“Salah satu faktor risikonya adalah early walker atau kondisi anak berjalan terlalu cepat. Umumnya anak berjalan di usia satu tahun, tapi ternyata di usia 8 bulan dia sudah bisa berjalan, jadi membuat lempeng pertumbuhannya rusak karena sejatihnya kaki belum siap untuk berjalan,” kata dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp. OT, Subsp. A. (K) selaku Dokter Spesialis Ortopedi Subspesialis Ortopedi Anak RS Pondok Indah – Puri Indah saat acara ‘Media Discussion - Koreksi Struktur Kaki Anak O/X Minim Sayatan dengan Guided Growth Surgery’ di Sentosa Senayan, Rabu (28/1/2026).
5 Kebiasaan yang Membuat Anak Mengalami Kaki O dan X Menurut Dokter

- Anak berdiri dan berjalan terlalu dini dapat memengaruhi kesejajaran tulang kaki.
- Penggunaan alat bantu berjalan secara berlebihan bisa memicu atau memperburuk kondisi kaki O dan kaki X.
- Membiarkan anak duduk dengan posisi W terlalu sering dapat memperparah kecenderungan kaki berbentuk O maupun X.
Bentuk kaki anak bisa berubah seiring dengan proses tumbuh kembangnya. Pada beberapa anak, orangtua mungkin memperhatikan tungkai yang tampak membentuk huruf O atau X saat si Kecil berdiri dan berjalan.
Meski kondisi ini sering kali merupakan bagian dari fase pertumbuhan normal, kebiasaan sehari-hari ternyata juga dapat memengaruhi bentuk kaki anak. Tanpa disadari, sejumlah kebiasaan yang terlihat sepele dapat memberikan tekanan berlebih pada tulang dan sendi yang masih berkembang.
Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut berisiko membuat kondisi kaki O dan kaki X menetap atau semakin terlihat seiring bertambahnya usia anak.
Berikut Popmama.com siap membahas lebih lanjut mengenai beberapa kebiasaan yang membuat anak mengalami kaki O dan kaki X menurut dokter.
1. Terlalu dini membiasakan anak berdiri dan berjalan

Banyak orangtua merasa bangga ketika anaknya bisa berdiri atau berjalan lebih cepat dari usia seharusnya. Namun, membiasakan anak berdiri atau berjalan sebelum otot dan tulangnya cukup kuat justru dapat memberikan beban berlebih pada tungkai.
Tekanan yang terlalu besar pada kaki anak yang belum siap bisa memengaruhi kesejajaran tulang kaki. Akibatnya, anak berisiko mengalami kelainan bentuk kaki seperti kaki O atau kaki X.
2. Penggunaan alat bantu berjalan secara berlebihan

Alat bantu seperti baby walker kerap digunakan untuk membantu anak belajar berjalan. Meski terlihat praktis, penggunaan alat bantu berjalan yang terlalu sering dapat membuat anak menumpukan berat badan secara tidak alami.
Kondisi ini bisa mengganggu pola gerak alami anak dan memberikan tekanan berlebih pada lutut serta pergelangan kaki. Jika dibiarkan, kebiasaan ini berpotensi memicu atau memperburuk kondisi kaki O dan kaki X.
3. Membiarkan anak duduk dengan posisi W terlalu sering

Posisi duduk W, yaitu ketika anak duduk dengan lutut menekuk dan kaki mengarah ke luar menyerupai huruf W, sering dianggap nyaman oleh anak-anak.
Sayangnya, kebiasaan duduk seperti ini dapat memberikan tekanan berlebih pada lutut dan pergelangan kaki. Jika posisi duduk W dilakukan terlalu sering dan dalam waktu lama, struktur tulang dan sendi anak bisa terdorong ke arah yang tidak semestinya. Hal ini berisiko memperparah kecenderungan kaki berbentuk O maupun X.
“Ketika anak duduk dengan posisi W, dia akan merangsang tulangnya dalam posisi 30 derajat. Ketika tekanannya terlalu besar, maka dia akan memutar kakinya ke dalam, sehingga anak berjalannya dengan posisi kaki ke dalam,” jelas dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp. OT, Subsp. A. (K).
4. Kurangnya aktivitas fisik yang sesuai usia

Aktivitas fisik berperan penting dalam memperkuat otot dan tulang anak. Anak yang kurang bergerak cenderung memiliki otot kaki yang lemah, sehingga tidak mampu menopang pertumbuhan tulang secara optimal.
Otot yang lemah dapat menyebabkan distribusi beban pada kaki menjadi tidak merata. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi postur dan bentuk tungkai anak.
5. Asupan vitamin D dan kalsium yang tidak mencukupi

Vitamin D dan kalsium merupakan nutrisi penting untuk pertumbuhan tulang anak. Kekurangan kedua nutrisi ini dapat membuat tulang menjadi lebih rapuh dan mudah mengalami perubahan bentuk.
Jika kebutuhan vitamin D dan kalsium tidak terpenuhi dalam jangka panjang, tulang kaki anak menjadi lebih rentan mengalami kelainan. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya kaki O dan kaki X selama masa pertumbuhan.
“Ada kalanya sering anak kekurangan vitamin D, yang menyebabkan kalsium susah diabsorbsi, sehingga kalsium yang terdeposit dalam tulang akan lebih rendah. Alhasil, bisa menyebabkan kelainan tulang tungkai,” kata dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp. OT, Subsp. A. (K).
Nah, itu dia beberapa kebiasaan yang membuat anak mengalami kaki O dan kaki X menurut dokter. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi Mama semua, ya.


















