Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Cegah Kekerasan di Daycare, Ini Kata Psikolog Klinis soal Deteksi Dini

Cegah Kekerasan di Daycare, Ini Kata Psikolog Klinis soal Deteksi Dini
Dok. Popmama.com

Bagi Mama dan Papa yang bekerja atau tinggal jauh dari sanak saudara, daycare tentu menjadi tempat penyelamat untuk menitipkan sang buah hati. Tempat penitipan anak ini memberikan kemudahan sekaligus ketenangan karena si Kecil tetap terawat saat Mama dan Papa sibuk bekerja.

Namun belakangan, ada banyak kasus daycare yang ramai menunjukkan tindakan penyiksaan terhadap balita. Hal ini tentu membuat para orangtua cemas luar biasa, bagaimana memastikan anak aman saat dititipkan, ya?

Dalam wawancara eksklusif dengan Psikolog Klinis, Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt membagikan cara praktis untuk melatih komunikasi anak.

Menurutnya, orangtua bisa mendeteksi dini tanda bahaya lewat permainan dan kepekaan emosi. Nah, apa saja caranya untuk mencegah kekerasan di daycare?

Simak penjelasan detailnya dalam artikel Popmama.com berikut ini ya, Ma.

Table of Content

1. Mama perlu memerhatikan perubahan mood anak

1. Mama perlu memerhatikan perubahan mood anak

Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Dok. Popmama.com

Ketika mendengar banyaknya kasus kekerasan pada anak di daycare, tentu sebagai orangtua kita akan mulai menanyakan berbagai pertanyaan terkait keamanan mereka selama dititipkan.

Namun, Alexandra menjelaskan sebelum mengajak anak bicara, langkah awal adalah mengamati perubahan perilaku si Kecil terlebih dahulu, Ma.

Ia menegaskan bahwa anak yang mengalami hal tidak menyenangkan di daycare biasanya akan menunjukkan perubahan suasana hati yang cukup jelas.

"Pertama-tama memang kita perlu lihat juga apakah anak ini terlihat lebih murung, mood-nya berubah atau ketika mau dibawa masuk ke daycare-nya udah mulai ada penolakan," ujar Alexandra kepada Popmama.com.

Ditambahkan juga olehnya bahwa meskipun penolakan masuk daycare bukan indikator mutlak, karena banyak anak yang memang tidak mau sekolah, Mama juga perlu waspada jika sikap menolak tersebut makin ekstrim.

"Tapi kalau makin dia ekstrim perasaan menolaknya dan setiap kali pulang dari daycare juga kelihatan murung, itu tanda-tanda pertama," tambahnya.

2. Gunakan alat bantu sebagai peraga untuk anak berekspresi

Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Dok. Popmama.com

Berkaca dari kasus kekerasan anak yang umumnya terjadi pada balita, terutama di bawah tiga tahun, Alexandra menjelaskan bahwa anak usia ini memang masih belum bisa merangkai kalimat dengan baik.

Karena itu, Psikolog Klinis yang ahli di bidang hipnoterapi ini menyarankan pendekatan visual dan bermain peran. Orangtua bisa menggunakan alat bantu, seperti boneka untuk memancing cerita.

"Kita gambar lokasi denah daycare-nya, kita sebutin nama teman-temannya, mungkin bisa pakai boneka-boneka, lalu lihat apa yang terjadi, bagaimana dia akan memainkan bonekanya," katanya menjelaskan.

Dengan cara ini, anak akan secara alami meniru situasi yang ia alami. Alexandra juga memberi contoh, "Mungkin si A sama si B waktu kejadian di sekolah lagi main pukul-pukulan, habis itu dia akan main pukul-pukulan tuh antara boneka yang mewakili si A dan si B."

Nah, alat bantu sederhana ini menjadi jendela bagi Mama dan Papa untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di daycare.

3. Dengar dan perhatikan kalimat kecil yang anak lontarkan saat bermain

Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Dok. Popmama.com

Masih dengan bermain peran, Mama bisa memerhatikan anak dengan saksama sebagai jendela mengetahui apa yang mungkin dialaminya.

Ketika bermain peran, anak-anak sering tanpa sengaja melontarkan kalimat jujur tentang pengalaman mereka. Alexandra menyebut bahwa jika ada kejadian tidak enak, anak biasanya akan mengungkapkannya dengan bahasa sederhana.

