Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Anak Pilih-Pilih Makanan, Picky Eater atau Neofobia? Ini Kata Pakar

Anak Pilih-Pilih Makanan, Picky Eater atau Neofobia? Ini Kata Pakar
Pexels/cottonbro studio
  • Neofobia makanan adalah rasa takut atau enggan mencoba menu baru, merupakan fase perkembangan normal yang umumnya memuncak pada usia 2–6 tahun sebagai respons protektif alami.
  • Picky eater berbeda karena anak menolak makanan yang sudah dikenal, sering dipengaruhi sensitivitas terhadap bau, rasa, atau tekstur; masih wajar bila ada pilihan pengganti dari tiap kelompok gizi.
  • Konsultasi ke dokter anak diperlukan bila penolakan mencakup kelompok nutrisi tanpa pengganti, disertai takut ekstrem atau gangguan pertumbuhan; pendekatannya adalah jadwal makan konsisten, porsi kecil, dan suasana tanpa tekanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Fenomena anak pilih-pilih makanan, seringkali membuat Mama cemas dan menganggap jam makan anak sebagai arena "drama" ya. Ketika si Kecil enggan menyentuh isi piringnya, prasangka utama biasanya tertuju pada label Picky Eater.

Padahal, penolakan makanan pada anak tidak selalu disebabkan oleh sifat pemilih, lho, Ma.

Melalui konten edukasi di akun Instagram miliknya, @citra_amelinda dokter spesialis anak dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes menjelaskan bahwa ada pula kondisi Neofobia makanan, fase di mana perkembangan yang memicu rasa takut alami pada menu baru.

Meskipun terlihat mirip, ternyata Picky Eater dan Neofobia memiliki perbedaan mendasar, baik dari penyebab maupun cara penanganannya, lho, Ma.

Memahami perbedaan kedua kondisi ini sangat penting, ya, Ma. Supaya dapat mendeteksi kapan perilaku anak pilih-pilih makanan ini masih tergolong fase perkembangan normal atau membutuhkan pertolongan dokter anak. Berikut sudah Popmama.com rangkuman informasi selengkapnya. Disimak ya Ma?!

  1. Mengenal Neofobia: Ketika Anak Takut Mencoba Makanan Baru

    Bedanya Picky Eater dan Neofobia, Neofobia takut berlebihan yang dirasakan anak saat mencicipi makanan baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya
    Pexels/Pavel Danilyuk

    Neofobia makanan (Food Neophobia) merupakan respon enggan atau takut berlebihan yang dirasakan anak saat mencicipi makanan baru yang belum pernah ia kenal sebelumnya.

    Dokter spesialis anak dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes menjelaskan bahwa Neofobia sebenarnya adalah bagian dari fase perkembangan yang normal pada anak.

    Secara biologis, kondisi ini bertindak sebagai mekanisme pertahanan tubuh untuk mencegah si Kecil menelan asupan yang berpotensi berbahaya saat ia mulai aktif menjelajah lingkungan tanpa pengawasan penuh orangtua.

    Hal ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Appetite "Food Neophobia in children: Evolution, Determinants, and Behavioral Approaches". Studi tersebut membuktikan bahwa neofobia memuncak pada usia 2–6 tahun sebagai bentuk perlindungan diri alaminya. Oleh karena itu, penolakan pada menu baru di usia balita bukanlah tanda anak "nakal" atau sekadar pemilih, melainkan respons protektif bawaan yang lambat laun akan mereda seiring bertambahnya usia dan pembiasaan.

  2. Memahami Picky Eater: Penolakan Terhadap Makanan yang Sudah Dikenal

    Bedanya Picky Eater dan Neofobia, Picky Eater menolak makanan yang sebenarnya sudah pernah dimakan
    Pexels/Михаил Казаченко

    Berbeda dengan Neofobia, Picky Eater merujuk pada kecenderungan anak yang menolak makanan yang sebenarnya sudah sering ditemui atau pernah dimakan sebelumnya.

    Anak Picky Eater biasanya menolak atau menghindari asupan tertentu akibat keterbatasan atau sensitivitas terhadap bau, rasa, hingga tekstur makanan tersebut.

