instagramnya lewat video saat tampil di Berita Satu TV menyebut trauma akibat kekerasan tetap bisa terekam dalam tubuh dan sistem saraf anak, meski belum bisa diungkapkan secara verbal.
Karena itu, penting bagi orangtua untuk mengenali tanda-tanda yang muncul.
Berikut Popmama.com rangkum ciri-ciri anak yang mungkin mengalami kekerasan di daycare!
1. Anak tiba-tiba jadi sangat lengket pada orangtua

“Anaknya mendadak sangat lengket ke orangtuanya atau menjadi takut terpisah,” jelas Irma.
Perubahan ini biasanya muncul karena anak merasa tidak aman di lingkungan lain. Ia akan mencari rasa aman dengan terus berada di dekat orang yang dipercaya.
2. Menangis berlebihan saat melihat tempat atau orang tertentu

“Kemudian dia menangis secara berlebihan saat melihat sesuatu, entah tempat atau orang-orang tertentu,” pungkas Irma.
Ini bisa menjadi tanda bahwa anak memiliki pengalaman tidak menyenangkan yang diasosiasikan dengan tempat atau sosok tertentu.
3. Mengalami gangguan tidur dan mimpi buruk

“Kadang-kadang juga disertai sulit tidur, lalu juga mimpi buruk,” tutur Irma.
Trauma yang belum terselesaikan sering muncul saat anak tidur. Hal ini bisa membuat kualitas istirahatnya terganggu.
4. Nafsu makan berubah drastis

“Nafsu makannya jadi berubah,” jelas Irma.
Perubahan pola makan, baik jadi tidak mau makan atau justru berlebihan, bisa menjadi respons tubuh terhadap stres.
5. Mudah kaget dan lebih sensitif dari biasanya

“Ada beberapa anak yang menunjukkan perilaku gampang kaget terhadap sebuah stimulus,” jelas Irma.
Anak menjadi lebih waspada terhadap lingkungan sekitar, bahkan terhadap hal kecil yang sebelumnya tidak mengganggu.
6. Lebih rewel dan sulit ditenangkan

“Ada juga anak-anak yang jauh lebih rewel dari biasanya dan sulit untuk ditenangkan,” tutur Irma.
Perubahan emosi ini sering muncul karena anak tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya.
7. Mengalami regresi atau kemunduran perkembangan

“Tadinya sudah tidak ngompol, akhirnya mereka ngompol lagi,” pungkas Irma.
Regresi adalah salah satu tanda trauma yang cukup umum, di mana anak kembali ke fase perkembangan sebelumnya sebagai bentuk perlindungan diri.
Perubahan-perubahan ini perlu menjadi perhatian serius. Jika orangtua melihat tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera mencari bantuan profesional seperti psikolog anak agar si Kecil mendapatkan pendampingan yang tepat.


