"Lalu kalau ada kejadian nggak enak, si anak ini juga pasti akan bilang, kayak, 'aku tiduran di sini nggak bisa bangun,' misalnya seperti itu," ungkapnya meniru ungkapan anak.

Kalimat seperti ini adalah alarm penting yang perlu Mama amati. Meski terdengar seperti bagian dari permainan, Mama perlu menindaklanjutinya dengan bertanya lebih lanjut atau menghubungi pihak daycare.

Jangan pernah menganggap remeh celotehan anak saat bermain ya, Ma!

4. Kepekaan Mama adalah kunci, terutama anak yang belum lancar bicara

Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Dok. Popmama.com

Tantangan terbesar yang membuat orangtua khawatir dengan banyaknya pemberitaan kekerasan anak di daycare ada pada anak usia dua tahun ke bawah, yang mana kemampuan bicaranya masih sangat terbatas.

Alexandra mengakui bahwa pada rentang usia ini, melatih anak bercerita memang jauh lebih sulit dibandingkan anak usia yang sudah lebih besar. Namun, bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan ya, Ma.

"Cuma kalau memang anaknya belum bisa berbicara, seperti usia dua tahun ke bawah, memang jauh lebih sulit. Kita harus lebih peka sama emosi dan perubahan dia," tegasnya.

Dari penjelasan tersebut, orangtua perlu menjadi detektif bagi buah hati. Kepekaan Mama di sini adalah kunci untuk mengamati tangisannya, raut wajahnya, atau bahasa tubuhnya saat hendak berangkat maupun setelah pulang.

Meski belum bisa berbicara lewat kata-kata, anak tetap bisa 'berbicara' melalui emosi mereka, Ma.

5. Komunikasii balita masih terbatas, tapi tetap bisa dilatih

Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Dok. Popmama.com

Alexandra mengingatkan bahwa anak usia tiga tahun ke bawah tidak semuanya mampu berkomunikasi dengan baik. Pelafalan kata dan penyusunan kalimat mereka memang wajar jika masih sangat sederhana.

Namun, di tengah keterbatasan inilah yang perlu orangtua manfaatkan untuk aktif menstimulasi sejak dini.

"Tiga tahun ke bawah anak itu tuh nggak semuanya udah bisa berkomunikasi dengan baik, karena kan pelafalan kata-kata atau nyusun kalimatnya itu masih cukup terbatas gitu kan," jelas Alexandra.

Nah, pertanyaannya bagaimana menstimulasi komunikasi dan critical thinking anak supaya ia bisa memberi tahu orangtua saat ada bahaya?

Menurutnya, jawabannya ada pada permainan rutin dan pengamatan emosi harian. Jadi, kepekaan kita sebagai orangtua berpean penting juga di sini.

Semakin sering dilatih, anak akan terbiasa menceritakan apa yang ia rasa. Meski kalimatnya masih sederhana, ini juga akan melatih anak untuk terbiasa berkomunikasi.

Maraknya kasus kekerasan di daycare terhadap balita yang belum bisa berkomunikasi secara verbal dengan baik menunjukkan betapa rentannya posisi anak-anak kita.

Namun, seperti yang ditekankan oleh Psikolog Klinis Alexandra Gabriella, orangtua tidak perlu merasa takut berlebihan selama kita mau lebih peka terhadap perubahan emosi dan perilaku si Kecil.

Dengan berbagai cara di atas, Mama dan Papa bisa kok jadi 'detektif' untuk mendeteksi dini adanya kekerasan di daycare.

Jadi, kuncinya bukan hanya terletak pada memilih daycare terbaik aja ya, tapi juga pada seberapa dekat dan peka orangtua mendengar suara anak dan emosi yang diperlihatkannya.

POPMAMA TALK Mei 2026 - Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Psikolog Klinis

Senior Editor - Novy Agrina
Host - Novy Agrina  
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias  
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana   
Script - Sania Chandra Nurfitriana   
Social Media - Mayang Ulfah 
Photographer - David Andrew
Videographer - Bellinna Putri, David Andrew & Albertus Olav
Video Editor - David Andrew
Design - Aristika Medinasari

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Related Articles

See More

Cegah Kekerasan di Daycare, Ini Kata Psikolog Klinis soal Deteksi Dini

06 Mei 2026, 09:30 WIBKid