    Menurut Journal of Nutrition Education and Behavior, picky eating lebih berhubungan dengan preferensi sensorik individual serta dinamika perilaku makan di rumah. Hal ini seperti mungkin anak sangat menyukai mi hari ini, namun tiba-tiba menolaknya minggu depan hanya karena teksturnya terasa sedikit berbeda.

    Mama, meski kerap membuat frustasi, penolakan ini umumnya merupakan bentuk anak mengekspresikan kendali dirinya atas apa yang masuk ke dalam tubuhnya, ya.

    Kuncinya adalah memahami bahwa anak menolak karakteristik makanannya, bukan sengaja memicu konflik di meja makan, Ma.

  3. Picky Eater Normal, saat Ada Variasi Pengganti

    Ciri Picky Eater normal menurut pakar
    Pexels/cottonbro studio

    Perilaku pilih-pilih makanan tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan pada anak, lho, Ma.

    Dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes menjelaskan dalam konten edukasinya bahwa Picky Eater masih dianggap dalam batas wajar apabila anak tetap mau mengonsumsi setidaknya satu jenis makanan pengganti dari setiap kelompok nutrisi utama, seperti karbohidrat, protein, sayur atau buah, dan susu.

    Dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes pun memberikan contoh supaya Mama bisa lebih mudah mengenali tandanya. Sebagai contoh ketika anak menolak nasi di meja makan tetapi ia masih mau makan roti atau mi, maka kebutuhan gizinya sebenarnya masih terpenuhi.

    Hal ini terjadi karena tubuh anak masih menerima asupan makronutrien dan mikronutrien yang cukup dari variasi makanan pengganti yang mau ia terima atau makan.

  4. Kapan Picky Eater Berbahaya? Cek Tandanya

    Tanda bahaya Picky Eater menurut pakar
    Pexels/NEOSiAM 18+

    Mama harus tetap tanggap mengenai penolakan makanan ini, ya.

    Dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes, masih dalam kontennya mengingatkan adanya sinyal bahaya jika anak menolak total satu atau lebih kelompok nutrisi tanpa mau menerima variasi pengganti sama sekali.

    Kondisi ini makin mengkhawatirkan apabila disertai rasa takut ekstrem seperti cemas berlebih, ketakutan tersedak, hingga muntah saat melihat makanan. Dampak yang paling terlihat adalah gangguan pertumbuhan pada anak, Ma. Biasanya ditandai dengan kenaikan berat badan stagnan (growth faltering) atau justru menurun drastis.

    Jurnal Pediatrics dan Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition (JPGN) mengkategorikan penolakan ekstrem ini sebagai indikasi Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID). Jika tanda-tanda ini muncul, Mama disarankan tidak menunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, ya.

  5. Cara supaya Anak Picky Eater Lebih Nyaman saat Makan

    Tips agar anak Picky Eater nyaman saat makan
    Pexels/Andrea Piacquadio

    Mengatasi anak yang pilih-pilih makanan memang membutuhkan pendekatan yang tenang dan konsisten dari Mama ya.

    Dr. Citra, SpA, IBCLC, MKes menyarankan beberapa trik praktis, seperti menerapkan aturan jam makan dengan membatasi waktu makan maksimal 20–30 menit. Cara lainnya supaya anak tidak merasa tertekan sejak awal, Mama bisa menyajikan makanan dalam porsi kecil terlebih dahulu.

    Selain itu, Ellyn Satter Institute menegaskan pentingnya pembagian peran dalam menerapkan aturan makan. Seperti, Mama bertanggung jawab menentukan menu dan waktu makan, sementara anak memegang kendali atas berapa banyak yang ingin ia santap. Dengan menciptakan suasana makan yang bebas tekanan, anak dapat mengeksplorasi makanan dengan lebih nyaman ya Ma.

    Itulah informasi mengenai perbedaan Picky Eater dan Neofobia dari pakar. Bagaimana dengan pengalaman si Kecil di rumah? Apakah ia cenderung menolak menu baru atau hanya memilih makanan tertentu?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More